Advertisement
Penderita Diabetes di Bantul Terus Meningkat, Capai 18.500 Kasus hingga September di 2024
Diabetes / Ilustrasi Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL—Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mencatat jumlah penderita diabetes melitus dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Meski begitu, tidak ada anak yang terdeteksi penyakit tersebut.
Dinkes Bantul mencatat jumlah penderita diabetes melitus tahun 2022 mencapai 15.727 kasus. Kemudian tahun 2023 meningkat menjadi 18.294 kasus. Pada Januari-September 2024, jumlahnya lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2023 yang mencapai 18.520 kasus.
Advertisement
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinkes Bantul, Feranose Panjuantiningrum menyampaikan, rentang usia sebagian besar yang mengalami diabetes melitus di atas 50 tahun. "Saat ini belum dilaporkan adanya kasus diabetes melitus pada balita di Bantul," katanya, Sabtu (5/10/2024).
Dia menuturkan, penderita diabetes melitus disebabkan karena gaya hidup yang tidak sehat. "[Penderita diabetes melitus] kurang aktivitas fisik, pola makan yang tidak sehat, antara lain tinggi asupan gula, konsumsi minuman kemasan atau dalam botol," jelasnya.
Selain itu, konsumsi alkohol, kurangnya buah dan sayur juga dapat menjadi faktor risiko terkena penyakit tersebut. "Selain itu, kurangnya awareness dari masyarakat untuk melakukan skrining dan kontrol rutin bagi penderita diabetes melitus juga berpengaruh terhadap penyakit tersebut," ujar Fera.
Upaya penanggulangan penyakit diabetes melitus dilakukan dengan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Promosi dilakukan dengan edukasi kepada masyarakat. Kemudian upaya preventif dilakukan dengan skrining penyakit diabetes melitus pada masyarakat.
Adapun upaya kuratif dan rehabilitatif dilakukan dengan pengecekan kadar gula secara rutin bagi penderita diabetes melitus. "Minimal satu kali sebulan sebagai upaya pemberian standar pelayanan minimal penderita diabetes melitus, edukasi dan obat," ucapnya.
BACA JUGA : Penderita DM di DIY Mulai Tampak Sejak Usia Belasan Tahun
Dinkes Bantul juga melakukan skrining untuk mengantisipasi komplikasi penyakit diabetes melitus dengan pemeriksaan profil lipid dan rekam jantung.
Rumah sakit dan puskesmas disiapkan untuk memberikan pelayanan kesehatan dalam penanggulangan penyakit diabetes melitus sesuai standar. Termasuk penyediaan bahan medis habis pakai gula darah, skrining kombinasi pemeriksaan profil lipid, EKG dan obat-obatan.
"Kami menghimbau agar masyarakat menerapkan pola hidup sehat, melakukan skrining kesehatan minimal setahun sekali, dan yang sudah menderita diabetes melitus dapat melakukan kontrol rutin di fasyankes" katanya.
Skrining Puskesmas
Kepala Dinkes DIY Pembajun Setyaningastutie mengatakan, pihaknya akan melakukan upaya penanganan untuk menekan angka diabetes melitus yang tinggi di DIY. Dinkes DIY mendorong masyarakat melakukan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau Germas dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),
"Bagi lansia, kami dorong juga ikut Program Pengelolaan Penyakit Kronis yang merupakan program dari BPJS Kesehatan, yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup para penderita penyakit kronis," ucapnya.
Pihaknya juga akan meningkatkan skrining di puskesmas untuk memetakan jumlah penderita diabetes melitus di DIY. Dengan begitu, dia berharap penderita penyakit tersebut dapat diobati dengan optimal."Ketika di-skrining kemungkinan kasus akan naik, tapi dengan itu bisa diobati," kata Pembajun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Penantian Sepekan Berakhir Jenazah Perwira TNI Tiba di Cimahi
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Update KRL Jogja ke Solo Hari Ini 4 April 2026, Ini Jamnya
- Cuaca Jogja 4 April 2026 Didominasi Hujan, Ini Rinciannya
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 4 April 2026, Cek Jam Lengkapnya
- Pemadaman Listrik di Bantul 4 April 2026, Cek Wilayah Terdampak
Advertisement
Advertisement








