Jadwal DAMRI YIA ke Jogja Rabu 20 Mei, Tarif Rp80.000
Jadwal DAMRI YIA ke Jogja hari ini, tarif Rp80.000, rute lengkap menuju Sleman dan pusat kota.
Saksi ahli keuangan negara memberikan keterangan dalam sidang tindak pidana korupsi kasus pembangunan SMP N 1 Wates Kulonprogo di Pengadilan Negeri (PN) Jogja, Kamis (31/8/2023). /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA—Sidang kasus tindak pidana korupsi kasus pembangunan SMP N 1 Wates Kulonprogo kembali bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Jogja, Kamis (31/8/2023). Saksi ahli keuangan negara turut dihadirkan dalam sidang tersebut.
Ada dua terdakwa dalam perkara itu antara lain Jujur Santoso sebagai pejabat pembuat komitmen dalam proyek pembangunan SMP N 1 Wates dan Susi Ambarwati selaku pelaksana proyek.
BACA JUGA : Patok Lahan Tol Jogja Solo Seksi 3 Sudah Dipasang
Adapun saksi ahli yang dihadirkan adalah Sudirman alumnus STAN yang juga ahli keuangan negara. Ia menjawab sejumlah pertanyaan di hadapan Ketua Majelis Hakim Vonny Trisaningsih dan JPU Kejari Kulon Progo Roky Al Faizal. Dalam kesempatan itu JPU tidak banyak memberikan pertanyaan kepada saksi ahli.
Sudirman dalam kesempatan itu mengatakan terkait standar proses pemeriksaan keuangan negara diatur di dalam UU No.15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Audit harus berdasarkan standar audit intern pemerintah dan objektivitas serta pengujian bukti. Jika tidak mengacu pada hal itu maka akan bertentangan peraturan perundangan.
“Objektivitas ini hasil audit tidak boleh dipengaruhi oleh pihak lain. Misalnya tidak boleh seorang auditor menyimpulkan data atas pendapat orang lain, kemudian kesimpulan orang lain tidak boleh dibenarkan," katanya di hadapan majelis hakim.
Ia justru mengaku bingung terkait audit terhadap perkara tersebut, karena menurutnya tidak sesuai dengan kaidah pemeriksaan maupun peraturannya. “Ahli tidak boleh mengaudit berdasarkan sampel, kecuali audit investigasi,” katanya.
BACA JUGA : Terbaru! Ini Peta Tol Jogja YIA dan Perkiraan Dampak
Adapun Penasihat Hukum Terdakwa Susi Ambarwati, Muhammad Zaki Mubarrok mengaku keputusan persidangan dikembalikan kepada nurani majelis hakim. Alasannya karena dari keterangan dua saksi ahli bahwa hasil audit di kasus tersebut tidak bisa diterima sesuai dengan ketentuan aturan yang berlaku.
“Kesimpulan sebenarnya audit ini tidak bisa diterima, bahkan JPU sendiri yang hadir tidak banyak bertanya karena mungkin bingung juga seperti yang disampaikan oleh saksi ahli. Maka kami mengembalikan ini pada hati nurani majelis hakim,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jadwal DAMRI YIA ke Jogja hari ini, tarif Rp80.000, rute lengkap menuju Sleman dan pusat kota.
Viral perempuan bongkar dugaan perselingkuhan suami lewat data misterius pada timbangan pintar atau smart scale di rumahnya.
Imigrasi memperketat pengawasan WNA di Bantul lewat APOA. Hotel, homestay, dan vila diwajibkan melaporkan tamu asing secara berkala.
Hanung Bramantyo mengadaptasi Children of Heaven berlatar SD Muhammadiyah dengan pesan kuat tentang pendidikan karakter anak.
KPAID Kota Jogja mendorong penerapan pasal lebih berat dalam kasus dugaan kekerasan anak di Daycare Little Aresha
Pemerintah memangkas anggaran MBG 2026 menjadi Rp268 triliun demi efisiensi program Makan Bergizi Gratis.