Advertisement

Banjir Sumatera Tekan Kunjungan Wisata ke Jogja Awal 2026

Lugas Subarkah
Selasa, 27 Januari 2026 - 05:57 WIB
Sunartono
Banjir Sumatera Tekan Kunjungan Wisata ke Jogja Awal 2026 Wisatawan memadati kawasan Jalan Malioboro, Jogja. - Harian Jogja - Gigih M Hanafi

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Bencana banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara berdampak langsung terhadap arus kunjungan wisata ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kondisi tersebut terasa signifikan karena wisatawan asal Sumatera selama ini menjadi salah satu kontributor utama kunjungan wisata ke Jogja.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo, menyebut dalam kondisi normal wisatawan dari Pulau Sumatera menyumbang sekitar 10–15 persen dari total kunjungan wisata ke Jogja. Persentase tersebut dinilai cukup besar dibandingkan daerah lain. “10 sampai dengan 15 persen dari Sumatera, itu tinggi sekali,” ujarnya, Senin (26/1/2026).

Advertisement

Namun, bencana banjir besar yang terjadi pada November 2025 lalu membuat kunjungan wisatawan asal Sumatera praktis terhenti, terutama pada periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Deddy mengungkapkan, tidak ada wisatawan dari Sumatera yang datang ke Jogja pada periode tersebut. “Dulu dari Padang sering datang ke sini, kemarin nol,” katanya.

Upaya industri perhotelan di DIY untuk menarik kembali wisatawan Sumatera sebenarnya telah dilakukan, termasuk dengan menawarkan berbagai promo khusus. Namun, kondisi bencana alam di daerah asal wisatawan membuat strategi tersebut belum membuahkan hasil optimal.

“Ya bismillah, harapan kita semoga bencana-bencana itu sudah enggak ada, karena bencana itu juga menurunkan okupansi,” paparnya.

Memasuki periode pasca-Nataru, industri pariwisata DIY kini kembali berada dalam fase low season yang berlangsung sejak pertengahan Januari hingga awal Maret. Meski demikian, Deddy menilai tingkat okupansi hotel di Jogja masih berada pada level yang relatif aman.

Pada periode low season ini, tingkat hunian hotel di DIY tercatat berada di kisaran 50–60 persen. Angka tersebut dinilai masih cukup baik jika dibandingkan dengan daerah lain.

“Januari low sampai Februari low. Terlebih Februari, karena menjelang puasa sampai Maret. Tapi tingkat huniannya masih lumayan. Daerah PHRI lain justru sudah mengeluh sejak Januari, terutama luar Jawa, bahkan Jawa Timur juga,” ungkapnya.

Di tengah low season, adanya momentum libur panjang akhir pekan tetap mampu mendongkrak okupansi hotel. Salah satunya terjadi pada libur Isra’ Mi’raj beberapa waktu lalu.

“Pada libur Isra’ Mi’raj kemarin okupansi hotel cukup tinggi, 70 sampai 90 persen,” ujarnya.

Momentum tersebut dimanfaatkan pelaku industri perhotelan untuk melakukan pembenahan internal, mulai dari peningkatan kualitas hospitality, perbaikan fasilitas, hingga penguatan sumber daya manusia (SDM). Menurut Deddy, langkah ini penting agar industri pariwisata DIY tetap kompetitif di tengah persaingan antardestinasi.

“Kita harus introspeksi kalau tidak mau tenggelam. Sekarang semua destinasi berlomba-lomba memperbaiki diri,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Rawan Penularan Virus Nipah, Thailand Perketat Skrining Penerbangan

Rawan Penularan Virus Nipah, Thailand Perketat Skrining Penerbangan

News
| Selasa, 27 Januari 2026, 05:27 WIB

Advertisement

Festival Lampion Dinosaurus Zigong Tarik Wisatawan ke Sichuan

Festival Lampion Dinosaurus Zigong Tarik Wisatawan ke Sichuan

Wisata
| Sabtu, 24 Januari 2026, 15:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement