Keracunan MBG di Jetis, Dinkes Bantul Temukan Bakteri Bacillus sp dalam Galantin
Dinkes Bantul menemukan bakteri Bacillus sp pada menu bistik galantin dalam kasus keracunan MBG di Jetis yang menimpa 53 orang.
Sejumlah peralatan jemparingan yang diproduksi oleh komunitas Jemparingan Hantu Maut, Keparakan, Selasa (6/12/2022)./Harian Jogja-Yosef Leon
Harianjogja.com, JOGJA—Perajin jemparingan di Jogja mulai bermunculan seiring dikenalnya olahraga ini di kalangan masyarakat. Peminatnya yang terbatas dari kalangan pehobi membuat peralatan olahraga ini dibanderol mahal. Selain itu, belum banyaknya perajin jemparingan yang ada di Jogja.
Perajin jemparingan asal Keparakan, Mergangsan, Budi Triono, mengatakan kebanyakan komunitas dan pehobi jemparingan biasanya membeli peralatan dari wilayah Klaten dan Solo. Di daerah itu memang terdapat sentra khusus yang memproduksi peralatan jemparingan. Sejak 2017, dia kemudian memutuskan untuk memproduksi peralatan jemparingan secara mandiri.
"Awalnya kami buat yang busur atau gendewa. Sekarang kami sudah buat juga untuk anak panahnya," kata Budi, Selasa (6/12/2022).
Busur dan anak panah yang digunakan dalam jemparingan dibuat dari bahan bambu dan kayu. Bambu yang digunakan merupakan jenis petung lantaran lebih tebal sehingga saat dibubut lebih tahan dan kuat. Dia mulai memproduksi anak panah pada tahun ini setelah mendapatkan bantuan peralatan dari pemerintah.
"Alat yang untuk membuat anak panah memang cukup mahal, makanya baru tahun ini baru bisa kita buat. Bahannya bambu petung karena lebih kuat, jadi sewaktu dibubut itu tidak pecah," ucap dia.
Budi menyebut pembuatan anak panah jemparingan membutuhkan keterampilan khusus lantaran perajin harus mengukur akurasi, berat, dan presisinya saat dilepaskan. Sementara, bagian tengah gendawa yang biasa disebut cengkolak menggunakan kayu dan pada bagian sayap atau disebut lar baru menggunakan bambu. Produksi peralatan itu sepenuhnya dilakukan oleh para anggota Jemparingan Hantu Maut.
"Setiap tahap itu ada sendiri yang membuat. Misalnya untuk membubut satu orang, proses pewarnaan sendiri dan juga pemasangan stiker," ungkapnya.
Dalam sepekan, dia mampu memproduksi satu lusin anak panah yang dibanderol seharga Rp200.000 sampai Rp300.000 per setengah lusin. Sementara, gendewa dijual Rp450.000 sampai Rp500.000 untuk harga terendah dan bisa mencapai Rp1,5 juta atau bahkan Rp5 juta untuk yang paling mahal.
BACA JUGA: Kaesang Effect, Rental Mobil Mewah di Jogja Kebanjiran Pesanan
"Tapi bisa juga pakai bambu yang tipis, dibuat gaplok atau dua bambu disatukan, malah yang mahal itu gaplok tiga. Jadi engkel itu satu bambu satu anak panah, ada yang empat bambu disatukan dibubut jadi satu anak panah. Jadi lebih sulit dipres dan presisinya makanya mahal. Harus sama dan ditimbang itu beratnya. Pembuatannya juga disesuaikan misalnya pas musim angin dibuat agak berat biar sesuai," jelasnya.
Perlakuan terhadap peralatan jemparingan juga harus dirawat telaten agar tidak gampang rusak. Sehabis latihan biasanya anak panah dan busurnya dijemur dulu agar tidak terlalu basah saat disimpan. Dengan begitu, peralatan akan tetap awet dan tahan lama saat digunakan.
"Itu pengaruh sama daya tahannya. Sehabis latihan itu mesti diangin-anginin. Supaya kering, kalau musim hujan itu habis dipakai jangan dimasukkan ke tempat tertutup nanti cepat rusak, perawatannya mesti gitu," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinkes Bantul menemukan bakteri Bacillus sp pada menu bistik galantin dalam kasus keracunan MBG di Jetis yang menimpa 53 orang.
Presiden FAM Ab Ghani Hassan menargetkan Malaysia mencapai final FIFA ASEAN Cup 2026. Harimau Malaya membawa 23 pemain, termasuk tiga nama baru.
Kejagung menyita 11 mobil milik PT PSMI terkait dugaan korupsi pemanfaatan kawasan hutan untuk perkebunan tebu di Lampung.
Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta mendorong civitas academica meningkatkan literasi dan kompetensi pemanfaatan kecerdasan artifisial
Disdikpora DIY memanggil Kepala SMAN 1 Sentolo untuk mendalami kasus pelecehan siswa. Satpam yang terlibat telah diganti personel.
Pemkab Gunungkidul melarang pendukung calon lurah menutup jalan selama kampanye Pilur. Sebanyak 630 personel TNI-Polri disiapkan.