Advertisement
Kemarau Diprediksi Ekstrem, Sleman Siapkan Sumur dan Pompa
Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Bagi petani di Sleman, ketersediaan air menjadi penentu utama keberhasilan panen. Karena itu, pemerintah daerah mulai bergerak lebih awal untuk memastikan infrastruktur air siap digunakan sebelum musim kemarau benar-benar terjadi.
Melalui Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman, pembangunan 14 unit sumur bor dengan kedalaman sekitar 30 meter akan dilakukan menggunakan dana APBN. Proyek ini dikerjakan secara swakelola oleh kelompok tani agar prosesnya lebih cepat dan tepat sasaran.
Advertisement
Kepala Bidang Tanaman Pangan DP3 Sleman, Siti Rochayah Dwi Mulyani, mengatakan, proses administrasi ditargetkan selesai pada akhir April agar pengerjaan bisa dimulai awal Mei.
Dengan target tersebut, sumur bor diharapkan sudah bisa dimanfaatkan saat puncak kemarau yang diprediksi berlangsung pada Agustus, sehingga distribusi air irigasi tetap terjaga.
BACA JUGA
“Tahun ini semua pompa diminta dicek kembali agar siap digunakan saat kemarau benar-benar datang,” kata Siti ditemui di kantornya, Rabu (15/4/2026).
Selain pembangunan sumur baru, pemerintah juga mengoptimalkan hampir 100 unit pompa air yang telah disalurkan pada 2025. Selama ini, pemanfaatannya belum maksimal karena kondisi masih dipengaruhi musim hujan.
Pemerintah daerah juga membuka peluang tambahan bantuan pompa air, baik dari pemerintah pusat maupun melalui aspirasi dewan, meskipun program baru masih menunggu kepastian.
Pendampingan kepada petani turut diperkuat untuk memastikan seluruh sarana air, termasuk jaringan irigasi, dalam kondisi siap pakai. Jika ditemukan kendala teknis, kelompok tani diminta segera melakukan perbaikan agar distribusi air tidak terhambat.
Langkah ini menjadi penting karena musim kemarau 2026 diprediksi lebih kering dan panjang, bahkan mendekati kondisi ekstrem seperti yang terjadi pada 2023.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan, DP3 Sleman juga telah menerbitkan surat edaran kepada para pemangku wilayah hingga kelompok tani agar segera melakukan langkah antisipatif di lapangan.
Kebijakan ini merujuk pada surat Kementerian Pertanian serta prakiraan dari BMKG yang menyebutkan potensi kemarau lebih kering di wilayah DIY, termasuk Sleman.
Pelaksana Tugas Kepala DP3 Sleman, Rofiq Andriyanto, menegaskan pentingnya kesiapan sejak dini untuk mengurangi risiko gagal panen.
Sejumlah langkah strategis diminta segera dilakukan, mulai dari pemetaan wilayah rawan kekeringan hingga pembangunan sistem peringatan dini.
Optimalisasi pengelolaan air juga menjadi fokus, termasuk rehabilitasi jaringan irigasi, pemanfaatan embung, sumur dangkal, hingga penggunaan pompanisasi dan sistem perpipaan.
Di sisi budidaya, petani didorong mempercepat masa tanam di wilayah potensial dengan menggunakan varietas padi tahan kekeringan dan berumur genjah seperti Inpago, Inpari, hingga Situbagendit.
Petani juga diminta menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim serta ketersediaan air di masing-masing wilayah agar produksi tetap terjaga.
Berdasarkan prediksi BMKG, awal musim kemarau di Sleman diperkirakan mulai pada dasarian III April 2026 untuk wilayah di Prambanan serta sebagian Minggir dan Moyudan.
Sementara wilayah lainnya diprediksi memasuki kemarau pada dasarian I Mei 2026, dengan durasi mencapai 19 hingga 21 dasarian dan berakhir pada awal November.
Melalui berbagai langkah ini, pemerintah berharap sektor pertanian di Sleman tetap mampu bertahan dan produksi pangan tidak terganggu meski menghadapi ancaman kemarau panjang tahun ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Tiga Kapal Asing Ditangkap di Selat Malaka Rugikan Negara Miliaran
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Mobil Terjun ke Ceruk Enam Meter di Kalasan Sleman Saat Hujan
- Terjadi Lagi Keracunan Makanan di Sekolah Bantul, Korban 80 Siswa
- Jadwal KRL Solo-Jogja 15 April 2026, Cek Jam Berangkat Terbaru
- Top Ten News Harianjogja.com, Rabu 15 April 2026, Penerapan WFH
- Hujan Lebat Picu Longsor di Sleman, Talud Ambrol di Sejumlah Wilayah
Advertisement
Advertisement








