Pilur Gunungkidul Digelar 26 September, Pemkab Minta Logistik Tuntas H-2
Pilur serentak di 31 kalurahan Gunungkidul digelar 26 September 2026. Pemkab meminta seluruh logistik, terutama surat suara, siap H-2.
Ilustrasi pupuk bersubsidi./Antara
Harianjogja.com, SLEMAN—Kabar baik bagi petani Sleman lantaran adanya penambahan kuota pupuk bersubsidi. Kebijakan ini diharapkan dapat mendukung peningkatan produktivitas tanaman pangan di Bumi Sembada.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Suparmono mengatakan tambahan pupuk subsidi untuk petani sudah ada kepastian.
Hal ini tertuang dalam Angka penambahan pupuk subsidi ini berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DIY No.166/Kep/2024 yang kemudian ditindalanjuti dengan penetapan melalui Surat Keputusan Bupati Sleman Nomor 31.A/Kep. KDH/A/2024.
Total ada dua jenis pupuk yang mendapatkan subsidi dari pemerintah. Untuk jenis Urea pada awalnya hanya mendapatkan alokasi sebanyak 5.641 ton, tapi setelah ada penambahan menjadi 9.642 ton.
Hal yang sama juga terjadi pada jenis Phonska atau NPK. Kuota awal, petani Sleman hanya memeroleh 3.516 ton, tapi sekarang naik menjadi 7.516 ton.
“Penambahan kuota ini sangat berarti karena dapat membantu petani dalam proses mendapatkan pupuk dalam proses pemeliharaan. Diharapkan, ini juga dapat membantu dalam peningkatan produktivitas panen milik petani,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui tambahan ini belum sesuai dengan rencana kebutuhan kelompok yang tertuang dalam e-RDKK. “Untuk pupuk Urea kebutuhannya sekitar 10.691 ton dan NPK 11.969 ton. Jumlah ini dipergunakan merawat sembilan komoditas pertanian dengan luasan lahan mencapai 46.926 hektare,” katanya.
Hingga sekarang penyerapan pupuk bersubsidi belum maksimal. Pasalnya, realisasi serapan untuk urea baru sebesar 2.239 ton atau 23,22%. Dan NPK baru terserap 1.443 ton atau setara dengan 19,20%.
“Harapannya petani yang sudah masuk e-RDKK segera menebus untuk kepentingan pemeliharaan tanaman pangain di masa tanam kedua. Selain itu, juga bisa untuk perawatan tanaman seperti cabai dan lainnya,” katanya.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Siti Rochayah mengatakan, petani sudah memasuki masa panen raya perdana mulai Januari hingga April lalu.
BACA JUGA: Alokasi Pupuk Bersubsidi di Gunungkidul Bertambah Jadi 21 Ribu Ton, Ini Kendala yang Muncul
Di panen saat ini, tercatat ada 12.643,3 hektare lahan tanaman padi yang panen. Jumlah ini terdiri dari lahan padi sawah seluas 12.173,3 hektare dan sisanya 470 hektare merupakan padi ladang. “Hasil pengubinan yang dilakukan, untuk padi sawah provitasnya mencapai 6,1 ton per hektarenya. Sedangkan untuk padi ladang di kisaran 3,4 ton per hektare,” kata Siti.
Secara total panen raya perdana ini mampu menghasilkan gabah kering giling seberat 76.789 ton. Produktivitas ini berasal dari lahan padi sawah seberat 75.179 ton dan padi ladang sebanyak 1.619 ton.
“Target produksi beras tahun ini mencapai 179.174 ton gabah kering giling di 2024. Masih ada panen di masa tanam kedua dan ketiga. Mudah-mudahan hasilnya bagus sehingga target produksi terpenuhi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur serentak di 31 kalurahan Gunungkidul digelar 26 September 2026. Pemkab meminta seluruh logistik, terutama surat suara, siap H-2.
Penempatan lintas daerah manajer KDKMP dilakukan untuk pemerataan SDM. Status tetap berlaku dan lokasi bisa disesuaikan dengan domisili.
Indonesia baru memiliki 66 dokter aritmia untuk sekitar 280 juta penduduk. Akses deteksi dini dan terapi gangguan irama jantung perlu diperluas.
Jadwal PSIM Jogja vs Persija pada 10 Oktober 2026 dimajukan ke pukul 15.30 WIB di Stadion Sultan Agung karena pertimbangan keamanan.
SPP-TDLN mulai memungut PPN transaksi digital luar negeri sejak 25 September 2026 dengan melibatkan perbankan dan fintech.
El Nino diperkirakan berdampak hingga 2027. Pemerintah diminta memperkuat mitigasi untuk menjaga produksi dan harga pangan.