Aliran Sungai Pantai Baron Berubah, Gugusan Pulau Menghilang
Aliran sungai bawah tanah Pantai Baron berubah setelah 14 tahun. Gugusan pulau menghilang dan aliran kini langsung menuju laut.
Kekerasan - Ilustrasi
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Jajaran Satreskrim Polres Gunungkidul menyelidiki dugaan kekerasan yang melibatkan dua siswa di salah satu SD di Kapanewon Wonosari. Sebanyak tujuh saksi sudah diperiksa untuk menyelesaikan kasus ini.
Kasat Reskrim Polres Gunungkidul, AKP Andika Arya Pratama mengatakan, kasus kekerasan di salah satu SD sudah dilaporkan beberapa hari lalu. Adapun peristiwa pemukulan terjadi pada 1 September 2023.
Saat itu sedang berlangsung pelajaran Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Dikarenakan terjadi gangguan jaringan, guru pengampu turun kelas untuk mengecek masalah yang terjadi.
Di saat bersamaan ada seorang anak yang membuka Youtube. Oleh pelaku yang juga siswa, korban diingatkan bahwa dilarang membuka aplikasi tersebut, namun tidak dihiraukan sehingga terjadi pemukulan mengenai kepala.
“Korban berteriak kesakitan menangis dan gemetaran. Guru yang melihat adanya kegaduhan langsung membawanya ke UKS,” kata Andika kepada wartawan, Selasa (7/11/2023).
Dia menjelaskan untuk penanganan sudah memeriksa tujuh saksi dengan melibatkan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA). Diakuinya diperlukan kehati-hatian saat memeriksa mereka karena sebagian masih anak-anak.
“Hingga sekarang juga belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka karena masih sebatas saksi. Korban dan pelaku merupakan teman kelas lima dan sepantaran,” katanya.
BACA JUGA: Luapan Minyak di Tugu Terjadi Lagi, DPUPKP Jogja: Bisa Merusak Sistem Drainase
Soal adanya pemalakan dan korban lain dalam kasus ini, Andika mengakui masih terus mengembangkan kasus yang ditangani. “Masih didalami,” katanya.
Kuasa Hukum dari sekolah, Rifki Rasyid saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon membenarkan adanya kasus kekerasan di lingkungan sekolah. Terduga pelaku dan korban sudah mendapatkan pendampingan secara psikologis dari yayasan. “Baru satu yang melaporkan adanya dugaan pemukulan,” katanya.
Pertemuan Keluarga
Dia mengungkapkan, sudah ada pertemuan keluarga korban dan pelaku sebanyak dua kali, namun belum ada kesepakatan. “Sudah coba difasilitasi ketiga kali. Tapi, antara keluarga korban dan pelaku baru bisa bertemu dua kali. Untuk urusan di kepolisian, kami juga sudah menyampaikan untuk mempertemukan kedua orang tua lagi, tetapi belum ada kabar,” kata Rifki.
Meski demikian, ia belum bisa memberikan informasi lebih lanjut dikarenakan Yayasan Sekolah masih fokus untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi.
“Kalau sekarang pelaku masih di sekolah. Tapi, yang jelas, pihak sekolah berkomitmen melawan kekerasan atau tindakan bulliying di lingkungan belajar,” kata Rifki.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Aliran sungai bawah tanah Pantai Baron berubah setelah 14 tahun. Gugusan pulau menghilang dan aliran kini langsung menuju laut.
Kemenkes mengungkap kualitas udara sejumlah wilayah Indonesia masuk kategori berbahaya akibat karhutla. Palangka Raya mencatat ISPU 573.
Bank Mandiri meminta maaf soal pemblokiran rekening aktivis Pati Supriyono alias Botok. Rekening berisi Rp80,9 juta disepakati dibuka kembali.
7 bidang tanah calon pengganti kas Kalurahan Palihan, Kulonprogo, dicoret karena berada di bawah Sutet. Warga kecewa dan minta evaluasi.
Komisi B DPRD Kota Jogja mendorong pengembangan Rumah Sakit Hewan, integrated farming, bioflok, dan agrowisata untuk meningkatkan PAD.
Produksi minyak nasional Juli 2026 baru 578.156 bopd dari target 610.000 boepd. ESDM mengungkap sejumlah kendala dan strategi mengejarnya.