DPRD Gunungkidul Segera Bahas 3 Raperda Baru, Ini Daftarnya
DPRD Gunungkidul segera membahas tiga Raperda baru tentang rokok, pariwisata, dan jaminan sosial ketenagakerjaan.
Seorang pengunjung membeli durian dalam acara Pasar Durian Runtuh yang berlangsung di Parkiran HeHa Sky View di Kapanewon Patuk. Rabu (12/2/2025)./ Harian Jogja - David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Keberadaan durian asli Gunungkidul Kencono Rukmi mulai tersisih dengan varietas lainnya. Diduga durian lokal ini kurang diminati petani karena harga jual yang lebih murah ketimbang varietas seperti monthong, bawor hingga duri hitam.
Lurah Nglanggeran, Patuk, Widada mengatakan, daerahnya merupakan salah satu sentra penghasil durian di Kapanewon Patuk, Gunungkidul. Jenis yang ditanam bervariasi mulai dari varietas lokal semodel Kencono Rukmi hingga yang sedang ngetren saat sekarang, Duri Hitam.
Meski demikian, ia mengakui, untuk jenis lokal Kencono Rukmi mulai tersisih. Hal ini dikarenakan, petani memilih varietas lain yang dinilai lebih prospektif dari sisi bisnis.
“Ada beberapa pohon [Kencono Rukmi] milik petani yang berbuah, tapi tidak banyak. Memang keberadaanya sudah kalah dengan varietas lain,” kata Widada, Ahad (23/2/2025).
Ia menduga, durian jenis Kencono Rukmi kurang dilirik petani karena harga jual yang rendah. Widada menuturkan, untuk jenis lain seperti Duri Hitam per kilonya bisa dihargai Rp350.000.
Hal yang sama untuk jenis Bawor yang bisa mencapai lebih dari Rp100.000 per kilogram. Sedangkan Kencono Rukmi dijual per buah dengan harga ditentukan dengan ukuran besar atau kecil.
“Inilah yang menjadi salah satu alasan petani memilih membudidayakan durian varietas unggul, ketimbang yang lokal asli Gunungkidul,” ungkapnya.
BACA JUGA: Maret Jadi Puncak Panen Raya Padi di Gunungkidul
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Ketua Kelompok Tani Kencono Mukti Embung Nglanggeran, Sudiyono mengatakan, durian Kencono Rukmi dengan harga Rp100.000 per buah sudah mahal dan ukurannya sudah besar. Rata-rata durian lokal ini dipasarkan di kisaran Rp50.000-75.000 per butirnya.
“Kalau budidayanya, Kencono Rukmi menyebar di perkarangan warga. Sedangkan varietas lain terpusat, contohnya di kawasan Embung Nglanggeran ada jenis Monthong dan Bawor,” katanya.
Menurut dia, harga jual menjadi faktor utama alasan petani tidak lagi mengembangkan durian lokal Gunungkidul. Di sisi lain, dari sisi perawatan tidak berbeda jauh dengan varietas durian unggul sehingga lebih memilih menanam jenis lain seperti Duri Hitam, Bawor dan lainnya.
“Tanaman durian memiliki cara perawatan yang sama, meski beda varietasnya. Mungkin inilah yang membuat petani lebih mengembangkan durian varietas unggulan karena keuntungan yang diperoleh juga lebih banyak,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul segera membahas tiga Raperda baru tentang rokok, pariwisata, dan jaminan sosial ketenagakerjaan.
MK menyatakan permohonan sengketa syarat pendidikan Gibran tak dapat diterima. Mahkamah juga tak menemukan bukti ijazah setara SMA.
Kemlu RI mengungkap diplomasi tertutup membebaskan empat ABK WNI yang disandera perompak Somalia selama lima bulan sebelum dipulangkan ke Indonesia.
WJNC 2026 digelar hari ini di Malioboro dan Titik Nol. Simak rekayasa lalu lintas serta lokasi parkir resmi selama acara.
Inggris menang 3-0 atas Republik Ceko di Grup A3 UEFA Nations League. Harry Kane mencetak dua gol dan Inggris naik ke posisi kedua.
HCC mendorong masyarakat memanfaatkan CKG di tengah penyesuaian anggaran. Studi HCC menemukan hampir 60 persen anak muda memilih swadiagnosis.