Hantavirus Belum Ditemukan di Gunungkidul, Warga Tetap Diminta Waspada
Dinas Kesehatan Gunungkidul memastikan belum ada kasus hantavirus, namun warga diminta menjaga kebersihan dan waspada penularan.
Warga melintas di lokasi longsor di Kalurahan Tegalrejo, Gedangsari. Rabu (21/6/2023)/Harian Jogja-David Kurniawan\r\n\r\n
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemkab Gunungkidul memperkirakan perbaikan longsor di Kalurahan Tegalrejo, Gedangsari membutuhkan anggaran sekitar Rp8 miliar. Untuk perbaikan, Pemkab mengajukan bantuan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Kepala Bidang Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul, Wadiyana mengatakan, pascakejadian longsor pada 16 Februari 2023, pihaknya sudah diminta BPBD untuk mengkaji terkait dengan dampak kerusakan. Hasil kajian untuk perbaikan membutuhkan alokasi sekitar Rp8 miliar.
BACA JUGA: BPBD Sleman Raih Penghargaan Subroto Award 2023
“Yang longsor bukit hingga materialnya menutupi akses jalan kabupaten,” katanya, Kamis (12/10/2023).
Meski telah membuat kajian, namun Wadiyana mengakui hingga sekarang belum ada upaya perbaikan. Hal ini tak lepas dari kemampuan anggaran yang dimiliki Pemkab masih sangat terbatas. Oleh karenanya, untuk perbaikan dilakukan dengan cara meminta bantuan ke BNPB. “Untuk detailnya ke BPBD. Yang jelas, sudah diajukan proposal permohonan bantuan untuk penanganan dampak longsor di Tegalrejo,Gedangsari,” katanya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Gunungkidul, Sumadi saat dikonfirmasi membenarkan pihaknya telah mengajukan permohonan bantuan ke BNPB guna penanganan longsor di Tegalrejo.
Diharapkan ada bantuan sehingga dampak bisa ditangani agar akses warga kembali normal. "Anggaran Pemkab terbatas dan belum ada untuk penanganan,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, Lurah Tegalrejo, Sarjono mengatakan, belum ada penanganan signifikan terhadap longsor perbukitan di wilayahnya yang sempat memutus akses jalan masyarakat. Agar bisa dilalui warga kerja bakti mengurangi material longsoran sehingga jalan yang sempat tertutup bisa dilalui.
“Jalan yang tertutup berstatus milik kabupaten. Kami berharap bisa segera diperbaiki,” kata Sarjono.
BACA JUGA: Pembongkaran Pohon Hampir Rampung, Konstruksi Tol Jogja-YIA Dimulai November
Menurut dia, penanganan yang dilakukan secara swadaya oleh masyarakat hanya bersifat sementara. Untuk akses, pada saat kemarau seperti sekarang masih bisa dilalui, baik kendaraan roda dua maupun roda empat.
“Material tanah yang sempat menutupi jalan hanya disingkirkan dengan dibuang ke jurang di samping jalan sehingga bisa dilalui,” katanya.
Meski demikian, lanjut Sarjono, saat memasuki musim hujan kondisinya akan sangat berbahaya. Hal ini dikarenakan bisa memicu terjadinya longsor susulan.
“Makanya kami berharap bisa segera diperbaiki. Sebab, kalau musim hujan jelas tidak bisa dilewati karena akan sangat berbahaya dikarenakan ada potensi longsor susulan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinas Kesehatan Gunungkidul memastikan belum ada kasus hantavirus, namun warga diminta menjaga kebersihan dan waspada penularan.
Katarak kini banyak menyerang usia muda. Faktor diabetes dan paparan UV jadi penyebab utama, kenali gejala sejak dini.
Garebeg Besar 2026 di Keraton Jogja digelar tanpa kirab prajurit. Prosesi tetap sakral meski format disederhanakan.
Jadwal KRL Jogja–Solo terbaru 2026 lengkap dari Tugu ke Palur. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat, praktis, dan hemat.
DPRD Bantul dukung penataan guru honorer jadi PPPK. Pemkab setop rekrutmen honorer baru hingga 2026.
Jadwal KRL Solo–Jogja terbaru 2026 lengkap dari Palur ke Tugu. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat dan efisien.