Advertisement
Kamera Trap BKSDA DIY Ungkap Jejak di Candirejo Bukan Macan
Seekor Musang terlihat dalam hasil jepretan Kamera Trap yang dipasang tim BKSDA DIY di wilayah di Padukuhan Panggul Kulon, Candirejo, Semanu. Foto tertangkap 29 Januari 2026 - Foto Istimewa
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY memastikan jejak misterius yang sempat meresahkan warga Padukuhan Panggul Kulon, Kalurahan Candirejo, Kapanewon Semanu, Gunungkidul, pada awal Januari 2026 bukan berasal dari macan, melainkan jejak anjing liar.
Kepastian tersebut diperoleh setelah hasil pemantauan kamera trap tidak menemukan keberadaan satwa dilindungi di sekitar lokasi pembangunan pondok pesantren.
Advertisement
Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA DIY, Taufan Kharis, menjelaskan laporan warga bermula dari temuan jejak kaki besar yang diduga macan di area proyek pembangunan pondok pesantren. Untuk memastikan jenis satwa yang berkeliaran, BKSDA DIY memasang kamera trap di tiga titik di sekitar lokasi temuan jejak.
“Dipasang sejak 20 Januari hingga 2 Februari 2026. Sesuai dengan rencana pemasangan selama dua minggu, maka alat tersebut sudah kami copot,” kata Taufan saat dihubungi wartawan, Kamis (5/2/2026).
BACA JUGA
Selama masa pemantauan, tidak ada rekaman yang menunjukkan keberadaan macan atau satwa liar berbahaya lainnya. Berdasarkan hasil tangkapan kamera, hewan yang terekam hanya kucing, musang, dan anjing.
“Kalau pekan pertama, hewan yang muncul ada kuncing, anjing dan musang. Sedang, di pekan kedua nampak ada kucing dan musang saja,” ungkapnya.
Taufan menambahkan, kucing kampung dan musang tertangkap di dua titik kamera trap yang berbeda. Hal tersebut memperkuat analisis bahwa tidak ada satwa besar yang melintas di area tersebut.
“Jadi, musang dan kucing kampung ini terlihat di dua kamera,” katanya.
Berdasarkan keseluruhan data visual yang terekam kamera trap, BKSDA DIY menyimpulkan jejak yang sempat menghebohkan warga adalah jejak anjing liar.
“Kalau macan tidak ada,” katanya.
Sebelumnya, jejak misterius itu pertama kali ditemukan warga pada 2 Januari 2026. Temuan serupa kembali muncul pada 10 dan 15 Januari 2026 di lokasi yang sama, sehingga memicu kekhawatiran masyarakat sekitar.
“Untuk bulan ini sudah ada tiga temuan jejak kemunculan macan di lokasi pembangunan ponpes. Terakhir muncul pada Kamis [15/1/2026] malam,” kata salah seorang pekerja pembangunan pondok, Heru Purwanto.
Heru mengungkapkan, sebagian warga sempat meyakini jejak tersebut merupakan tapak kaki macan. Keyakinan itu muncul karena cerita turun-temurun dan kabar antarwarga yang menyebut pernah melihat macan berkeliaran di wilayah tersebut.
“Kemungkinan jejak-jejak ini adalah macan karena pernah ada yang melihat. Apalagi kalau dari bentuknya juga hewan dengan ukuran yang besar,” katanya.
Dugaan keberadaan macan juga diperkuat oleh keberadaan dua gua di sekitar lokasi. Menurut warga, gua tersebut memiliki terowongan yang diyakini menjadi tempat persembunyian satwa liar.
“Ada dua gua yang ada terowongannya dan warga percaya jadi tempat tinggal macan,” katanya.
Dengan hasil pemantauan ini, BKSDA DIY menegaskan tidak ada ancaman satwa liar berbahaya di wilayah Semanu. Namun demikian, warga tetap diimbau melapor jika menemukan jejak atau aktivitas hewan liar yang mencurigakan agar dapat segera ditindaklanjuti secara ilmiah dan terukur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Washington Post PHK Sepertiga Karyawan, Krisis Media di AS Kian Dalam
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
- Tiga Jembatan di Sleman Dibongkar 2026, DPUPKP Diganti Bangunan Baru
- Fina Mahardhika Luncurkan Buku Reflektif, Siap Diolah Jadi Pertunjukan
- Nyadran Makam Sewu Wijirejo Bantul Digelar 9 Februari 2026
- RSUD Wates Kembangkan Operasi Minim Sayatan, Pemulihan Lebih Cepat
- Kemiskinan di Dlingo Ditekan Lewat Agroforestry dan Kelapa Kopyor
Advertisement
Advertisement



