Advertisement
Meminimalisir Risiko Kematian KPPS, Berikut Tips Menjaga Kesehatan dari Pusat Kedokteran Tropis UGM
Ilustrasi pemilu / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM memberi perhatian serius pada aspek kesehatan para petugas penyelenggara Pemilu 2024.
Untuk meminimalisir risiko kematian anggota Kelompok Penyelanggara Pemungutan Suara (KPPS), Pusat Kedokteran Tropis UGM memberikan sejumlah tips menjaga kesehatan untuk para KPPS.
Advertisement
Pada Pemilu 2019, sebanyak 894 petugas penyelenggara pemilu dilaporkan meninggal dunia. Sementara tak kurang dari 5.175 petugas lainnya menderita sakit.
BACA JUGA: 3 Pakar Hukum dan Sutradara Dirty Vote Dilaporkan ke Polisi
Dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi dan Kesehatan Populasi, Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Ahmad Watsiq Maula mengungkapkan bila UGM telah melakukan investigasi di wilayah DIY perihal kematian para penyelenggara Pemilu lima tahun silam.
Investigasi ini melibatkan oleh FK-KMK, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (fisipol) dan Fakultas Psikologi UGM.
Menggunakan metode verbal autopsy yang dilakukan dengan wawancara mendalam kepada kerabat, keluarga atau petugas medis yang sempat merawat korban meninggal terungkaplah sejumlah fakta. Salah satunya ialah fakta jika para korban meninggal dunia karena penyakit tertentu. "Hasilnya, hampir semua korban meninggal karena penyakit," jelas dosen yang akrab disapa Wawa tersebut dalam rilis pada Selasa (13/2/2024).
Penyakit-penyakit yang diderita korban di antaranya stroke dan serangan jantung. Namun, selain sudah mempunyai penyakit penyerta, ada hal teknis yang menjadi pemicu dan mengakibatkan kematian, yaitu kelelahan.
Dalam hal ini, kelelahan yang dimaksud Wawa dipicu oleh jam kerja petugas KPPS yang berlebih. Tidak hanya jam kerja saat hari pelaksanaan pemilu, mereka lanjut Wawan telah melakukan banyak hal sejak waktu persiapan coblosan.
"Kemudian di hari pelaksanaan mereka bekerja sejak pagi hingga malam. Belum lagi terkadang terjadi hal-hal tak terduga yang menimbulkan kebingungan dan menuntut mereka melakukan koordinasi tambahan seperti surat suara yang kurang, data daftar pemilih tetap (DPT) yang tidak sinkron dan lain-lain," ungkapnya.
Wawa mengapresiasi langkah komisi pemilihan umum (KPU) DIY yang menjadikan surat keterangan sehat sebagai syarat pendaftaran anggota KPPS. Batas usia anggota pun dibatasi maksimal 55 tahun juga diharap meminimalisir kejadian serupa terulang.
KPU DIY juga telah bekerjasama dengan beberapa universitas yang memiliki fakultas kesehatan, salah satunya UGM, untuk membuat layanan e-screening yang dapat diakses oleh petugas kesehatan. Harapannya petugas kesehatan dapat mengetahui kondisi kesehatan terkini para anggota KPPS.
BACA JUGA: 78 WNI di Inggris Batal Nyoblos di TPS, Berikut Kronologi dan Penjelasan PPLN
"Layanan tersebut dapat diakses sebelum pemilu untuk mengetahui faktor risiko dan hari H atau setelahnya untuk menapis kedaruratan. Jika keluhan kesehatan yang dialami dapat diketahui dan ditangani lebih dini, diharapkan tidak berakhir pada fatalitas," tegasnya.
Kendati telah meminimalisir risiko dengan serangkaian upaya, Wawa tetap mengimbau kepada seluruh petugas KPPS yang bertugas untuk dapat menakar kondisi kesehatannya sendiri. Jam istirahat para anggota KPPS juga harus cukup.
Lalu apabila memiliki penyakit penyerta, KPPS bersangkutan diimbau untuk menghindari mengonsumsi makanan yang dapat memicu keparahan penyakitnya. "Kalau memiliki riwayat penyakit jantung ya jangan minum kopi berlebih," jelas Wawa.
Di sisi lain tugas yang akan dijalankan oleh para petugas KPPS bisa jadi akan menuntut mereka untuk bekerja lembur. Bagi petugas yang tidak terbiasa akan hal itu, bisa saka mengagetkan dan berdampak negatif bagi kesehatan. Karenanya Wawa mengimbau agar petugas KPPS menjaga kondisi tubuhnya dengan menjalankan olahraga-olahraga ringan sebelum hari pelaksanaan pemilu.
Imbauan ini juga berlaku kepada keluarga atau kerabat petugas KPPS. Supaya, anggota KPPS mendapat kesempatan untuk beristirahat seusai mereka menjalankan tugas. Wawa mengimbau agar keluarga atau kerabat turut mengawasi jika ada gejala-gejala yang tidak lazim pada anggota KPPS.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
BNN Ingatkan Bahaya Whip Pink, Gas Tertawa Bukan untuk Gaya Hidup
Advertisement
Peta Global Situs Warisan Dunia Unesco dari Eropa hingga Asia
Advertisement
Berita Populer
- Ratusan Peserta CKG Bantul Terindikasi Kemungkinan Depresi
- Kasus Suami Hentikan Penjambret Berujung Damai, Pengawasan GPS Dicabut
- Modus Cari Kerja, Pemuda 19 Tahun Curi Ponsel Warung di Jetis Jogja
- Restorasi Gumuk Pasir Bantul Menjadi Fokus Penataan Pantai Selatan
- Cemburu Berujung Kekerasan, Pemuda Jogja Diserang Senjata Tajam
Advertisement
Advertisement



