Hadapi Kemarau Panjang, Warga Gunungkidul Diminta Bijak Memakai Air
Kemarau hingga 7 bulan diprediksi terjadi di Gunungkidul. BPBD siapkan jutaan liter air, warga diminta hemat sejak dini.
Kekerasan - Ilustrasi
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Jajaran Satreskrim Polres Gunungkidul menyelidiki dugaan kekerasan yang melibatkan dua siswa di salah satu SD di Kapanewon Wonosari. Sebanyak tujuh saksi sudah diperiksa untuk menyelesaikan kasus ini.
Kasat Reskrim Polres Gunungkidul, AKP Andika Arya Pratama mengatakan, kasus kekerasan di salah satu SD sudah dilaporkan beberapa hari lalu. Adapun peristiwa pemukulan terjadi pada 1 September 2023.
Saat itu sedang berlangsung pelajaran Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Dikarenakan terjadi gangguan jaringan, guru pengampu turun kelas untuk mengecek masalah yang terjadi.
Di saat bersamaan ada seorang anak yang membuka Youtube. Oleh pelaku yang juga siswa, korban diingatkan bahwa dilarang membuka aplikasi tersebut, namun tidak dihiraukan sehingga terjadi pemukulan mengenai kepala.
“Korban berteriak kesakitan menangis dan gemetaran. Guru yang melihat adanya kegaduhan langsung membawanya ke UKS,” kata Andika kepada wartawan, Selasa (7/11/2023).
Dia menjelaskan untuk penanganan sudah memeriksa tujuh saksi dengan melibatkan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA). Diakuinya diperlukan kehati-hatian saat memeriksa mereka karena sebagian masih anak-anak.
“Hingga sekarang juga belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka karena masih sebatas saksi. Korban dan pelaku merupakan teman kelas lima dan sepantaran,” katanya.
BACA JUGA: Luapan Minyak di Tugu Terjadi Lagi, DPUPKP Jogja: Bisa Merusak Sistem Drainase
Soal adanya pemalakan dan korban lain dalam kasus ini, Andika mengakui masih terus mengembangkan kasus yang ditangani. “Masih didalami,” katanya.
Kuasa Hukum dari sekolah, Rifki Rasyid saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon membenarkan adanya kasus kekerasan di lingkungan sekolah. Terduga pelaku dan korban sudah mendapatkan pendampingan secara psikologis dari yayasan. “Baru satu yang melaporkan adanya dugaan pemukulan,” katanya.
Pertemuan Keluarga
Dia mengungkapkan, sudah ada pertemuan keluarga korban dan pelaku sebanyak dua kali, namun belum ada kesepakatan. “Sudah coba difasilitasi ketiga kali. Tapi, antara keluarga korban dan pelaku baru bisa bertemu dua kali. Untuk urusan di kepolisian, kami juga sudah menyampaikan untuk mempertemukan kedua orang tua lagi, tetapi belum ada kabar,” kata Rifki.
Meski demikian, ia belum bisa memberikan informasi lebih lanjut dikarenakan Yayasan Sekolah masih fokus untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi.
“Kalau sekarang pelaku masih di sekolah. Tapi, yang jelas, pihak sekolah berkomitmen melawan kekerasan atau tindakan bulliying di lingkungan belajar,” kata Rifki.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemarau hingga 7 bulan diprediksi terjadi di Gunungkidul. BPBD siapkan jutaan liter air, warga diminta hemat sejak dini.
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.