Kekerasan Daycare Jogja, 53 Anak Jadi Korban, Pemda DIY Turun Tangan
53 anak jadi korban kekerasan daycare di Jogja, Pemda DIY beri pendampingan dan dorong penegakan hukum.
Sejumlah siswa mengikuti simulasi gempa bumi di SDN Bakulan, Bantul, Sabtu (13/8/2022)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, BANTUL–Dinas Sosial DIY melalui Taruna Siaga Bencana (Tagana) menggalakkan program Sahabat Tagana Junior Istimewa Yogyakarta (Satriyo) untuk membekali siswa SD tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana dan adaptasi terhadap kondisi bilamana berada di pengungsian.
Program ini merupakan pengembangan dari Tagana Masuk Sekolah (TMS), dengan menggandeng salah satu sekolah di Bantul, yakni SDN Bakulan, Kapanewon Jetis. Sebanyak 30 siswa dari kelas 3, 4 dan 5 ditunjuk menjadi Satriyo di sekolah tersebut.
BACA JUGA: Penelitian: Air Hujan di Kota Jogja Tercemar Mikroplastik, Paling Parah di Tugu
Pengarah Satriyo, Budi Utomo Musdewanto, menjelaskan 30 siswa tersebut dilatih lebih tentang pengurangan resiko bencana dengan mengenal lingkungan sekitar terhadap potensi ancaman bencana, cara melindungi diri dan cara meminta tolong. Pelatihan diawali dengan penanaman kedisiplinan melalui pengenalan dasar baris berbaris dan yel-yel, kemudian menuangkan gambaran kondisi sekolah dan lingkungan ke dalam kertas serta mengenalkan rambu jalur evakuasi dan titik kumpul.
"Ada juga mengenalkan cara melindungi diri dan alat perlindungan diri. Mengenalkan cara meminta tolong dengan isyarat tubuh maupun dengan peralatan yang ada di sekitarnya. Mengenalkan berbagai piranti dukungan dalam penanggulangan bencana," ujarnya, Sabtu (13/8/2022).
Puncaknya adalah pelaksanaan simulasi bencana gempa bumi pada Sabtu (13/8/2022). Semua siswa melakukan simulasi dari belajar di kelas masing-masing, lalu terjadi gempa bumi, berlindung di tempat aman di dalam kelas, dan keluar kelas saat situasi aman.
Berbeda dengan kesiapsiagaan orang dewasa, anak-anak sebatas diarahkan untuk menyelamatkan diri sendiri terlebih dahulu, mendata teman-temannya dan meminta pertolongan bila diperlukan.
"Kami tidak membebani siswa SD untuk melakukan suatu tindakan. Intinya dia bisa menyelamatkan diri sendiri, membantu temannya dan bisa meminta tolong. Kalau yang SMP-SMA bisa ditambah penanganan pertolongan pertamanya," ungkapnya.
BACA JUGA: Berburu Kuliner di Sumbermulyo, Bantul? Ganjuran Food Court Saja
Program Satriyo diharapkan menjadi pemicu bagi sekolah untuk dapat menjaganya agar tetap berkelanjutan. Pelatihan terus-menerus dan regenerasi diperlukan karena bencana bisa terjadi kapan saja.
Guru Kelas 5 SDN Bakulan, Ani Rohayati, mengatakan program Satriyo sangat bermanfaat untuk para siswa. "Anak-anak menjadi tangguh, mandiri dan percaya diri. Semoga bermanfaat untuk kami dan menjadi sekolah yang tanggap bencana," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
53 anak jadi korban kekerasan daycare di Jogja, Pemda DIY beri pendampingan dan dorong penegakan hukum.
Pemerintah menyiapkan skema pendanaan bioetanol untuk mendukung penerapan E10 pada 2027 tanpa membebani konsumen dan tetap menguntungkan petani.
BPBD Bantul telah menyalurkan 436.500 liter air bersih kepada 3.287 warga terdampak kekeringan selama musim kemarau hingga 3 Agustus 2026.
Lloyd's Market Association menyatakan kapal yang membayar tol Selat Hormuz kepada Iran berisiko kehilangan perlindungan asuransi.
Dana Brata membangun Bengkel Bebek Restorasi dari garasi kecil di Sleman. Usahanya membiayai kuliah hingga lulus sarjana dan membuka lapangan kerja.
Banyumas dan Kota Ipoh Malaysia menjajaki kerja sama pengelolaan sampah melalui pertukaran teknologi dan konsep zero waste to money.