Advertisement

Alih Fungsi Lahan, Jumlah Petani Tembakau DIY Turun 5% per Tahun

Sunartono
Selasa, 09 Agustus 2022 - 11:27 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
Alih Fungsi Lahan, Jumlah Petani Tembakau DIY Turun 5% per Tahun Seorang petani di Dusun Bulungasem, Desa Selomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman sedang merawat tanaman tembakau miliknya. Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA--Alih fungsi lahan yang terjadi secara masif di wilayah DIY membuat jumlah petani menurun. Kondisi ini juga terjadi pada petani tembakau yang ikut beralih ke profesi lain. 

Ketua Asosiasi Petani Tembakau DIY Triyanto menjelaskan cepatnya alih fungsi lahan pertanian ke sektor lain di wilayah DIY memang bukan isu baru. Kondisi lahan pertanian berubah menjadi perumahan, pabrikan dan beragam sektor industri lainnya terjadi selama beberapa tahun terakhir, terutama di wilayah Sleman. 

“Jadi posisi saat ini lahan semakin sempit, maka dampaknya jumlah petani seperti petani tembakau juga menurun,” katanya dalam diskusi dengan serikat pekerja rokok, Senin (9/8/2022). 

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Ia mengungkap pada posisi saat ini jumlah petani tembakau di DIY berada di angka 15.000 orang, sebanyak 5.000 di antaranya berada di wilayah Sleman. jumlah itu menurun setiap tahun dengan rata-rata penurunan sekitar 5%. Ia mencontohkan kawasan Sleman di wilayah timur sebelumnya banyak ditanami tembakau, akan tetapi saat ini sudah beralih menjadi industri pabrik plastik hingga pabrik kayu lapis. 

“Selain jumlah petani berkurang, lahan pertanian tembakau juga terus menurun setiap tahun. Bahkan penurunannya di angka 20 persen hingga 25 persen. Karena dialihfungsi jadi kawasan industri dan perumahan tadi,” ujarnya. 

Baca juga: Perokok Dewasa Punya Hak Pakai Produk Tembakau Alternatif

Selain itu penyebab lain karena harga tembakau yang terus menurun. Bahkan rata-rata petani yang menanam tidak balik modal alias merugi. Berbeda dengan medio antara 2010 hingga 2012 harga tembakau bisa mencapai Rp300.000 per kilogram. Tetapi pada 2021 ini harga per kilogramnya Rp70.000. “Maka para petani ini beralih profesi juga dari sebelumnya menanam tembakau karena rugi, maka saat ini jadi ikut proyek seperti jadi pekerja kasar,” katanya. 

Ketua Forum Serikat Pekerja Rokok DIY Waljid Budi Lestarianto menambahkan kondisi penurunan itu tidak hanya terjadi pada petani namun juga pekerja pabrik rokok. Hal ini dipicu adanya kenaikan cukai sehingga pabrik memilih untuk mengurangi karyawan. Ia memperkirakan akan terjadi PHK buruh pabrik di DIY sekitar 1.200 orang akibat kenaikan cukai. Saat ini jumlah buruh rokok di DIY sekitar 5.000 orang. 

“Karena berdasarkan adanya kenaikan cukai 10 persen ada 1.000 buruh rokok yang di-PHK, jadi kalau terus naik ya pekerja juga pasti menyusut. Selain adanya kampanye anti rokok, perda kawasan tanpa rokok. Ekosistem pertembakauan ini dalam kondisi kurang baik,” ujarnya.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Terinspirasi Bung Tomo & Soedirman, Warga Ukraina Siap Mati

News
| Selasa, 27 September 2022, 15:27 WIB

Advertisement

alt

Suka Liburan, Yuk Patuhi 5 Etika Saat Berwisata

Wisata
| Senin, 26 September 2022, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement