Advertisement
Mengenal Gempa Subduksi, Ancaman Besar di Jalur Cincin Api
Peta gempa subduksi Hokaido Jepang. - BMKG.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Gempa subduksi merupakan salah satu jenis gempa bumi dengan daya rusak paling tinggi karena melibatkan pelepasan energi besar di batas pertemuan lempeng tektonik. Indonesia yang terletak di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) termasuk wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap gempa subduksi.
Secara geologi, gempa subduksi terjadi ketika dua lempeng tektonik saling bertumbukan dan salah satunya menunjam ke bawah lempeng lain. Fenomena ini umumnya berlangsung di zona konvergen dan menjadi sumber utama gempa bermagnitudo besar di berbagai kawasan dunia.
Advertisement
Dikutip dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), zona subduksi adalah wilayah pertemuan antarlempeng kerak bumi yang menjadi sumber aktivitas seismik signifikan. Gempa akibat penunjaman lempeng ini terbagi ke dalam dua model utama, yakni gempa pada lajur megathrust yang bersifat antarlempeng (interplate) serta gempa pada lajur Benioff yang bersifat intraplate.
Lajur megathrust berada pada bagian dangkal zona subduksi dengan sudut penunjaman relatif landai, sementara lajur Benioff terletak lebih dalam dengan sudut penunjaman yang lebih curam. Kedua zona tersebut sama-sama berpotensi memicu gempa kuat, bergantung pada besarnya akumulasi tekanan yang terlepas.
BACA JUGA
Pembentukan zona subduksi diawali ketika lempeng samudra yang lebih padat dan berat terdorong masuk ke bawah lempeng benua atau lempeng samudra lainnya. Tekanan dan gesekan yang terus menumpuk di area ini pada akhirnya dilepaskan secara tiba-tiba dalam bentuk gempa bumi.
Karakteristik Gempa Subduksi
Gempa subduksi dikenal memiliki energi sangat besar karena melibatkan bidang patahan yang luas. Magnitudo gempa jenis ini dapat melampaui angka 8, dengan kedalaman hiposenter yang umumnya berada pada kategori dangkal hingga menengah. Akibatnya, guncangan dapat dirasakan di wilayah yang luas dan berlangsung relatif lama.
Selain guncangan kuat, gempa subduksi juga memiliki potensi memicu tsunami, terutama jika terjadi di bawah laut dan menyebabkan pergeseran vertikal dasar laut. Risiko tersebut menjadikan gempa subduksi sebagai ancaman serius bagi kawasan pesisir.
Di wilayah zona subduksi, dikenal beberapa tipe gempa. Pertama, gempa megathrust yang terjadi pada bidang kontak utama antarlempeng dan dinilai paling berbahaya karena berpotensi memicu tsunami besar. Kedua, gempa intraslab yang terjadi di dalam lempeng yang menunjam, umumnya lebih dalam, namun guncangannya dapat terasa kuat di daratan. Ketiga, gempa antarmuka atau interface yang berlangsung tepat di batas pertemuan dua lempeng.
Indonesia Rawan Gempa Subduksi
Letak Indonesia yang berada di pertemuan sejumlah lempeng tektonik besar dunia, seperti Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik, menjadikan wilayah ini sangat rawan gempa subduksi. Sejumlah zona subduksi aktif membentang di Indonesia, antara lain Subduksi Sumatra atau Sunda Megathrust, subduksi di selatan Pulau Jawa, serta subduksi Banda dan Maluku.
Salah satu peristiwa paling nyata adalah gempa Aceh tahun 2004 bermagnitudo 9,1 yang bersumber dari zona megathrust dan memicu tsunami besar hingga menelan ratusan ribu korban jiwa.
Secara umum, gempa subduksi memiliki ciri guncangan yang berlangsung lama, dampak yang meluas lintas wilayah, sering diikuti gempa susulan, serta potensi tsunami apabila memenuhi syarat tertentu. Pemahaman terhadap karakter gempa subduksi dinilai krusial untuk mendukung mitigasi bencana, perencanaan tata ruang yang aman, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, khususnya di wilayah pesisir.
Gempa M7,3 di Pesisir Timur Hokkaido
Contoh gempa subduksi terbaru terjadi di pesisir timur Hokkaido, Jepang, pada 8 Desember 2025. Gempa tersebut memiliki magnitudo sekitar 7,3 hingga 7,6 dengan pusat gempa berada di lepas pantai timur laut Jepang.
Guncangan kuat akibat gempa ini dirasakan signifikan dan sempat memicu tsunami berskala kecil di beberapa wilayah pesisir Jepang. Otoritas setempat melakukan evakuasi darurat sebagai langkah antisipasi, sementara BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami di wilayah Indonesia.
Dari sisi tektonik, gempa M7,3 tersebut terjadi di zona Palung Kuril–Jepang, yaitu wilayah penunjaman Lempeng Pasifik ke bawah Lempeng Okhotsk. Kondisi ini merupakan karakter utama zona subduksi aktif.
Sejumlah indikator menegaskan gempa tersebut sebagai gempa subduksi, antara lain lokasi pusat gempa yang berada di laut dekat palung subduksi, magnitudo besar khas pelepasan energi di batas antarlempeng, kedalaman dangkal hingga menengah, serta mekanisme sumber gempa berupa sesar naik (thrust) akibat tekanan penunjaman. Selain itu, gempa ini sempat memicu peringatan tsunami meskipun dalam skala terbatas.
Berdasarkan analisis mekanisme fokus gempa, peristiwa tersebut dikategorikan sebagai gempa subduksi antarmuka (interface thrust) atau gempa subduksi yang berdekatan dengan zona megathrust. Hal ini menunjukkan bahwa gempa tersebut bukan dipicu oleh patahan lokal, melainkan akibat interaksi langsung dua lempeng tektonik besar.
Gempa bermagnitudo 7,3 di pesisir timur Hokkaido menjadi contoh nyata gempa subduksi akibat penunjaman Lempeng Pasifik, dengan karakteristik gempa besar di laut dan potensi tsunami yang terbatas, sekaligus pengingat pentingnya pemahaman serta kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempa subduksi di kawasan rawan gempa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Sinkhole Situjuah Berpotensi Melebar, Warga Diminta Jaga Jarak Aman
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement



