Advertisement
Warga Klenggotan Gelar Merti Dusun dan Tanam Pohon, Jaga Kelestarian Alam

Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL—Warga Dusun Kelenggotan, kalurahan Srimulyo, Kapanewon Piyungan menggelar upacara adat merti dusun sebagai wujud rasa syukur atas nikmat hasil bumi yang diberikan Tuhan. Kegiatan sebagai bagian dari melestarikan budaya dan juga menjaga alam.
Tidak hanya menampilkan berbagai kesenian, namun merti dusun ini juga diisi dengan membagikan hasil bumi kepada masyarakat dan juga menanam pohon di tepian Sungai Opak.
Advertisement
Di antara rumpun bambu tepi Sungai Opak yang masih berada dalam kawasan wisata Batu Kapal, warga Dusun Klenggotan beramai-ramai menyaksikan penanaman pohon kalimasada yang dipimpin langsung oleh Pemimpin Pondok Pesantren Kaliopak yang juga tokoh masyarakat Klenggotan, Kiai Jadul Mustofa.
jadul Mustofa mengatakan penanama pohon itu mengatakan pohon yang ditanam masih berupa tunas. Tingginya tidak lebih dari 50 sentimeter. Tapi maknanya sungguh besar. Karena seperti penanaman ini adalah manifestasi atau perwujudan dari peradaban giri samudra.
“Sungai Opak adalah sumbu ekologis karena menjadi satu-satunya sungai yang menghubungkan langsung dari Gunung Merapi ke laut selatan. Inilah wujud peradaban yang digambarkan dengan kerjasama warganya. Juga, banyak peradaban besar tumbuh dari sungai,” papar Kiai Jadul Mustafa, Minggu (18/8/2024) dilansir laman resmi Pemkab bantul.
Kejayaan Mesir Kuno , kata Jadul Mustofa, bergantung pada Sungai Nil. Begitu pula peradaban India Kuno yang lekat dengan Sungai Indus, atau bagaimana Sungai Kuning tak bisa dilepaskan dari sejarah peradaban Tiongkok. Di dalam negeri, sungai-sungai juga menjadi sentral lahirnya kerajaan besar. Sriwijaya, contohnya. Kekuatan maritimnya tak hanya soal laut, tapi juga sungai. Lalu ketika kompeni mulai menggurita di Batavia, mereka menjadikan Sungai Ciliwung sebagai salah satu andalan membangun peradaban.
“Sungai Opak ini dulu juga jadi salah satu tempat pertapaan Panembahan Senopati,” imbuh Kiai Jadul Maula.
BACA JUGA: Perusahaan Asal Klaten Mau Bantu Olah Sampah di Bantul Jadi Bahan Bangunan
Ketua Penyelenggara Merti Dusun Klenggotan, Agus Wardoyo, menyampaikan kegiatan ini sekaligus bentuk terima kasih kepada Tuhan atas limpahan rezeki yang diberikan sepanjang tahun.
“Kadang-kadang kita ini berlaku tidak adil pada bumi. Kita sebagai manusia kadang bertindak seenaknya saja. Tapi bumi tetap bersedia menumbuhkan tanaman-tanaman untuk kita bertahan hidup. Itu semua berkat sentuhan welas asih Gusti. Merti dusun itu salah satu bentuk rasa syukur dan terima kasih atas itu semua,” ucapnya.
Kegiatan merti dusun yang diikuti oleh delapan rukun tetangga dan komunitas pedagang pasar ini lantas dipungkas dengan berebut gunungan hasil bumi serta pentas kesenian emprak persembahan Pondok Pesantren Kaliopak
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih mengatakan mengajak warga untuk bersyukur karena wilayah Bantul diwarisi banyak oleh leluhur. Baik yang berwujud maupun tidak. Bantul adalah cikal bakal Mataram yang tercatat dalam sejarah.
"Kita ingat dulu Panembahan Senopati membabat Alas Mentaok yang kini jadi bagian wilayah Banguntapan. Lalu buyutnya, Sultan Agung, menaancapkan kejayaan Mataram Islam di Keraton Pleret,” ujar Halim.
Warisan budaya dari leluhur yang adiluhung, kata Halim, sudah sepatutnya dilestarikan. Terlebih budaya seperti saling tolong menolong, gotong royong, dan kerukunan antar warga yang sebisa mungkin tidak boleh luntur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement

Korban Gempa di Myanmar Terperangkap Enam Hari, Diselamatkan Tim SAR Malaysia
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Sempat Jadi Pintu Masuk, Exit Tol Tamanmartani Dialihkan Jadi Pintu Keluar Kembali
- Ribuan Orang Padati Pantai Parangtritis, Mayoritas Rombongan Keluarga
- Dishub Kota Jogja Pasang APILL Portable, Ini Lokasinya
- Setelah Lebaran, Mobilitas Warga DIY untuk Silaturahmi
- Mau ke Malioboro? Parkir di Gor Amongraga, Ada Shuttle Bus Siap Mengantar
Advertisement
Advertisement