ETF Emas Resmi Meluncur di BEI, Pegadaian Jadi Underlying Provider
Exchange Traded Fund (ETF) Emas resmi diluncurkan dan mulai tercatat serta diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (10/8/2026).
Plh Kepala BPS Gunungkidul Retno Widiyanti saat memaparkan inflasi April di Kantor BPS Gunungkidul, Jumat (2/5/2025). Harian Jogja/David Kurniawan
GUNUNGKIDUL—Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi di Gunungkidul pada April 2025 secara month to month (m-to-m) sebesar 1,79%. Perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang terbesar terjadinya inflasi di Bumi Handayani.
Pelaksana Harian Kepala BPS Gunungkidul, Retno Widiyanti mengatakan, pada April 2025 terjadi inflasi years on years (y-to-y) sebesar 2,19% dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 207,75. Kenaikan terjadi karena naiknya Sebagian besar indeks kelompok pengeluaran seperti makanan, minuman, tembakau; kelompok kesehatan hingga perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Adapun untuk inflasi m-to-m pada April, BPS mencatat inflasi di Gunungkidul sebesar 1,79%. “Total ada 11 item yang menjadi indikator dalam perhitungan inflasi,” kata Retno saat memaparkan inflasi April di Kantor BPS Gunungkidul, Jumat (2/5/2025).
Dia menjelaskan, komoditas yang menyebabkan terjadinya inflasi m-to-m April antara lain tarif listrik, emas perhiasan, kelapa, angkuta antar kota, beras, bawang merah, tempe, cabai merah dan lainnya. Selain itu, juga ada komoditas yang menyebabkan deflasi seperti daging ayam ras, telur ayam, pulsa ponsel, bensin hingga pembersih lantai.
“Yang jelas, momen Lebaran memberikan andil dalam terjadinya inflasi. Misalnya, untuk transportasi ada kenaikan harga hingga 8 April. Hal yang sama untuk tarif listrik, memang sempat ada diskon, tapi hanya dua bulan dan setelahnya kembali normal,” katanya.
Senada diungkapkan oleh Statistik Ahli Pertama, BPS Gunungkidul Ardiyas Munsyianta. Menurut dia, pada Januari dan Februari sempat terjadi deflasi. Namun mulai Maret terjadi inflasi sebesar 1,24% dan April sebesar 1,79%.
“Potongan tarif listrik ikut memberikan andil terjadinya deflasi. Namun, memasuki Maret sudah tidak ada lagi potongan, maka mulai terjadi inflasi,” katanya.
Dijelaskannya, inflasi yang terjadi pada April didominasi perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga menyumbang sebesar 1,58%. Adapun sektor lain seperti perawatan pribadi dan jasa lainnya; perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga, pakaian dan alas kaki juga ikut andil, tapi sumbangsihnya tidak terlalu signifikan.
“Listrik terjadi karena pelanggan pasca bayar karena pembayaran Maret baru ditagih April. Sumbangsih ini tidak lepas karena subsidi yang diberikan hanya berlangsung Januari dan Februari, setelah itu tarif kembali normal,” katanya. (***)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Exchange Traded Fund (ETF) Emas resmi diluncurkan dan mulai tercatat serta diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (10/8/2026).
Korban tewas gempa magnitudo 7,4 di Kolombia bertambah menjadi 265 orang. Sebanyak 3.494 warga terluka dan 496 lainnya masih dinyatakan hilang.
EcoTank Epson tembus penjualan 100 juta unit secara global. Indonesia menjadi negara pertama yang memperkenalkan teknologi printer tangki tinta Epson.
Google resmi meluncurkan Pixel 11 Series yang terdiri dari Pixel 11, Pixel 11 Pro, Pixel 11 Pro XL, dan Pixel 11 Pro Fold. Dibekali Tensor G6, Gemini AI terbaru
ASUS ExpertBook P5 G2, Laptop Kerja Terbaik Berbasis Intel Core Ultra Series 3Performa, efisiensi dan keamanan kelas bisnis dalam laptop berdesain ringkas
MK cabut larangan penggunaan lambang Garuda Pancasila di luar ketentuan UU. Masyarakat kini bebas memakai Garuda di kaus, topi, hingga atribut lainnya tanpa san