Advertisement
Festival Moderasi Keindonesiaan, Generasi Muda Jadi Pilar Utama Jaga Kerukunan

Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Festival Moderasi Keindonesiaan yang digelar oleh Yayasan Pegiat Pendidikan Indonesia (Pundi) bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama Jogja menyoroti peran krusial generasi muda dalam menjaga keberagaman dan kerukunan di Indonesia. Acara yang menghadirkan para ahli dan sejumlah pembicara ini sepakat bahwa moderasi beragama perlu terus digalakkan, terutama di kalangan milenial dan Gen-Z.
Direktur Eksekutif Pundi, Ari Susanto menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai moderasi sejak dini melalui media sosial. “Generasi muda sangat dekat dengan media sosial, sehingga rentan terpapar pemahaman agama yang sempit,” ujarnya, Minggu (15/12/2024).
Advertisement
Dia menyebutkan bahwa bahwa program-program Pundi memang difokuskan pada penyemaian nilai-nilai moderasi di kalangan generasi muda. "Moderasi di kalangan generasi milenial dan Gen-Z perlu digalakkan melalui media sosial karena generasi tersebut adalah generasi yang dekat dengan media sosial sehingga cenderung terpengaruh oleh pemahaman keagamaan yang parsial," kata Ari.
Kepala Kantor Kemenag Kota Jogja, Nadhif juga mengakui bahwa program moderasi belum maksimal menjangkau mahasiswa. Pihaknya mengapresiasi upaya Pundi dalam menggelar Festival Moderasi Keindonesiaan, sehingga upaya untuk mengenalkan moderasi beragama kepada generasi muda bisa terus diperkuat.
"Kami menganggap bahwa Indonesia sekarang menghadapi tantangan radikalisme, diintegrasi dan intoleransi. Padahal Indonesia ini potensi keragamannya luar biasa, kalau ini tidak disikapi dengan baik maka harapan kita terwujudnya kehidupan yang harmonis itu tidak bisa," katanya.
Prof. Dr. Zuly Qodir dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta memberikan pandangan menarik tentang persepsi moderasi di masyarakat. Menurutnya, moderasi bukanlah sikap lemah, melainkan bentuk kecintaan terhadap keberagaman. “Moderasi keindonesiaan adalah mencintai keberagaman,” tegas Zuly.
Sementara itu, Tenaga Ahli Kemenag Sunanto menyoroti pentingnya mengkritisi narasi kebhinekaan yang seringkali dipolitisasi. Ia juga menekankan bahwa hubungan antar manusia harus didasarkan pada saling menghormati keyakinan masing-masing.
Dosen Universitas Ahmad Dahlan, Hatib Rachmawan menekankan pentingnya pendidikan agama yang inklusif. “Pendidikan agama harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak,” kata Hatib. Ia juga mengingatkan bahwa benih-benih pemikiran ekstrem masih tumbuh di sekitar kita, sehingga peran pengajar agama yang inklusif sangat penting.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement

Korban Gempa di Myanmar Terperangkap Enam Hari, Diselamatkan Tim SAR Malaysia
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Polres Bantul Belum Simpulkan Penyebab Kematian Warga Wonogiri yang Ditemukan di Kali Code
- Sempat Jadi Pintu Masuk, Exit Tol Tamanmartani Dialihkan Jadi Pintu Keluar Kembali
- Ribuan Orang Padati Pantai Parangtritis, Mayoritas Rombongan Keluarga
- Dishub Kota Jogja Pasang APILL Portable, Ini Lokasinya
- Setelah Lebaran, Mobilitas Warga DIY untuk Silaturahmi
Advertisement
Advertisement