Pantai Trisik Kulonprogo Kehilangan Daya Tarik, Wisatawan Menyusut

Khairul Ma\'arif
Khairul Ma\'arif Rabu, 04 November 2026 21:17 WIB
Pantai Trisik Kulonprogo Kehilangan Daya Tarik, Wisatawan Menyusut

Harian Jogja/Khairul Ma'arif - Suasana Pantai Trisik pada Rabu (4/11/2026) siang yang sangat minim pengunjung dan fasilitas penunjang seperti toilet yang sudah tidak layak karena diterjang abrasi

Harianjogja.com, KULONPROGO—Pantai Trisik di Kapanewon Galur, Kulonprogo, semakin kehilangan daya tarik sebagai destinasi wisata. Abrasi yang menggerus kawasan pantai, termasuk menghilangkan objek laguna, membuat jumlah pengunjung terus menyusut dalam sekitar 10 tahun terakhir.

Kondisi tersebut terlihat dari pantauan Harian Jogja pada Rabu (4/11/2026) siang hingga sore. Jumlah wisatawan yang datang sangat sedikit, bahkan bisa dihitung dengan jari. Saat itu, hanya terlihat satu mobil pribadi yang mengunjungi kawasan pantai, sementara pengunjung yang datang menggunakan sepeda motor juga sangat minim.

Sepinya Pantai Trisik tidak hanya terjadi pada hari pengamatan tersebut. Menurunnya kunjungan wisatawan telah berlangsung cukup lama seiring berkurangnya objek yang bisa dinikmati pengunjung akibat abrasi.

Dukuh setempat, Jaka Samudra, mengatakan Pantai Trisik kini tidak lagi memiliki banyak daya tarik visual seperti sebelumnya. Salah satu objek yang hilang adalah laguna yang tergerus abrasi selama kurang lebih satu dekade terakhir.

"Sudah tidak ada yang bisa dilihat, kena abrasi. Abrasionya cukup cepat (banter). Penurunan grafik pengunjung ini sudah berlangsung lama, sekitar 10 tahunan sejak objek laguna tergerus abrasi," lanjut Jaka.

Jembatan Nglinggan Belum Dongkrak Kunjungan

Selesainya pembangunan Jembatan Nglinggan juga belum memberikan dampak signifikan terhadap jumlah wisatawan Pantai Trisik. Keberadaan jembatan tersebut sejauh ini lebih banyak membantu aktivitas masyarakat, terutama petani yang mengangkut hasil pertanian.

Jaka mengatakan infrastruktur tersebut belum mampu meningkatkan intensitas kunjungan ke kawasan wisata.

"Sejauh ini untuk dampak terhadap intensitas pengunjung belum terdampak signifikan dari adanya jembatan tersebut," ujar Jaka Samudra saat dikonfirmasi, Rabu (4/11/2026).

Merosotnya jumlah wisatawan turut memengaruhi aktivitas pengelolaan kawasan wisata, termasuk pelayanan retribusi. Pos retribusi masuk Pantai Trisik kini tidak lagi dijaga setiap hari.

"Petugas retribusi hanya ada di hari Sabtu dan Minggu. Kalau hari-hari biasa tidak ada yang menjaga," tambah Jaka.

Hingga kini, belum ada langkah atau intervensi konkret dari Dinas Pariwisata Kulonprogo untuk menanggulangi dampak abrasi maupun menata kembali daya tarik wisata Pantai Trisik.

Warga Beralih Mengandalkan Pertanian

Melemahnya sektor pariwisata membuat masyarakat sekitar tidak lagi menjadikan kunjungan wisatawan sebagai tumpuan utama mata pencaharian. Warga kini lebih banyak mengarahkan aktivitas ekonomi ke sektor pertanian, terutama budidaya cabai.

Menurut Jaka, ketergantungan masyarakat terhadap sektor pariwisata sudah jauh berkurang. Potensi lahan pertanian justru menjadi penopang ekonomi warga di kawasan pesisir Trisik.

"Warga sekarang sudah tidak terlalu memikirkan pariwisata. Warga lebih fokus pada hasil panen pertanian, seperti tanaman cabai saat harganya sedang bagus," pungkasnya.

Perubahan tersebut memperlihatkan dampak panjang abrasi terhadap kawasan Pantai Trisik. Selain menghilangkan salah satu daya tarik wisata, kondisi itu juga mengubah sumber penghidupan masyarakat yang sebelumnya turut mengandalkan aktivitas pariwisata.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online