Advertisement

Lahan Batu di Dlingo Disulap Jadi Sumber Cuan Sereh Wangi

Yosef Leon
Kamis, 16 April 2026 - 03:37 WIB
Jumali
Lahan Batu di Dlingo Disulap Jadi Sumber Cuan Sereh Wangi Warga saat menunjukkan proses pengolahan sereh wangi menjadi produk minyak atsiri di pabrik yang berlokasi di Dusun Kebosungu 1, Dlingo, Bantul, Rabu (15/4 - 2026).

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL—Lahan berbatu yang sebelumnya sulit dimanfaatkan di wilayah Dlingo kini berubah menjadi sumber penghasilan baru bagi warga setelah ditanami sereh wangi dan diolah menjadi minyak atsiri bernilai jual tinggi.

Warga Dusun Kebosungu 1, di Dlingo, Bantul memanfaatkan lahan tandus tersebut sejak 2017 dan kini berhasil mengembangkan usaha berbasis minyak atsiri yang melibatkan ratusan petani.

Advertisement

Perubahan ini membawa dampak nyata bagi perekonomian warga. Lahan yang sebelumnya tidak produktif karena didominasi batu tajam kini justru menjadi sumber pendapatan berkelanjutan melalui budi daya sereh wangi.

Koordinator UMKM Minyak Atsiri Kebosungu 1, Sunaryanto, menjelaskan bahwa sekitar 80 persen lahan di wilayah Bantul Timur dan Gunung Kidul Barat memiliki karakter berbatu, sehingga tidak cocok untuk tanaman palawija. Kondisi ini mendorong warga beralih ke tanaman atsiri seperti sereh wangi dan kayu putih.

"Karena lahan ini tidak bisa ditanami dengan palawija, makanya kami tanami dengan bahan-bahan tanaman atsiri. Sejak 2017 kami sudah membangun beberapa replikasi atau demplot tanaman sereh wangi dan kayu putih yang luasan kurang lebih tujuh hektare," katanya, Rabu (15/4/2026).

Perkembangan usaha ini tergolong pesat. Jika awalnya hanya melibatkan 18 petani, kini jumlahnya meningkat menjadi 472 petani. Sereh wangi dipilih karena perawatannya relatif mudah dan mampu dipanen berulang kali dalam waktu singkat.

"Catatan kami sudah di angka 127 kali panen. Tanam pertama di bulan ke-1, panen pertama di bulan ke-6. Setelah itu, panen berikutnya kita cuma butuh waktu 33 sampai 38 hari untuk panen selanjutnya," kata dia.

Setelah dipanen, tanaman sereh wangi diolah melalui proses penyulingan menjadi minyak atsiri. Selain itu, produk turunan seperti lilin aromaterapi dan sabun juga mulai dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah.

Dalam satu kali proses, sekitar 100 kilogram sereh wangi mampu menghasilkan 400 hingga 700 mililiter minyak atsiri. Produksi rata-rata mencapai empat liter per hari atau sekitar 50 hingga 60 liter per bulan.

Produk tersebut dipasarkan secara daring dengan berbagai pilihan kemasan, mulai dari 10 mililiter hingga 60 mililiter. Harga jualnya berkisar Rp10.000 hingga Rp50.000, tergantung ukuran, meski di tingkat reseller bisa sedikit lebih tinggi.

Meski permintaan pasar cukup besar, terutama dari luar negeri seperti India, pelaku usaha masih menghadapi kendala dalam akses ekspor.

"Sebetulnya peminat yang paling bagus itu dari India, tapi kami masih kesulitan untuk akses masuk ke sana," ucapnya.

Salah satu pengrajin, Yatimin, mengungkapkan bahwa proses penyulingan membutuhkan waktu sekitar tiga setengah jam dalam satu siklus produksi. Kapasitasnya bisa mencapai 100 kilogram bahan baku setiap kali produksi.

"Hasil minyaknya itu kalau musim penghujan hanya 500 mililiter sampai 600 mililiter, tapi kalau musim kemarau bisa 800 mililiter sampai 1 liter," jelasnya.

Sebagian besar bahan baku diperoleh dari petani lokal dengan harga sekitar Rp500 per kilogram. Model usaha ini dinilai mampu menggerakkan ekonomi warga karena melibatkan banyak pihak dalam rantai produksi.

Menurut Yatimin, keberadaan sereh wangi tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Karena masyarakat juga banyak yang beli produk ini, khasiatnya itu bisa untuk pijat, sakit kepala, kesehatan kulit dan lain sebagainya," pungkas dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Tiga Kapal Asing Ditangkap di Selat Malaka Rugikan Negara Miliaran

Tiga Kapal Asing Ditangkap di Selat Malaka Rugikan Negara Miliaran

News
| Rabu, 15 April 2026, 22:07 WIB

Advertisement

Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Tiket

Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Tiket

Wisata
| Selasa, 14 April 2026, 21:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement