Advertisement
Tahun Ajaran Baru, Inflasi Sleman Terkerek

Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Inflasi di Sleman merangkak naik seiring bergulirnya tahun ajaran baru di Sleman. Ada kenaikan pengeluaran di sektor makanan dan transportasi yang disumbang dari para mahasiswa baru. Selain itu, sejumlah komoditas pangan juga terpantau naik beberapa waktu terakhir.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman, Mae Rusmi menerangkan di setiap tahun ajaran baru angka inflasi di Sleman cenderung mengalami kenaikan.
Advertisement
Hal ini disumbang dari libur tahun ajaran baru serta mahasiswa yang baru datang ke Sleman. Kedatangan mereka akan menimbulkan peningkatan daya beli di sektor pangan juga penggunaan jasa di lini transportasi.
"Kalau di Sleman ini, begitu tahun ajaran baru ini inflasi pasti naik. Karena mahasiswa banyak yang datang, yang kemarin tidak ada aktivitas makan itu naik, kemudian listrik, transportasi itu semua naik. Di Sleman kondisinya seperti itu, di DIY pada umumnya," kata dia, Minggu (25/6/2023).
Hanya saja, perihal detailnya, Mae belum bisa menyebutkan angka pastinya. Hanya saja kenaikan inflasi relatif tinggi. "Memang masih relatif tinggi karena sumbangan dari transportasi, terutama liburan, kemudian ada beberapa komoditas pangan [naik harganya]," ujarnya.
BACA JUGA: OJK DIY: Setiap Gerakan Pengendalian Inflasi Saling Terkait
Di sektor komoditas pangan, Mae membeberkan harga ayam yang tengah melonjak. Dari semula kisaran Rp36.000 per kilogram kini harga daging ayam dibanderol sampai Rp38.000 per kilogram.
Disebutkan Mae, naiknya harga daging ayam disebabkan oleh stagnasi bibit. Sedangkan faktor kedua disebabkan karena naiknya permintaan daging untuk hajatan dan liburan.
Sementara di komoditas telur ayam, Pemkab Sleman sudah berusaha mencukupi kebutuhan telur ayam di Sleman dengan kerja sama dengan daerah Blitar. Selama beberapa bulan terakhir Sleman mendapat gelontoran telur ayam dari Blitar 10-15 ton per bulannya.
"15 ton itu habis, kemarin waktu tinggi-tingginya kita datangkan 15 ton. Kalau biasanya 10 ton," jelasnya.
Naiknya harga sejumlah komoditas pangan diterangkan Mae membuat masyarakat menerapkan dua hal. Pertama mengurangi jumlah takaran pembelian, kedua mengganti komoditas pangan yang naik dengan komoditas alternatif lainnya.
"Tentu saja dari masyarakat akan menyesuaikan. Seperti biasanya beli telurnya sekilo kemarin saya lihat ya setengah kilo. Kemudian untuk daging mereka ngecer, biasanya satu kilo mereka ada yang kemudian beralih ke ikan lele. Sama-sama protein hewani," tuturnya.
Kenaikan harga daging membuat sejumlah warga beralih ke komoditas ikan seperti lele dan nila yang kini ramai peminatnya. "Ikan lele menjadi konsumsi yang cukup bagus termasuk nila, pengganti dari ayam. Kemarin lele saya lihat di pasar cukup bagus, banyak peminatnya," terangnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement

Jokowi Sebut Pembangunan Istana di IKN Sudah Sesuai Target
Advertisement

Wisatawan Mancanegara Mulai Melirik Desa Wisata di Bantul
Advertisement
Berita Populer
- Catat Tanggalnya! Ini Jadwal Rangkaian Hajad Dalem Sekaten yang Digelar Keraton Yogyakarta
- P3K Pemda DIY Dibuka! Ada 1.042 Lowongan Guru, Nakes, dan Tenaga Teknis
- Dinkes Jogja: Lebih dari Separuh Pegawai Pemkot Jogja Berperut Buncit dan Mengalami Obesitas
- Gelas Berlian Si Nuri, Wadah Lansia agar Berdaya
- Awas! Sejumlah Mata Air dan Belik di Jogja Kini Sudah Tercemar
Advertisement
Advertisement