Belum Main di Liga 1, Markus Madjar Fokus Kejar Fisik di PSS Sleman
Markus Madjar belum mendapat menit bermain bersama PSS Sleman. Ia fokus meningkatkan fisik dan belajar menghadapi intensitas Liga 1.
Skrining TBC - Ilustrasi Antara
Harianjogja.com, SLEMAN—Angka kasus Tuberkulosis (TBC) di Sleman terus mengalami kenaikan. Warga diminta segera melapor ke Puskemas bila mengalami sejumlah gejala TBC.
Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Cahya Purnama menjelaskan angka tuberkulosis di Sleman terus naik. Bahkan Cahaya menyebut jika Sleman menjadi wilayah penyumbang kasus terbesar tuberkulosis di DIY. "Untuk DIY memang penyumbang terbesar adalah dari Sleman," ujarnya pada Rabu (31/5/2023).
Dengan kondisi padat penduduk, pengendalian tuberkulosis di Sleman perlu dinilai Cahya harus ditanggulangi secara bersama. Cahya mencatat angka prevalensi temuan kasus tuberkulosis di Sleman sebesar 65/100.000 penduduk.
BACA JUGA: Libur Sekolah, Banyak yang Ingin ke Jogja, PHRI Targetkan Okupansi 100%
"Sleman karena memang padat penduduk, memang kita kasusnya naik terus. Sehingga ini memang kita perlu lakukan pemberdayaan bersama untuk Tuberkulosis ini supaya bisa dikendalikan," katanya.
Penyebab tingginya kasus TBC di Sleman diutarakan Cahya dapat berasal dari sejumlah faktor. Stigma masyarakat soal TBC menjadi salah satu aspek yang menjadi sorotan dalam pertimbangkan angka TBC di Sleman.
"Salah satunya stigma di masyarakat, mereka masih kurang memahami tentang bahaya dari tuberkulosis ini. Padahal kalau mereka tahu, tuberkulosis ini bisa dikendalikan," ungkapnya.
Sinergi antar organisasi perangkat daerah (OPD), komunitas maupun masyarakat untuk menanggulangi TBC sejatinya telah dilakukan. Bahkan upaya jemput bola untuk mendeteksi dan mendampingi pasien TBC pun juga sudah diimplementasikan. "Kita lakukan jemput bola. Jadi tidak zamannya lagi TBC itu harus datang ke Puskemas ke Rumah Sakit," ujarnya.
"Kami yang akan mendatangi ke masyarakat. Kami kerja sama dengan tenaga pendamping sosial Kalurahan yang tahu betul di wilayahnya, nanti mereka akan bergerak bersama kader mencari kontak TB tadi atau investigasi kontak yang terduga TBC tadi," katanya.
Bila ditemukan pasien TB, Dinkes Sleman dalam hal ini Puskemas akan mendatangi pasien atau jemput bola ke lokasi pasien. Tim akan memeriksa kondisi dan status terkini kesehatan pasien.
"Jadi ini kita balik. Kalau 2018 dulu sampai sekarang kita melalui passive case finding, itu hasilnya jelek. Jadi yang memeriksakan diri sedikit," jelasnya.
Kini skema active case finding yang justru digunakan dengan menerjunkan langsung tim ke lapangan. "Masalah kita utama adalah menghindari stigma. Masyarakat Harus melapor kalau ada gejala [TB]," ungkapnya.
Beberapa gejala TBC yang patut dicermati masyarakat ialah batuk lama, batuk disertai darah, penurunan berat badan dan keringat malam hari.
"Keringat malam hari, meskipun tidak panas tapi kalau dia berkeringat hati-hati. Ini laporkan saja. Satu dari gejala ini muncul, laporkan ke Puskemas. Nanti akan kita datangi," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Markus Madjar belum mendapat menit bermain bersama PSS Sleman. Ia fokus meningkatkan fisik dan belajar menghadapi intensitas Liga 1.
Kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 10,58 juta hingga Agustus 2026, tumbuh 5,38%. Perjalanan wisnus tercatat 842,15 juta.
BRI bersama Eastspring Investments Indonesia menghadirkan tiga reksa dana baru dengan minimum investasi Rp100.000 untuk memperluas pilihan investasi dan menduku
Wagub DIY Paku Alam X melepas 12 atlet SOIna ke Pesonas 2026 di Kupang. Atlet dan pendamping diminta menjaga kesehatan selama kompetisi.
Disdik Sleman mencatat kekurangan 287 guru SD dan SMP. Pemerataan tenaga pendidik dan kerja sama dengan perguruan tinggi disiapkan.
Pertamina mengandalkan B50 untuk menekan impor solar 18 juta kiloliter, menghemat devisa Rp170 triliun, dan mengurangi emisi pada 2026.