Advertisement

Pengamat: Awal Tahun Ajaran Jadi Momentum Maraknya Perundungan

Sunartono
Minggu, 24 Juli 2022 - 20:07 WIB
Arief Junianto
Pengamat: Awal Tahun Ajaran Jadi Momentum Maraknya Perundungan Ilustrasi. - Harian Jogja

Advertisement

Hariajogja.com, JOGJA -- Kasus bullying atau perundungan yang terjadi di sekolah seringkali tidak terungkap dan tidak permah dilaporkan. Untuk itu, sekolah diminta berkomitmen memegang teguh mencegah tindakan yang berpotensi terjadinya perundungan.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Kota Jogja, Sylvi Dewajani memperkirakan kasus perundungan pada anak sebenarnya cukup banyak akan tetapi tidak dilaporkan sehingga jarang muncul ke permukaan.

Kasus bullying ini ada beragam jenis, mulai dari antarsiswa, dari guru ke siswa, dari sekolah ke siswa dan bentuk lain dengan objek siswa sebagai korban. Seharusnya perundungan bisa dilaporkan ke pihak terkait sehingga bisa ditindaklanjuti agar tidak berkepanjangan.

"Banyak sebenarnya tetapi tidak terlapor [dilaporkan], karena yang dilaporkan biasanya yang kekerasan. Seharusnya memang semuanya terlapor," katanya Minggu (24/7/2022).

BACA JUGA: Komisi Irigasi DIY Susun Rencana Tata Tanam Tahun 2022/2023

Dia mengatakan masa awal tahun ajaran baru seperti pelaksanaan MPLS di setiap sekolah bisa menjadi momentum tepat dalam menanamkan kepada siswa baru tidak melakukan perundungan kepada temannya.

Tak hanya itu di awal tersebut orangtua diminta agar selalu menekankan pada anak agar tidak melakukan bullying. Terkait dengan pencegahan perundungan ini telah ada Permendikbud No.82/2015 sebagai rambu untuk penanganan bullying atau berbagai praktik kekerasan yang muncul.

"Untuk kasus bullying ini memang perlu promosi kesadaran di sekolah, baik pada guru, siswa dan komite sekolah," ujarnya.

Berdasarkan data Program for International Student Assessment (PISA) 2018, Indonesia termasuk urutan kelima negara dengan persentase terbesar siswa mengalami perundungan, yakni sebesar 41,1%. Adapun persentase lokasi terjadinya perundungan terjadi di sekolah.

Menurutnya di Kota Jogja seharusnya semua sekolah sudah antiperundungan karena sebagian besar sudah mendeklarasikan sebagai sekolah ramah anak (SRA). Salah satu prinsip SRA adalah bebas dari bullying.

Advertisement

"Kalau sekolah ramah anak harusnya sudah tidak ada bullying. Karena sekolah ini memiliki karakteristik warga sekolah anti terhadap segala bentuk kekerasan termasuk verbal dan anak belajar dengan aman, nyaman serta diperlakukan adil," katanya.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Streaming Starjoja FM
alt

Istri di China Menuntut Selingkuhan Suaminya Senilai Rp8,2 Miliar

News
| Senin, 15 Agustus 2022, 23:17 WIB

Advertisement

alt

Tiket Masuk Borobudur dan Pulau Komodo Naik, Sandiaga Uno: Tidak Semua Tiket Destinasi Naik!

Wisata
| Senin, 15 Agustus 2022, 23:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement