Advertisement

4 Orang Meninggal Dunia, Dinkes Bantul Waspadai Peningkatan DBD

Ujang Hasanudin
Rabu, 06 Juli 2022 - 12:37 WIB
Bhekti Suryani
4 Orang Meninggal Dunia, Dinkes Bantul Waspadai Peningkatan DBD Ilustrasi - Pixabay

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL-Dinas Kesehatan Bantul mewaspadai kemungkinan adanya peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tahun ini. Sampai pertengahan tahun Dinas Kesehatan mencatat sudah ada 555 kasus DBD di Bumi Projotamansari. Jumlah tersebut melebihi angka selama setahun di tahun lalu sebanyak 411 kasus.

Periode yang sama atau Januari-Juni di 2021 hanya ada 138 kasus. Sementara tahun ini Januari-Juni 555 kasus. dari jumlah tersebut empat orang di antaranya meninggal dunia yang diduga karena penyakit yang disebabkan nyamuk aedes aegypti, “Ada dugaan empat orang [meninggal karena DBD] tapi masih dalam proses audit penyebab kematian [apakah benar karena DBD atau bukan],” ujar Kepala Seksi Penyendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bantul, Abednego Dani Nugroho, Rabu (6/7/2022).

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

Abednego mengatakan periode tahun ini kasus DBD tertinggi di awal-awal tahun. Ia menduga tahun ini masuk siklus lima tahunan DBD yang tertunda. Seharusnya siklus lima tahunan DBD terjadi pada 2021 lalu, namun karena bersamaan pandemi Covid-19 yang tinggi-tingginya sehingga masyarakat tidak memeriksakan diri ke rumah sakit karena ada kekhawatiran Covid-19.

“Yang pasti memang ini masuk di musim periode tinggi, yaitu di awal-awal tahun. Kemudian memang ini masuk di periode lima tahunan walau pun delay. Karena di tahun kemarin terjadi ledakan pandemi Covid-19,” ujar Abednego.

BACA JUGA: Singgung Kerusuhan Babarsari, Sultan: Semua Harus Bisa Menyesuaikan dengan Budaya Setempat

Lebih lanjut pria yang akrab disapa Abed ini mengatakan berdasarkan analisi epidemiologi mungkin tidak ada hubungannya antara DBD dan Covid-19. Namuns secara sosial, kata dia, bisa berhubungan dengan perilaku masyarakat yang cenderung tidak memeriksakan diri ke rumah sakit saat terjadi ledakan Covid-19 tahun lalu.

Menurut dia, kasus DBD tertinggi terjadi pada 2016 lalu. Berdasarkan catatan Harian Jogja kasus DBD pada 2016 mencapai 2.441 kasus dalam setahun, empat orang di antaranya meninggal dunia. Tahun berikutnya kembali menurun sebanyak 538 kasus pada 2017, dan 2018 sampai 182  kasus. Sementara di 2019 ada 1.424 kasus DBD. Dari jumlah tersebut, empat di antaran meninggal dunia.

Pada 2020 kasus DBD juga tinggi mencapai 1.222. dari jumlah tersebut empat di antaranya mengalami kematian yakni dua kasus di wilayah Sewon, dan masing-masing satu kasus di wilayah Banguntapan dan Kasihan. Pada 2021 ada 411 kasus.

Advertisement

“Jadi tahun ini kita mewaspadai peningkatan kasus DBD sesuai siklus lima tahunan,” tandas Abed.

Kepala Bidang Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit, Dinas Kesehatan Bantul, Sri Wahyu Joko Santoso, sebelumnya mengatakan kasus DBD di Bantul kerap menempati rangking tertinggi dibanding kabupaten dan kota lainnya di DIY. Berbagai upaya terus dilakukan untuk menekan kasus DBD mulai dari sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), pemberantasan sarang nyamuk atau PSB, hingga penerapan teknologi  aedes aegypti ber-Wolbachia yang mulai diimplementasikan akhir-akhir ini.

Pria yang akrab disapa Oki ini menyebutkan ada sekitar 19.437 ember berisi telur nyamuk ber-wolbachia yang dititipkan di hunian masyarakat dan fasilitas umum yang akan  menjadi orang tua asuh (OTA) ember tersebut. Selama kurang lebih enam bulan ke depan harapannya nyamuk ber-Wolbachia yang keluar dari ember tersebut akan kawin dengan nyamuk lokal dan menghasilkan keturunan yang sudah ber-wolbachia dan membuat virus dengue mati atau sudah tidak efektif.

Advertisement

Selain dengan implementasi teknologi Wolbachia, sebagai upaya pencegahan DBD, upaya kuratif yang dilakukan adalah dengan memastikan penanganan kasus DBD dengan baik, agar kasus kematian bisa diminimalkan, “Di setiap Puskesmas di Bantul difasilitasi reagent, sehingga bisa mendeteksi kasus DBD jika ada pasien yang mengalami demam lebih dari dua hari,” ujar Oki.

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Piala Dunia 2022

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Polisi Telah Temukan Penyebab Kematian Misterius Keluarga di Kalideres

News
| Senin, 05 Desember 2022, 20:17 WIB

Advertisement

alt

Jangan Sampai Salah, Hotel 26 Lantai di China Ini Khusus untuk Babi

Wisata
| Minggu, 04 Desember 2022, 20:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement