Advertisement

Melihat Perajin Jemparingan, Produsen Peralatan Olahraga Khas Mataram

Yosef Leon
Rabu, 07 Desember 2022 - 06:27 WIB
Budi Cahyana
Melihat Perajin Jemparingan, Produsen Peralatan Olahraga Khas Mataram Sejumlah peralatan jemparingan yang diproduksi oleh komunitas Jemparingan Hantu Maut, Keparakan, Selasa (6/12/2022). - Harian Jogja/Yosef Leon

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Perajin jemparingan di Jogja mulai bermunculan seiring dikenalnya olahraga ini di kalangan masyarakat. Peminatnya yang terbatas dari kalangan pehobi membuat peralatan olahraga ini dibanderol mahal. Selain itu, belum banyaknya perajin jemparingan yang ada di Jogja.

Perajin jemparingan asal Keparakan, Mergangsan, Budi Triono, mengatakan kebanyakan komunitas dan pehobi jemparingan biasanya membeli peralatan dari wilayah Klaten dan Solo. Di daerah itu memang terdapat sentra khusus yang memproduksi peralatan jemparingan. Sejak 2017, dia kemudian memutuskan untuk memproduksi peralatan jemparingan secara mandiri. 

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

"Awalnya kami buat yang busur atau gendewa. Sekarang kami sudah buat juga untuk anak panahnya," kata Budi, Selasa (6/12/2022). 

Busur dan anak panah yang digunakan dalam jemparingan dibuat dari bahan bambu dan kayu. Bambu yang digunakan merupakan jenis petung lantaran lebih tebal sehingga saat dibubut lebih tahan dan kuat. Dia mulai memproduksi anak panah pada tahun ini setelah mendapatkan bantuan peralatan dari pemerintah. 

"Alat yang untuk membuat anak panah memang cukup mahal, makanya baru tahun ini baru bisa kita buat. Bahannya bambu petung karena lebih kuat, jadi sewaktu dibubut itu tidak pecah," ucap dia.

Budi menyebut pembuatan anak panah jemparingan membutuhkan keterampilan khusus lantaran perajin harus mengukur akurasi, berat, dan presisinya saat dilepaskan. Sementara, bagian tengah gendawa yang biasa disebut cengkolak menggunakan kayu dan pada bagian sayap atau disebut lar baru menggunakan bambu. Produksi peralatan itu sepenuhnya dilakukan oleh para anggota Jemparingan Hantu Maut.

"Setiap tahap itu ada sendiri yang membuat. Misalnya untuk membubut satu orang, proses pewarnaan sendiri dan juga pemasangan stiker," ungkapnya. 

Dalam sepekan, dia mampu memproduksi satu lusin anak panah yang dibanderol seharga Rp200.000 sampai Rp300.000 per setengah lusin. Sementara, gendewa dijual Rp450.000 sampai Rp500.000 untuk harga terendah dan bisa mencapai Rp1,5 juta atau bahkan Rp5 juta untuk yang paling mahal. 

BACA JUGA: Kaesang Effect, Rental Mobil Mewah di Jogja Kebanjiran Pesanan

"Tapi bisa juga pakai bambu yang tipis, dibuat gaplok atau dua bambu disatukan, malah yang mahal itu gaplok tiga. Jadi engkel itu satu bambu satu anak panah, ada yang empat bambu disatukan dibubut jadi satu anak panah. Jadi lebih sulit dipres dan presisinya makanya mahal. Harus sama dan ditimbang itu beratnya. Pembuatannya juga disesuaikan misalnya pas musim angin dibuat agak berat biar sesuai," jelasnya. 

Perlakuan terhadap peralatan jemparingan juga harus dirawat telaten agar tidak gampang rusak. Sehabis latihan biasanya anak panah dan busurnya dijemur dulu agar tidak terlalu basah saat disimpan. Dengan begitu, peralatan akan tetap awet dan tahan lama saat digunakan.  

"Itu pengaruh sama daya tahannya. Sehabis latihan itu mesti diangin-anginin. Supaya kering, kalau musim hujan itu habis dipakai jangan dimasukkan ke tempat tertutup nanti cepat rusak, perawatannya mesti gitu," ujar dia. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

AP I Mengaku Belum Terima Info soal Pengurangan Jumlah Bandara Internasional

News
| Selasa, 07 Februari 2023, 10:47 WIB

Advertisement

alt

Ikuti Post-tour ATF, Banyak Peserta Terkesan dengan Objek Wisata DIY

Wisata
| Selasa, 07 Februari 2023, 10:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement