Advertisement

Begini Upaya Pemkot Kota Jogja Berjibaku Mengelola Sampah

Stefani Yulindriani Ria S. R
Rabu, 21 Desember 2022 - 18:07 WIB
Bhekti Suryani
Begini Upaya Pemkot Kota Jogja Berjibaku Mengelola Sampah Petugas DLH Kota Jogja mulai mengangkut sampah ke truk pada Rabu (22/12/2020). - Harian Jogja/ Catur Dwi Janati

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA–Pemkot Jogja menempuh beragam cara untuk meminimalkan pembungan sampah ke Tempat Pembungan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan yang kini sudah kelebihan kapasitas. 

Sampah yang dihasilkan Kota Jogja sepanjang 2021 berdasarkan data Kebijakan dan Strategi Daerah dalam Pengelolaan Sampah (Jakstrada) semester I tahun 2022 mencapai 327,4 ton/hari, sedangkan sampah yang terangkut ke TPST Piyungan mencapai 249,64 ton/hari. Untuk jumlah sampah organik yang dihasilkan di permukiman mencapai 53,3% di antaranya. 

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Sejumlah upaya dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja untuk mengelola sampahnya. Sampah organik dikelola melalui Laboratorium Pengolahan Sampah Rumah Tangga Perkotaan (Laron Sarungan), sampah anorganik dikelola melalui bank sampah yang tersebar di 45 kelurahan, serta pengelolaan sampah bahan berbahaya dan beracun (B3) melalui tujuh dropbox yang tersebar di Kota Jogja. 

Ahmad Haryoko, Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan DLH Kota Jogja mengatakan edukasi pengelolaan sampah rumah tangga organik pada masyarakat diupayakan melalui Laron Sarungan yang terletak di TPST Nitikan I, Kelurahan Sorosutan, Kemantren Umbulharjo. Melalui laboratorium tersebut masyarakat dapat belajar memilah, memanfaatkan, dan mendaur ulang sampah. 

“Kami sengaja membuat percontohan untuk mengolah sampah rumah tangga karena sampah yang berasal dari pemukiman masih mendominasi sampah yang dibuang ke TPST Piyungan. Sampah yang mendominasi inilah yang harus kita selesaikan sejak dari rumah,” katanya.

Menurutnya, sampah organik rumah masih bernilai ekonomis, selain itu cara pengolahannya pun sederhana dan tidak memerlukan lokasi yang luas, mengingat lahan yang dimiliki warga untuk mengolah sampah di Kota Jogja terbatas. “Kita menyiapkan metode pengolahan yang sederhana, yang mampu menampung sampah organik dari rumah tangga,” katanya. 

Metode pengolahan sampah organik yang diajarkan Laron Sarung menggunakan ember tumpuk, lodong sisa dapur (losida), pembuatan eco enzyme, lubang biopori, keranjang takakura serta budidaya maggot. Ada pula pengolahan sampah taman kota menjadi kompos. 

Produksi kompos yang dihasilkan dari pengolahan tersebut dari Januari-Juli 2022 sejumlah 2.283 karung yang didistribusikan. Selain itu, produk berupa pupuk kompos, maggot, dan pupuk cair diberikan secara gratis kepada warga Kota Jogja yang memerlukan. Sampah kompos yang dihasilkan pun digunakan untuk memupuk sejumlah tanaman seperti cabai di lokasi laboratorium. 

Untuk sampah anorganik yang dipilah menjadi plastik, kertas, kaca, dan logam mencapai 6,3 ton dari Januari-Agustus 2022. 

Selain itu, untuk residu yang tidak dapat diolah, menurut Haryoko akan dibuang ke TPST Piyungan, sedangkan residu yang masih dapat diolah menjadi ecobrick. Di Laron Sarungan, pelatihan pembuatan ecobrick juga diadakan.

Dibentuk sejak Juli silam, Laron Sarungan beroperasi dari Senin hingga Sabtu. Hingga kini Laron Sarungan telah berhasil menarik minat pengunjung dari dari DIY sebanyak 20% dan dari luar daerah sebanyak 80% dengan mayoritas pengunjung adalah mahasiswa. 

“Fokusnya [pengolahan] sampah organik rumah tangga, namun kita juga melakukan pelatihan sampah anorganik residu. Karena pengolahan sampah anorganik bernilai ekonomi sudah kita arahkan ke bank sampah,” kata Haryoko. 

BACA JUGA: Anak di Sleman yang Diduga Jadi Korban Peluru Nyasar Kini Membaik

Laboratorium tersebut dibentuk juga untuk meningkatkan upaya pengurangan sampah skala kota, menciptakan sarana edukasi tentang pengolahan sampah yang aplikatif, dan mengoptimalkan pengolahan sampah terpadu. 

Selanjutnya, untuk sampah pengelolaan sampah juga melibatkan 575 bank sampah yang tersebar di 45 kelurahan di Kota Jogja. Christina Endang Setyowati, Kepala Seksi Pengembangan Sumberdaya Lingkungan Hidup DLH Kota Jogja mengatakan pengelolaan sampah anorganik diupayakan melalui bank sampah, namun ada beberapa bank sampah juga mengelola sampah organik. 

Very Tri Jatmiko, Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Lingkungan Hidup DLH Kota Jogja menyampaikan peran bank sampah diperlukan untuk mengelola sampah domestik. Ia menyampaikan setiap warga diharapkan dapat bergabung di bank sampah di wilayahnya. Dari bank sampah tersebut, diharapkan sampah dapat dikelola. “Dari seluruh bank sampah, harapannya dapat mengelola seluruh sampah dari nasabahnya,” katanya. 

“Kalau nanti dari rumah sudah memilah sampah agar tidak bingung, dengan membawa pada bank sampah, nanti bank sampah akan menyalurkan ke pelapak atau pengepulnya,” katanya. Sehingga nantinya, sampah yang dibuang ke TPST Piyungan hanya residu. 

Selain itu agar tidak mencemari lingkungan, sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) juga dikelola DLH Kota Jogja. DLH Kota Jogja menyiapkan tujuh lokasi dropbox untuk menampung sampah B3 rumah tangga, yaitu di Kantor DLH Kota Jogja, Depo Utaralaya, Depo Gedongkiwo, Depo Nitikan, Depo Mandala Krida, Depo RRI, dan Depo Basen Kotagede.

Dropbox yang tersedia nantinya, akan ada empat jenis yaitu warna merah untuk baterai bekas, warna biru untuk sampah elektronik, warna kuning untuk kemasan bekas B3 (obat serangga, pewangi, karbol, dll), dan warna hijau untuk lampu (Tube Luminescent) TL dan lampu neon. 

Haryoko mengatakan untuk pengelolaan sampah B3, DLH Kota Jogja bekerjasama dengan perusahaan yang memiliki izin dari Kementerian LIngkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Menurut Haryoko, saat ini sekitar 87% masyarakat Kota Jogja telah memiliki kesadaran untuk mengelola sampah. Namun, partisipasi warga dalam mengolah sampah belum sampai 60%. Menurutnya, edukasi pada masyarakat masih perlu ditingkatkan “Kita butuh waktu untuk merubah mindset  [pola pikir].  Ini harus dimulai dari berbagai lini, dari dunia pendidikan, anak-anak kita dibiasakan mengelola sampah, dari lini budaya, mengolah sampah harus jadi budaya. Sesuatu yang rutin menjadi kebiasaan yang harus kita tanamkan ke masyarakat,” katanya.

Haryoko pun menyebutkan pihaknya selalu melakukan sosialisasi terkait pengelolaan sampah. “Kita mendorong masyarakat, sesuatu yang kita olah dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat” katanya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Pesawat Susi Air Dibakar di Papua, Pilot dan Penumpang Hilang

News
| Selasa, 07 Februari 2023, 11:37 WIB

Advertisement

alt

Ikuti Post-tour ATF, Banyak Peserta Terkesan dengan Objek Wisata DIY

Wisata
| Selasa, 07 Februari 2023, 10:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement