Kemarau, Kasus Kebakaran Lahan di Gunungkidul Melonjak
Kasus kebakaran lahan di Gunungkidul meningkat menjadi 15 kasus selama musim kemarau. Warga diminta tidak membakar sampah sembarangan.
Ilustrasi pupuk bersubsidi./Antara
Harianjogja.com, SLEMAN—Kabar baik bagi petani Sleman lantaran adanya penambahan kuota pupuk bersubsidi. Kebijakan ini diharapkan dapat mendukung peningkatan produktivitas tanaman pangan di Bumi Sembada.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Suparmono mengatakan tambahan pupuk subsidi untuk petani sudah ada kepastian.
Hal ini tertuang dalam Angka penambahan pupuk subsidi ini berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DIY No.166/Kep/2024 yang kemudian ditindalanjuti dengan penetapan melalui Surat Keputusan Bupati Sleman Nomor 31.A/Kep. KDH/A/2024.
Total ada dua jenis pupuk yang mendapatkan subsidi dari pemerintah. Untuk jenis Urea pada awalnya hanya mendapatkan alokasi sebanyak 5.641 ton, tapi setelah ada penambahan menjadi 9.642 ton.
Hal yang sama juga terjadi pada jenis Phonska atau NPK. Kuota awal, petani Sleman hanya memeroleh 3.516 ton, tapi sekarang naik menjadi 7.516 ton.
“Penambahan kuota ini sangat berarti karena dapat membantu petani dalam proses mendapatkan pupuk dalam proses pemeliharaan. Diharapkan, ini juga dapat membantu dalam peningkatan produktivitas panen milik petani,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui tambahan ini belum sesuai dengan rencana kebutuhan kelompok yang tertuang dalam e-RDKK. “Untuk pupuk Urea kebutuhannya sekitar 10.691 ton dan NPK 11.969 ton. Jumlah ini dipergunakan merawat sembilan komoditas pertanian dengan luasan lahan mencapai 46.926 hektare,” katanya.
Hingga sekarang penyerapan pupuk bersubsidi belum maksimal. Pasalnya, realisasi serapan untuk urea baru sebesar 2.239 ton atau 23,22%. Dan NPK baru terserap 1.443 ton atau setara dengan 19,20%.
“Harapannya petani yang sudah masuk e-RDKK segera menebus untuk kepentingan pemeliharaan tanaman pangain di masa tanam kedua. Selain itu, juga bisa untuk perawatan tanaman seperti cabai dan lainnya,” katanya.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Siti Rochayah mengatakan, petani sudah memasuki masa panen raya perdana mulai Januari hingga April lalu.
BACA JUGA: Alokasi Pupuk Bersubsidi di Gunungkidul Bertambah Jadi 21 Ribu Ton, Ini Kendala yang Muncul
Di panen saat ini, tercatat ada 12.643,3 hektare lahan tanaman padi yang panen. Jumlah ini terdiri dari lahan padi sawah seluas 12.173,3 hektare dan sisanya 470 hektare merupakan padi ladang. “Hasil pengubinan yang dilakukan, untuk padi sawah provitasnya mencapai 6,1 ton per hektarenya. Sedangkan untuk padi ladang di kisaran 3,4 ton per hektare,” kata Siti.
Secara total panen raya perdana ini mampu menghasilkan gabah kering giling seberat 76.789 ton. Produktivitas ini berasal dari lahan padi sawah seberat 75.179 ton dan padi ladang sebanyak 1.619 ton.
“Target produksi beras tahun ini mencapai 179.174 ton gabah kering giling di 2024. Masih ada panen di masa tanam kedua dan ketiga. Mudah-mudahan hasilnya bagus sehingga target produksi terpenuhi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus kebakaran lahan di Gunungkidul meningkat menjadi 15 kasus selama musim kemarau. Warga diminta tidak membakar sampah sembarangan.
Jadwal imsak, Subuh, dan Maghrib di DIY pada Kamis 30 Juli 2026 untuk puasa sunnah Kamis. Cek waktu sahur dan berbuka di sini.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 30 Juli 2026 lengkap dari Palur hingga Jogja. Simak 12 perjalanan dan tarif Commuter Line Rp8.000.
KPK mendalami penukaran 46.500 dolar Singapura yang diduga disiapkan Suhardiman Amby untuk Raja Juli Antoni dalam penyidikan kasus Kuansing.
PSEL Legok Nangka senilai Rp7,2 triliun mulai dibangun di Kabupaten Bandung. Proyek ini akan mengolah 2.131 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik 40,79 M
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 30 Juli 2026 tersedia 15 perjalanan dengan tarif Rp8.000. Cek jam keberangkatan tiap stasiun.