Fakta Janggal Temuan 11 Bayi di Pakem Sleman, KPAI Buka Suara
KPAI soroti kejanggalan temuan 11 bayi di Sleman. Diduga ada praktik perdagangan bayi berkedok adopsi dan penitipan anak.
Peternakan ayam broiler. - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Indonesia membutuhkan lompatan besar di sektor unggas, dan dana Rp20 triliun dari pemerintah harus diarahkan untuk mempercepat transformasi produksi dari hulu hingga hilir.
Hal ini terungkap dalam Sarasehan Peternakan Unggas di Auditorium drh. R. Soepardjo, Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu (22/11/2025). Sarasehan bertujuan mengidentifikasi peluang penguatan sekaligus tantangan struktural yang masih menghambat peningkatan produksi. Acara ini mempertemukan akademisi, pelaku industri, pemerintah, organisasi profesi, dan peternak.
Dengan tema Transformasi Peternakan Unggas Nasional: Optimalisasi Dana 20 Triliun Menuju Kemandirian Pangan, forum ini penting untuk menelaah kembali arah produksi unggas dan telur nasional dalam jangka panjang.
Dekan Fapet UGM, Profesor Budi Guntoro, menyampaikan bahwa rencana penggelontoran anggaran Rp20 triliun oleh Pemerintah Pusat harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat rantai pasok, dan mempersiapkan sektor unggas menghadapi lonjakan kebutuhan protein hewani masyarakat.
Ia menambahkan Indonesia membutuhkan peta jalan produksi unggas dan telur yang lebih terintegrasi, dari pembibitan, pakan, kesehatan hewan, hingga distribusi.
“Kami juga berharap ada rekomendasi yang membangun untuk kebijakan, investasi, dan penguatan kelembagaan peternak. Selain tentu saja untuk mendorong kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan peternak,” kata Guntoro, Sabtu (22/11/2025).
Arah Kebijakan Nasional
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, Agung Suganda, memaparkan bahwa pemanfaatan anggaran Rp20 triliun tidak hanya berfokus pada integrasi industri, tetapi terutama pada peningkatan kapasitas produksi unggas dan telur secara berkelanjutan.
Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan agar produksi ayam pedaging dan petelur tetap stabil serta harga di tingkat konsumen maupun peternak tetap terjaga.
Penguatan sistem kesehatan hewan dan pembangunan ekosistem produksi unggas terpadu antardaerah juga penting mendapat sorotan karena hal ini bisa mengurangi ketergantungan pasokan dari Jawa.
Selain peluang peningkatan produksi, forum ini juga menyoroti risiko seperti kesenjangan akses sarana produksi pertanian, lemahnya posisi tawar peternak kecil, serta kebutuhan penguatan kelembagaan peternak agar mampu berpartisipasi dalam transformasi industri unggas skala besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KPAI soroti kejanggalan temuan 11 bayi di Sleman. Diduga ada praktik perdagangan bayi berkedok adopsi dan penitipan anak.
Bedah buku berjudul Budidaya Bawang Merah Asal Biji digelar di Padukuhan Dayakan 2, Kalurahan Kemiri, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul, Rabu (20/5).
Katarak kini banyak menyerang usia muda. Faktor diabetes dan paparan UV jadi penyebab utama, kenali gejala sejak dini.
Garebeg Besar 2026 di Keraton Jogja digelar tanpa kirab prajurit. Prosesi tetap sakral meski format disederhanakan.
Jadwal KRL Jogja–Solo terbaru 2026 lengkap dari Tugu ke Palur. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat, praktis, dan hemat.
DPRD Bantul dukung penataan guru honorer jadi PPPK. Pemkab setop rekrutmen honorer baru hingga 2026.