Regulasi Baru Disiapkan untuk Lindungi Petani di Gunungkidul
DPRD Gunungkidul memprioritaskan Raperda Perlindungan dan Pemberdayaan Petani untuk meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas petani.
Pengendara motor sedang melintas di kebun kakao di Dusun Plumbungan, Putat, Patuk. Foto diambil Minggu (4/6/2023). Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Budidaya tanaman kakao di Gunungkidul belum optimal. Hal ini terlihat dari hasil panen yang masih jauh dari rataan panen nasional.
Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Adinoto mengatakan, produktivitas kakao secara nasional sebanyak 1,8 ton per hektarenya. Adapun kondisi di Gunungkidul baru mencapai 800 kilogram per hekatarenya.
“Produksi kakao memang belum optimal karena hasilnya masih jauh dari rata-rata nasional,” katanya, Kamis (8/6/2023).
BACA JUGA: Kakao Kulonprogo Jadi Sampel di Prancis
Ia mengaku telah melakukan identifikasi terkait dengan masalah produktivitas kakao. Salah satu faktor panen belum optimal karena perawatan yang masih serampangan dan tanaman yang berusia 25-30 tahun sehingga berdampak terhadap produktivitas.
“Pola tanam masih tumpang sari dan pemeliharaannya kurang. Hal ini terlihat pohon jarang dipangkas sehingga berpengaruh terhadap pembungaan bakal buah,” katanya.
Adanya permasalahan ini, lanjut Adinoto, sudah dilakukan perencanaan untuk optimalisasi. Kelompok asosiasi petani kakao juga dibentuk agar pendampingan bisa lebih dioptimalkan.
"Selama ini belum ada asosiasi yang menaungi, makanya dengan hadirnya taman teknologi pertanian di Nglanggeran, Patuk maka bisa saling melengkapi dalam upaya optimalisasi kakao,” katanya.
Menurut dia, budidaya kakao sangat prospektif karena pangsa pasar sebagai bahan baku coklat masih terbuka luas. Untuk area hingga sekarang tercatat 1.367 hektare.
“Paling banyak ada di Kapanewon Patuk dengan luas 710 hektare. Sedangkan sisanya tersebar di kapanewon lain,” katanya.
BACA JUGA: PERTANIAN GUNUNGKIDUL : Prospektif, Tanaman Kakao Mulai Digalakkan
Ketua Asosiasi Kakao Gunungkidul, Rubani mengatakan, asosiasi baru saja dibentuk dan sekarang masih dalam penyelesaian pembentukan struktur kepengurusan. Keberadaan asosiasi diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pelaksanaan budidaya kakao di Bumi Handayani.
Ia tidak menampik saat sekarang produktivitas masih belum optimal sehingga dengan terbentuknya suatu wadah dapat menjadi langkah konkret dalam pengembangan yang lebih baik. “Nanti bisa saling bertukar pikiran untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam budidaya,” katanya.
Selain itu, dengan terbentuknya asosiasi dapat meningkatkan mutu dari biji kakao yang dihasilkan. “Dengan semakin baiknya hasil panen, maka nilai ekonomisnya juga semakin naik,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul memprioritaskan Raperda Perlindungan dan Pemberdayaan Petani untuk meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas petani.
Kelurahan Cokrodiningratan membentuk 10 Kader Keamanan Obat Bahan Alam melalui Program IDAMAN BPOM untuk mengedukasi masyarakat memilih jamu aman.
Penumpang Bus Sekolah Si Bulan Sleman meningkat pada tahun ajaran baru. Koridor Terminal Pakem-Bandara Adisutjipto mencatat tambahan terbanyak.
Jadwal DAMRI Bandara YIA Sabtu 1 Agustus 2026 lengkap dengan rute ke Sleman, Kota Jogja, Gamping, Condongcatur, dan tarif Rp80.000.
Shayne Pattynama memuji perlawanan Timor Leste meski Indonesia menang 3-0 di Piala AFF 2026. Garuda kini mengoleksi enam poin dari dua laga.
Jadwal layanan SIM Polresta Sleman Agustus 2026 telah dirilis. Cek lokasi SIM Keliling, MPP, SIMMADE, jam layanan, dan syarat perpanjangan.