Advertisement

Dinkes Sleman Soroti Pinjol dan Bullying Picu Kasus Gangguan Jiwa

Andreas Yuda Pramono
Jum'at, 13 Februari 2026 - 17:07 WIB
Maya Herawati
Dinkes Sleman Soroti Pinjol dan Bullying Picu Kasus Gangguan Jiwa Foto ilustrasi kesehatan mental. / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman mencatat jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Bumi Sembada relatif stabil pada kisaran 2.934–3.000 kasus sepanjang 2020–2025. Hal ini disampaikan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman Seruni Angreni Susila yang menyoroti perundungan dan pinjaman online sebagai dua faktor pemicu gangguan jiwa, Jumat (13/2/2026).

Meski stabil secara angka, dinamika faktor pemicu gangguan jiwa di Sleman menunjukkan kompleksitas persoalan, mulai dari jerat pinjaman online hingga kekerasan psikis yang dipicu media sosial. Seruni mengakui belum merinci jumlah ODGJ berdasarkan faktor pendorong masing-masing, tetapi dua kasus yang menonjol adalah perundungan (bullying) dan pinjaman online (pinjol).

Advertisement

“ODGJ itu awalnya bisa dari stress yang tidak terkelola dengan baik dan berubah tingkat keparahannya menjadi gangguan jiwa berat kronis. Saya kasih contoh tahun 2025 ada warga kena jerat pinjol dan bullying,” kata Seruni.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY per Oktober 2025 menunjukkan 332 laporan pengaduan pinjol ilegal. Angka tersebut meningkat dibandingkan 2024 yang mencatat 214 pengaduan. Kondisi ini dinilai memiliki potensi memperparah tekanan psikologis masyarakat.

Di sisi lain, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sleman melaporkan 131 kasus kekerasan pada anak sepanjang 2024. Bentuk kekerasan yang tercatat meliputi fisik, psikis, penelantaran, eksploitasi, seksual, tindak pidana perdagangan orang (TPPO), hingga bentuk kekerasan lain.

Kekerasan psikis mendominasi dengan 65 kasus. UPTD PPA Sleman juga mencatat media sosial menjadi salah satu faktor pendorong meluasnya kekerasan, tidak hanya di lingkungan rumah tangga, tetapi juga pendidikan dan sosial.

“Waktu itu korban dan orang tua datang ke fasilitas layanan kesehatan dengan kondisi korban sudah gangguan jiwa berat. Keluarga akhirnya memilih tidak melanjutkan perkara [pelaporan ke aparat penegak hukum] dengan alasan tidak ada bukti pendukung yang kuat,” katanya.

Berikut data jumlah ODGJ Sleman 2020–2025:

- 2020: 2.938 sasaran, terlayani SPM 2.528

- 2021: 2.969 sasaran (+1,05%), terlayani 2.537

- 2022: 2.942 sasaran (-0,91%), terlayani 2.895

- 2023: 2.912 sasaran (-1,02%), terlayani 2.933

- 2024: 2.924 sasaran (+0,41%), terlayani 2.936

- 2025: 2.919 sasaran (-0,17%), terlayani 2.921

Capaian pelayanan terhadap ODGJ di Sleman menunjukkan tren positif dalam tiga tahun terakhir dengan standar pelayanan minimal (SPM) mencapai 100%. Meski demikian, fluktuasi angka yang tetap berada di kisaran 2.900 orang memperlihatkan persoalan kesehatan jiwa masih menjadi tantangan berkelanjutan di Bumi Sembada.

Dinkes Sleman selama ini menguatkan literasi kesehatan mental melalui kegiatan parenting yang digelar puskesmas, Kantor Urusan Agama (KUA), Dinas Pendidikan, hingga DP3AP2KB. Layanan psikolog klinis juga tersedia di seluruh puskesmas dengan tarif Rp26.000 per sesi konseling.

“Akses telekonsultasi online kesehatan mental gratis terus kami berikan. Skrining kesehatan mental baik yang terintegrasi dalam layanan puskesmas maupun aktif menjangkau ke kelompok-kelompok rentan dan prioritas, seperti anak-anak usia sekolah, ibu hamil dan lansia,” ucapnya.

Deteksi dini kesehatan mental juga dapat dilakukan melalui skrining menggunakan mesin Heart Rate Variability (HRV) milik Dinkes. Bagi warga dengan gangguan jiwa berat, Dinkes bekerja sama dengan Dinas Sosial (Dinsos) dan Yakkum menyediakan rehabilitasi jiwa berbasis masyarakat. Penyandang disabilitas jiwa diberikan ruang untuk berbagi pengalaman dan berkreativitas guna mendukung kemandirian.

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grhasia DIY Akhmad Akhadi menyampaikan jumlah kunjungan rawat jalan pasien gangguan jiwa terus meningkat sejak 2022. Pada 2022 tercatat 2.593 kunjungan, 2023 sebanyak 2.834, 2024 mencapai 2.926, dan 2025 meningkat menjadi 3.345 kunjungan. Tren kenaikan kunjungan ini menjadi indikator bahwa kebutuhan layanan kesehatan mental di Sleman dan DIY semakin tinggi sehingga penguatan pencegahan, deteksi dini, dan rehabilitasi tetap menjadi agenda penting.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Keluarga Kopilot Smart Air Desak Evaluasi Keamanan Bandara Korowai

Keluarga Kopilot Smart Air Desak Evaluasi Keamanan Bandara Korowai

News
| Jum'at, 13 Februari 2026, 18:57 WIB

Advertisement

Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan

Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan

Wisata
| Rabu, 11 Februari 2026, 21:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement