Advertisement

DLH Gunungkidul Anggarkan Rp160 Juta untuk Pakan Monyet

David Kurniawan
Selasa, 13 Januari 2026 - 17:27 WIB
Jumali
DLH Gunungkidul Anggarkan Rp160 Juta untuk Pakan Monyet Monyet Ekor Panjang - ilustrasi - Antara

Advertisement

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— DLH Gunungkidul mengalokasikan anggaran Rp160 juta untuk pakan monyet ekor panjang guna menekan konflik dengan warga dan melindungi lahan pertanian.

Kepala Bidang Konservasi dan Kerusakan Lingkungan DLH Gunungkidul, Hana Kadaton Adinoto, mengatakan pihaknya kembali melaksanakan kegiatan pemberian makan monyet ekor panjang. Sama seperti penyelenggaraan sejak tahun 2023, pemerintah kabupaten rutin mendapatkan dana keistimewaan untuk menjalankan program ini.

Advertisement

“Pagu anggarannya memang tidak sebanyak tahun lalu yang mencapai Rp200 jutaan. Hal ini disebabkan adanya efisiensi dari pemerintah pusat, sehingga anggarannya berkurang dan pagu untuk memberi makan monyet hanya sebesar Rp160 juta,” kata Adinoto, Selasa (13/1/2026).

Jenis pakan yang diberikan masih sama, yaitu ketela, singkong, hingga pisang. Anggaran ini, menurut dia, tidak hanya digunakan untuk membeli buah-buahan maupun singkong, tetapi juga untuk upah para pemberi pakan.

“Rencananya pakan-pakan ini mulai disebar pada Februari hingga Desember nanti. Lokasinya difokuskan di wilayah-wilayah pesisir seperti di Kapanewon Tepus dan sekitarnya,” ungkapnya.

Ditanya mengenai pelaksanaan program pemberian pakan di tahun 2025, Adinoto memastikan program berjalan lancar. Dia mengakui lebih dari dua ton pakan, mulai dari ketela, ubi kayu, pisang, hingga pepaya, disebar di titik-titik yang menjadi wilayah tinggal kawanan monyet.

“Pakan diberikan rutin setiap hari, meskipun proses penebarannya dilakukan secara bergantian. Setiap hari ada pasokan sekitar 45 kilogram singkong dan 18 sisir pisang untuk diberikan kepada monyet,” katanya.

Dia menambahkan, kebijakan menyediakan pasokan pangan untuk monyet ekor panjang merupakan solusi jangka pendek. Selain itu, ada juga program jangka panjang dengan melakukan penanaman bibit buah untuk menjaga ketersediaan pangan secara alami.

“Harapannya, dengan tersedianya pakan ini, kawanan monyet tidak menyerang lahan pertanian warga,” katanya.

Terpisah, Ulu-Ulu Kalurahan Purwodadi, Tepus, Suroyo, mengatakan serangan monyet ekor panjang masih menjadi ancaman. Terlebih, populasi kawanan primata tersebut terus meningkat pesat dari waktu ke waktu.

“Sekarang sudah ada sebelas titik persembunyian monyet di Kalurahan Purwodadi yang mengancam lahan pertanian masyarakat,” kata Suroyo.

Dia berharap ada solusi pasti agar populasi kawanan monyet bisa ditekan sehingga tidak menyerang area pertanian. Ditanya mengenai upaya pengusiran, Suroyo mengakui warga sudah berusaha dengan membunyikan petasan hingga menunggui ladang hingga petang. Kendati demikian, cara ini dinilai tidak efektif untuk mengusir kawanan monyet.

Suroyo menambahkan, serangan monyet ekor panjang tidak hanya terjadi di Kalurahan Purwodadi. Kalurahan lain di Kapanewon Tepus juga mengalami hal serupa.

“Intinya, wilayah yang berada di daerah pesisir sangat rawan menjadi korban gangguan kawanan monyet ekor panjang,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Skandal Upeti Polisi Malaysia, Terima Suap Lindungi Bisnis Ilegal

Skandal Upeti Polisi Malaysia, Terima Suap Lindungi Bisnis Ilegal

News
| Selasa, 13 Januari 2026, 20:37 WIB

Advertisement

Tren Wisata 2026: Bangkok Teratas, Bali 10 Besar Dunia

Tren Wisata 2026: Bangkok Teratas, Bali 10 Besar Dunia

Wisata
| Selasa, 13 Januari 2026, 16:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement