Advertisement

Berawal dari Iseng, Perempuan Jogja Ini Mampu Ekspor Gamis Syar'i ke Berbagai Negara

Sunartono
Sabtu, 26 November 2022 - 23:47 WIB
Bhekti Suryani
Berawal dari Iseng, Perempuan Jogja Ini Mampu Ekspor Gamis Syar'i ke Berbagai Negara Desainer Lastri Megalanti yang mengawali usaha di bidang konveksi dari iseng di sela-sela mengikuti perhelatan Seni Kriya 2022 di Jogja. - Harian Jogja/Sunartono.

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA--Semangat wirausaha memang bisa muncul kapan saja, akan tetapi yang terpenting adalah memulai. Ada beberapa pelaku usaha yang sukses hanya berawal dari aktivitas menganggur alias iseng untuk berjualan.

Seperti yang dialami Lastri Megalanti seorang desainer yang kini menggeluti busana gamis syar’i dan berhasil mengekspor ke sejumlah negara. Ia menceritakan aktivitas berdagang dimulai dari iseng saat ia menjadi ibu rumah tangga yang hanya mengurus anak.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

“Saya memulai 2015, waktu itu suami kerja seringnya di luar kota, saya kan di rumah hanya ngurus anak, lalu iseng berjualan pakaian saya beli jual lagi, ternyata banyak yang berminat,” katanya saat ditemui di sela-sela pelaksanaan Seni Kriya Jogja 2022 belum lama ini.

BACA JUGA: Menyatu dengan Code, Pria Ini Bertekad Merawat Peradaban

Setelah proses berjualan berjalan lancar, ia kemudian memberanikan diri untuk memproduksi pakaian dan membuat brand sendiri. Akan tetapi bukan perkara mudah, banyak kendala yang dihadapi mulai sulitnya mencari orang yang tepat untuk produksi. Karena tidak memiliki basis pengetahuan desain yang cukup untuk membuat gamis syar’i. Sehingga pembuatan desain pun diawali dengan model sederhana namun ia berinovasi melalui motif. Selain itu produksi pun sempat ikut ke tempat orang lain.

“Kendalanya cukup banyak, seperti printing saat produksi awal-awal itu sering gagal, tetapi saya terus mencoba. Waktu itu mesin jahit seperti apa itu tidak tahu sama sekali, tetapi sama pelajari konveksi” katanya.

Ia sengaja memilih fokus pada produksi gamis syar’i dengan pertimbangan karena banyak yang menggunakan dengan jumlah populasi cukup tinggi. Beruntungnya saat itu model pakaian tersebut sedang trending tergolong baru. Selain itu belum banyak pelaku usaha yang memproduksi model baju ini pada medio 2015.

“Sehingga waktu itu langsung banyak diterima oleh konsumen melalui brand Megawarni Ori, sampai sekarang memiliki karyawan sekitar 80 orang,” katanya.

Bahkan saat ini produksi cenderung keteteran saking banyaknya permintaan dengan rata-rata yang terjual antara 300 sampai 500 potong pakaian gamis syar’i. Konsumen yang memesan dari Sabang sampai Merauke. Adapun dari luar negeri sudah ekspor ke beberapa negara, bahkan ia terpaksa menolak permintaan dari Afrika karena menginginkan dikirim 4.000 potong dalam sebulan. Setiap pekan membuat sekitar empat desain dengan menyesuai tren.

“Kalau luar negeri itu [ekspor ke] Qatar, Abu Dhabi, Malaysia, Singapura, Taiwan, Hongkong dan lain-lain. Dari Afrika kami menolak karena permintaan tinggi, padahal bordir itu manual jadi produksi lebih lama,” kata wanita berusia empat tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Begini Cara Pangeran Arab Saudi Nikmati Kekayaan

News
| Senin, 06 Februari 2023, 22:07 WIB

Advertisement

alt

Kunjungan Malioboro Meningkat, Oleh-oleh Bakpia Kukus Kebanjiran Pembeli

Wisata
| Senin, 06 Februari 2023, 10:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement