Advertisement

Disbud DIY Gelar Upacara Daur Hidup Panggih Pengantin Gaya Yogyakarta

Abdul Hamied Razak
Jum'at, 15 Juli 2022 - 07:37 WIB
Sirojul Khafid
Disbud DIY Gelar Upacara Daur Hidup Panggih Pengantin Gaya Yogyakarta Kegiatan Gelar Upacara Daur Hidup Panggih Pengantin Gaya Yogyakarta, Kamis (14/7) di Grha Sarina Vidi, Sleman. - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY menggelar Upacara Daur Hidup Panggih Pengantin Gaya Yogyakarta. Acara yang juga bekerja sama dengan DPD Harpi Melati DIY dan Paguyuban Panatacara Yogyakarta ini berlangsung Kamis (14/7/2022) di Grha Sarina Vidi, Sleman.

Didukung oleh Dana Keistimewaan (Danais), acara dibuka oleh Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Adat, Tradisi, Lembaga Budaya dan Seni Dinas Kebudayaan DIY, Yuliana Eni Lestari Rahayu mewakili Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi.

Gelar Upacara Daur Hidup Panggih Pengantin Gaya Yogyakarta bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat agar mendapatkan pengetahuan yang baku tentang adat istiadat pengantin gaya Yogyakarta. "Dinas Kebudayaan memiliki tanggungjawab besar untuk melestarikan adat istiadat ini, dan berkewajiban untuk menginformasikan kepada masyarakat," katanya saat membuka kegiatan.

PROMOTED:  Resmikan IKM di Umbulharjo, Dinas Perinkopukm Jogja Berharap IKM Naik Kelas

BACA JUGA: Keren! Petani di Wilayah Sleman Ini Semprot Padi Pakai Drone

Gelaran tersebut dilaksanakan bukan tanpa alasan. Menurutnya, pernikahan merupakan salah satu cita-cita dan impian bagi banyak orang. Namun di era modern seperti sekarang, berbagai pesta pernikahan sebagai perayaannya telah banyak berkembang. "Banyak pasangan yang lebih memilih prosesi pernikahan modern karena dirasa lebih praktis. Walau tak jarang pula yang tetap menggunakan adat," katanya.

Upacara panggih merupakan salah satu dari sekian rangkaian acara adat khas jawa yang jarang dilewatkan oleh pengantin Jawa. Selain untuk melestarikan tradisi, kegiatan tersebut juga diharapkan dapat menggali wawasan dan pengetahuan bagi masyarakat. Tahun depan, Disbud DIY juga berencana untuk mencetak buku tutorial tata rias dan panggih pengantin yang dibakukan.

"Seiring dengan perkembanhan zaman dan kemajuan teknologi, semoga gelaran ini bisa memberikan bekal pengetahuan dan informasi tentang upacara Panggih Pengantin Gaya Yogyakarta yang sudah dibakukan," katanya.

Ketua DPD Harpi 'Melati' DIY, Listiani Sintawati, mengatakan kegiatan tersebut penting untuk menyosialisasikan tata upacara Adat Panggih Pengantin Gaya Yogyakarta. "Yang dipikirkan saat ini bukan hanya generasi sepuh tetapi generasi muda. Apalagi saat ini banyak make-up art, padahal make-up art di Yogyakarta berbeda dengan make-up art di luar Yogyakarta," katanya.

BACA JUGA: Ingin Kuliah di UNY dan UIN Jogja, Berapa Biayanya?

Advertisement

Make-up atau perias pengantin di Yogyakarta, lanjut Listiani, kental dengan budaya dan upacara adat. Mereka juga melakukan tata adat dan tradisi Panggih Pengantin. "Perias pengantin juga bertugas menata prosesi adat ini. Yang muda-muda bisa belajar dari sini. Ini sangat penting karena di Yogyakarta kental dengan kebudayaan yang tentunya bersumber dari Karaton Nyayogyakarta Hadiningrat," katanya.

Ada sejumlah prosesi adat Daur Hidup Panggih Pengantin Gaya Yogyakarta tersebut. Mulai dari Sanggan Panebus Panggih atau Penyerahan Pisang Sanggan, Kepyok Kembar Mayang atau Singkir Sekolo, Balangan Gantal atau melempar sirih, Ramupada atau membasuh kaki.

Selain itu, Wiji dadi di mana mempelai pria membantu mempelai perempuan untuk berdiri, dan setelah kedua mempelai berhadapan, juru perias mengambil telur dan diusapkan ke dahi kedua mempelai kemudian dipecahkan. Prosesi dilanjutkan dengan Kirab di mana kedua mempelai berdiri berjajar untuk berjalan menuju pelaminan.

Advertisement

Selanjutnya, Tampa kaya berupa kacang kawak, dhele kawak, jagung kawak, wos jenar (beras kuning) dan uang logam. Dilanjutkan Dhahar klimah yakni nasi kuning dengan lauk pindhang ati antep dan prosesi diakhiri dengan Sungkeman, untuk menunjukkan dharma bakti bagi kedua mempelai kepada Bapak Ibu pengantin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Top 7 News Harianjogja.com Jumat, 7 Oktober 2022

News
| Jum'at, 07 Oktober 2022, 07:09 WIB

Advertisement

alt

Satu-satunya di Kabupaten Magelang, Wisata Arung Jeram Kali Elo Terus Dikembangkan

Wisata
| Kamis, 06 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement