Advertisement

Kasus Stunting di Jogja Menurun Drastis, Kuncinya Penanganan Remaja Putri hingga Ibu Hamil

Triyo Handoko
Rabu, 11 Januari 2023 - 21:07 WIB
Budi Cahyana
Kasus Stunting di Jogja Menurun Drastis, Kuncinya Penanganan Remaja Putri hingga Ibu Hamil Ilustrasi - Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jogja menunjukkan penurunan kasus stunting atau kekurangan gizi kronis di wilayahnya. Prevalensi kasusnya pada 2021 sebanyak 12,08% jadi 10,80%. Penurunan angka tersebut juga terlihat dari sasaran anak stunting sebanyak 14.277 dan kini hanya tinggal 1.225 anak.

Signifikansi penurunan stunting di Jogja lantaran berbagai upaya pencegahan dan penanganan yang dilakukan tepat sasaran. Kepala Dinkes Jogja Emma Rahmi Aryani menyebut pencegahan dilakukan dari remaja putri di sekolah hingga ibu menyusui.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

“Di sekolah, kami lakukan tes anemia. Jadi kalau ada yang anemia kami berikan suplemen tambahan biar tidak anemia. Karena remaja putri yang anemia berpotensi nantinya melahirkan bayi stunting,” jelasnya, Rabu (11/1/2022).

BACA JUGA: Cerita Warga yang Sedih meski Mendapat Ganti Rugi Tol Jogja Solo Miliaran Rupiah

Langkah pencegahan lainnya yang dilakukan DInkes Jogja, jelas Emma, dengan koordinasi dengan Kantor Urusan Agama (KUA) se-Jogja. “Sudah wajib di KUA seluruh Jogja kalau ada yang mendaftarkan pernikahan harus cek kesehatan dulu, kalau calon pengantin perempuan kurang gizi kami berikan arahan agar memperbaiki kesehatannya dulu,” katanya.

Emma menyebut saat ibu hamil di Jogja memeriksakan kandungannya di puskesmas se-Jogja juga akan dicek kesehatannya agar stunting dapat dicegah. “Kami wajibkan ibu hamil cek kesehatan enam kali sekarang, sebelumnya empat kali terus kami tambah agar lebih akurat dan mudah mendeteksi stunting,” ujarnya.

Penanganan stunting juga terus dilakukan, lanjut Emma, dengan menggerakan kader PKK dan posyandu di tiap RW. “Kami sudah lengkapi tiap posyandu ada alat khusus pengukur berat badan dan tinggi bayi, jadi kalau ada indikasi berat dan tingginya kurang akan dicatat dan diberikan penanganan khusus,” terangnya.

Penanganan khusus bayi hingga balita yang terindikasi stunting, sambung Emma, dengan memberikan suplemen dan tambahan makanan bergizi. “Jadi supaya target 2024 stunting ini nol kasus, kami harap para ibu juga memperhatikan bayi dan balitanya, kami akan bantu penanganan agar anak tersebut tidak stunting,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Gempa Turki, Kemlu Evakuasi 104 WNI yang Terdampak

News
| Rabu, 08 Februari 2023, 11:07 WIB

Advertisement

alt

Meski Ada Gempa, Minat Masyarakat ke Turki Tak Surut

Wisata
| Selasa, 07 Februari 2023, 22:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement