Advertisement

Awal 2026, Gunungkidul Alami Deflasi 0,17 Persen, Ini Penyebabnya

David Kurniawan
Selasa, 03 Februari 2026 - 23:37 WIB
Abdul Hamied Razak
Awal 2026, Gunungkidul Alami Deflasi 0,17 Persen, Ini Penyebabnya Statistik Ahli Pertama, BPS Gunungkidul Ardiyas Munsyianta saat memaparkan laju inflasi pada Januari 2026 di kantor BPS. Senin (2/2/2026)Harian Jogja - David Kurniawan

Advertisement

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Kabupaten Gunungkidul mengalami deflasi sebesar 0,17 persen pada Januari 2026. Penurunan harga ini dipicu meredanya permintaan sejumlah kebutuhan pokok setelah momentum Natal dan Tahun Baru 2025.

Statistik Ahli Pertama BPS Gunungkidul, Ardiyas Munsyianta, menjelaskan deflasi secara bulanan atau month to month (m-to-m) telah terjadi secara konsisten dalam tiga tahun terakhir setiap Januari. Pada Januari 2024 tercatat deflasi 0,08 persen, sementara Januari 2025 mencapai 0,35 persen.

Advertisement

“Fenomena ini lazim terjadi karena pada Desember biasanya ada lonjakan permintaan akibat perayaan Natal dan Tahun Baru. Setelah itu, harga-harga kembali turun sehingga memicu deflasi di awal tahun,” ujarnya, Selasa (3/2/2026).

Ia menyebut kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi dengan andil sebesar 0,46 persen. Dua komoditas yang paling berpengaruh yakni cabai merah dan daging ayam ras yang mengalami penurunan harga cukup signifikan.

Meski demikian, beberapa komoditas justru memberikan tekanan inflasi. Emas perhiasan tercatat menyumbang inflasi sebesar 0,28 persen, disusul bayam dengan kontribusi 0,03 persen.

Berdasarkan perbandingan tahunan atau year on year (y-on-y), inflasi Gunungkidul pada Januari 2026 mencapai 3,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh sejumlah kelompok pengeluaran, antara lain makanan dan minuman, pakaian dan alas kaki, serta perumahan, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.

Kepala BPS Gunungkidul, Agus Hartanto, menambahkan secara keseluruhan laju inflasi sepanjang 2025 berada di angka 2,93 persen. Capaian tersebut masih dalam batas toleransi inflasi nasional yang berkisar antara 1,5 hingga 3,5 persen.

“Inflasi memang tetap terjadi, namun masih terkendali dan berada dalam koridor kewajaran,” katanya.

Menurut Agus, kelompok makanan dan minuman menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan kontribusi mencapai 1,64 persen. Komoditas yang paling berpengaruh di antaranya beras, kelapa, dan cabai rawit.

Selain itu, sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya turut memberikan andil sebesar 0,67 persen. Kenaikan harga emas dan perhiasan menjadi faktor utama pada kelompok ini, yang diduga dipengaruhi oleh penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah.

Dibandingkan kabupaten dan kota lain di DIY, Agus menyebut inflasi Gunungkidul merupakan yang terendah. Sebagai perbandingan, inflasi Kota Jogja tercatat sebesar 3,33 persen, sementara inflasi Provinsi DIY mencapai 3,11 persen.

“Angka Gunungkidul hanya sedikit di atas rata-rata nasional yang berada di 2,92 persen. Secara keseluruhan masih tergolong stabil,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Manipulasi Saham MPAM Terbongkar, Tiga Orang Jadi Tersangka

Manipulasi Saham MPAM Terbongkar, Tiga Orang Jadi Tersangka

News
| Selasa, 03 Februari 2026, 22:57 WIB

Advertisement

Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun

Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun

Wisata
| Kamis, 29 Januari 2026, 11:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement