Advertisement

TBY Kembali Gelar Nandur Srawung ke-9, Angkat Tema Matrix/Mayapada

Yosef Leon
Senin, 10 Oktober 2022 - 14:37 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
TBY Kembali Gelar Nandur Srawung ke-9, Angkat Tema Matrix/Mayapada Prosesi tumpengan pra acara pameran Nandur Srawung ke-9 di TBY, Senin (10/10 - 2022). Dok ist

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA - Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada tahun ini kembali menyelenggarakan pameran tahunan Nandur Srawung yang ke-9. Pameran yang telah dimulai sejak 2014 lalu ini nantinya akan dipusatkan di TBY pada 16 sampai 22 Oktober. 

Tahapan pameran Nandur Srawung telah dimulai sejak awal Oktober lalu. Di mana beberapa seniman mengerjakan karya seninya yang nanti akan dipamerkan dalam acara itu. Tahapan ini disebut dengan Nandur Gawe yang diadakan di sejumlah tempat. 

Advertisement

Selanjutnya pada Senin (10/10/2022) diadakan acara tumpengan yang diikuti oleh seluruh panitia, kurator dan perwakilan seniman. Tahapan ini sekaligus mempersiapkan sejumlah karya yang nantinya akan ditampilkan dalam pameran Nandur Srawung

"Hari ini kita ada tumpengan sebelum masuk ke galeri displai. Jadi mulai 10 Oktober sampai 15 Oktober itu kita loading karya dan segala kebutuhan display semacam panel, dan lainnya sampai sebelum acara," kata Ketua Panitia Nandur Srawung, Bayu Adiwijaya. 

Bayu menjelaskan, kurang lebih ada sebanyak 200 seniman individu dan kelompok yang berpartisipasi dalam pameran ini. 10 diantaranya bahkan berasal dari luar negeri seperti Korea Selatan, Rusia, India, Amerika Serikat, Australia, Prancis, Austria, Rusia, Meksiko dan Jerman. 

"Nanti akan dibuka pada 16 Oktober mulai pukul 7 malam dan berlangsung sampai 22 Oktober. Selama pameran berlangsung kita ada program-program seperti artist talk, diskusi dan seminar serta yang lainnya," kata Bayu. 

Pada tahun ini penyelenggaraan Nandur Srawung tidak lagi dengan pembatasan seperti yang diadakan sewaktu pandemi. Acara terbuka untuk umum dan gratis namun tetap harus mematuhi protokol kesehatan. 

"Tema yang kita angkat tahun ini adalah Matrix/Mayapada. Objek seni yang ditampilkan nanti ada lukisan, patung, video, instalasi seni, kriya dan ada banyak lagi," ungkapnya. 

Tim kurator Nandur Srawung dalam catatannya menyebut, gagasan pokok pameran ini berangkat dari konsep Matrix dan Mayapada sebagai ajakan untuk melakukan pembacaan atas simulakra (jamak). Gagasan ini diharapkan mampu menjaring banyak kalangan/segmen peserta, dari yang manual sampai digital.

Ragam karya yang tampil diharapkan dapat mengakomodasi berbagai metode penciptaan dalam seni rupa kontemporer, seperti seni lukis, grafis, patung, media baru, seni aktivitas, dan lainnya. Seniman melalui karya-karyanya melakukan re-enkripsi (pembacaan ulang atas kode-kode dan simbol) dan interogasi terhadap sistem dan produk seni tradisi. 

Dalam kaitan dengan penggunaan teknologi media baik dalam persoalan sistem bahasa maupun dalam skala persebaran karya, seni bisa dipakai untuk meretas jaringan yg disediakan oleh teknologi guna menggapai hidup harmoni, yang disediakan oleh memori kolektif (tradisi) sebagai modal sosial dan budaya. 

Seniman dapat melakukan re-inskripsi (menulis ulang) tradisi dan meretasnya memasuki kehidupan modern di mana manusia harus bersaing dengan mesin cerdas dalam bentuk data yang mereka produksi sendiri sehingga menjadi sebuah realitas. Kurasi ini juga memberikan peluang bagi munculnya karya-karya dalam perspektif estetika non-binary dan disabilitas yang memiliki sistem kode berbeda dengan cara pandang dominan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Sapi Kurban Presiden Jokowi dari Bone Bernama Turbo, Milik Anggota TNI

News
| Sabtu, 15 Juni 2024, 22:07 WIB

Advertisement

alt

Makan Murah di Jogja: Berburu Street Food di Kotabaru

Wisata
| Minggu, 09 Juni 2024, 20:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement