Advertisement
Disperindag DIY Prediksi Harga Cabai Bertahan Tinggi Sampai Akhir Tahun

Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) DIY memprediksi harga komoditas cabai dan sayuran masih bertahan tinggi sampai akhir tahun nanti. Intervensi pusat dengan mendatangkan stok dari daerah yang surplus sangat diharapkan guna menjaga gejolak harga di wilayah setempat.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian DIY Syam Arjayanti mengatakan, per pekan ini harga tertinggi cabai mencapai Rp74.250 per kilogram untuk jenis rawit merah. Menurutnya harga cabai memang selalu fluktuatif berdasarkan musim dengan rentang harga di kisaran Rp40.000-Rp50.000 per kilogram.
Advertisement
"Sekarang kan tidak ada air dan di beberapa daerah kekurangan air belum ada hujan, sehingga pasokan berkurang sementara kebutuhan naik. Banyak hajatan kayak gitu kan meningkat juga makanya harga cabai mahal. Ada juga yang terserang penyakit di beberapa wilayah, itu penyebabnya," kata Syam, Jumat (10/11/2023).
Menurutnya, Disperindag DIY cukup dilema dengan keadaan tingginya harga cabai. Sebab jika ingin mendatangkan stok dari luar daerah harus dengan jumlah yang besar. Sementara pedagang di wilayah setempat hanya butuh dalam jumlah kecil. Apalagi komoditas cabai tidak bisa bertahan dalam durasi lama, sehingga cukup sulit jika menempuh kebijakan ini.
"Jogja sendiri sebenarnya kita butuh ga banyak ya, dari produksi sebenarnya cukup cuma cabai kita kan banyak juga yang keluar. Dari Bantul dan Kulonprogo itu dilelang dan keluar ke Jakarta dan Bandung, itu banyak ke sana. Karena kan disukai juga cabai kita kan bagus sehingga mereka suka," katanya.
BACA JUGA: Harga Cabai Mahal, Warga Jogja Diminta Menanam di Rumah
Syam menambahkan, pihaknya masih berupaya mendatangkan stok cabai tambahan dari wilayah setempat saja untuk menekan tingginya harga komoditas itu. Gapoktan dan kelompok tani akan digandeng agar berkoordinasi dengan distributor sehingga gejolak harga di pasaran bisa diredam sampai akhir tahun nanti.
"Kita masih berupaya juga untuk datangkan cabai dari DIY dulu, dengan Gapoktan atau kelompok tani dan ada distributor yang mau. Kita kan ga bisa kulakan sendiri, kita hubungkan dengan distributor untuk cari komoditas yang nantinya biaya transportasinya akan kita subsidi," kata dia.
Sampai sekarang program subsidi bahan pokok masih dijalankan untuk biaya transportasi sebesar Rp2.000 per kilogram. Pilihan untuk menggelar pasar murah atau operasi pasar dinilainya belum memungkinkan lantaran butuh jumlah cabai yang sangat banyak. Pihaknya berharap dengan strategi demikian harga bahan pokok bisa stabil sampai akhir tahun.
"Akhir tahun kalau beras semoga ga naik lagi ya, karena sudah ada intervensi. Harga yang risiko ini seperti cabai dan sayuran, itu di akhir tahun mungkin masih tinggi juga, semoga ada aksi dari Bapanas dengan mendatangkan dari daerah yang surplus dan sampai ke Jogja semoga itu bisa meredam gejolak harga," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement

Polres Wonogiri Tangkap Guru Silat yang Cabuli 7 Murid Perempuan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Talut Ambrol di Jalur Clongop Gedangsari Diperbaiki dengan Anggaran Rp15 Miliar
- Kendaraan Keluar DIY Via Entry Tol Tamanmartani Meningkat, Sempat Dekati 1.000 Kendaraan Per Jam
- Jalur Wisata Pantai di Gunungkidul Ramai Lancar
- H+3 Lebaran, Arus Lalu Lintas Kawasan Malioboro Padat Merayap
- H+3 Lebaran 2025, Pantai Parangtritis Dikunjungi 14.000 Wisatawan
Advertisement
Advertisement