Lima Pelestari Seni dan Budaya Kulon Progo Terima Penghargaan

Kiki Luqman
Kiki Luqman Kamis, 29 Oktober 2026 20:17 WIB
Lima Pelestari Seni dan Budaya Kulon Progo Terima Penghargaan

Penyerahan penghargaan untuk lima tokoh dan kelompok seni budaya di Kulon Progo./Istimewa-Dokumen Pemkab Kulon Progo\r\n

Harianjogja.com, KULON PROGO - Lima tokoh dan kelompok seni budaya di Kulon Progo mendapat penghargaan dari pemerintah daerah atas kontribusi mereka dalam menjaga tradisi, melestarikan cagar budaya, hingga mengembangkan kesenian lokal.

Apresiasi tersebut diberikan dalam acara Penghargaan Seniman Budayawan 2026 di Gedung Kesenian, Wates, Rabu (28/10) malam.

Penghargaan yang digelar Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kulon Progo itu menjadi bentuk pengakuan terhadap mereka yang selama ini berperan menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Peran para pelestari dinilai penting supaya tradisi dan kesenian daerah tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Lima penghargaan diberikan dalam kategori berbeda. Imannudin Subakir menerima penghargaan sebagai Tokoh Penggiat Budaya atas perannya dalam menggerakkan Tradisi Saparan Kalibuko. Sementara itu, Boko Suroso mendapat penghargaan Tokoh Pelestari Cagar Budaya berkat dedikasinya sebagai pengurus cagar budaya Masjid Purwosalam, Panginan.

Penghargaan Tokoh Penggiat Seni diberikan kepada Budi Raharjo yang aktif menggerakkan seni Wayang Wong Tri Mudho Budoyo. Adapun Paguyuban Incling Sekar Gulang menerima penghargaan dalam kategori Organisasi Seni Budaya.

Satu penghargaan lainnya, kategori Tokoh Kreator Kebudayaan, diberikan kepada dr. Inggar Bagus Wibisana. Selain berprofesi sebagai dokter, Inggar merupakan abdi dalem Keraton Yogyakarta yang turut berkecimpung dalam kesenian Jathilan Among Beksa.

Setiap penerima penghargaan memperoleh piagam, pin, dan uang pembinaan. Melalui apresiasi tersebut, pemerintah daerah berharap kiprah para penerima dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk turut menjaga keberlangsungan seni dan budaya Kulon Progo.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kulon Progo, Joko Mursito, mengatakan kebudayaan bukan sekadar peninggalan sejarah yang tersimpan, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat yang terus berkembang.

“Budaya bukan sekadar masa lalu yang membatu, melainkan napas yang bergerak, mengalir di setiap kalbu. Dari riak gamelan hingga petikan kecapi, dari gerak gemulai tari hingga sacak yang berapi. Malam ini, kita bukan sekadar menyaksikan sebuah selebrasi, melainkan merawat nyala api warisan leluhur agar tidak mati,” ujar Joko.

Acara tersebut turut dihadiri perwakilan Kundha Kabudayan DIY, Paniradya Keistimewaan DIY, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta pegiat seni budaya Kulon Progo. Suasana malam penghargaan juga dimeriahkan sajian uyon-uyon dari Sanggar Tapak dan pertunjukan Move Art Dance bertajuk “Jaran Kicik” yang dibawakan anak-anak.

Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kebudayaan dan seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurut dia, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, terutama ketika masyarakat menghadapi perubahan pola hidup dan perkembangan teknologi.

“Di tengah perkembangan zaman dan arus globalisasi yang semakin kuat, upaya melestarikan kebudayaan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Perubahan pola hidup, perkembangan teknologi, dan masuknya budaya luar menuntut kita untuk semakin bijaksana menjaga identitas daerah. Peran seniman dan budayawan menjadi sangat penting dalam merawat pengetahuan, nilai, dan tradisi agar tetap hidup serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Agung.

Dia juga mengapresiasi tim juri yang bertugas menilai para calon penerima penghargaan. Tim tersebut dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo Nomor 331 Tahun 2026 tertanggal 27 Agustus 2026.

Agung berharap penghargaan tersebut tidak hanya menjadi bentuk penghormatan atas pengabdian para seniman dan budayawan, tetapi juga mendorong mereka untuk terus berkarya dan berinovasi. Kiprah para penerima diharapkan dapat menjadi teladan bagi generasi muda agar semakin mengenal dan mencintai kebudayaan daerah.

Dia mengajak masyarakat menjadikan pelestarian budaya sebagai tanggung jawab bersama melalui semangat handarbeni, yakni rasa memiliki terhadap warisan budaya sekaligus kesediaan untuk menjaganya.

“Mari kita rawat kebudayaan dengan semangat handarbeni. Dengan demikian, kebudayaan tidak hanya menjadi kebanggaan masa lalu, tetapi juga menjadi kekuatan untuk membangun masa depan Kulon Progo yang berkarakter, berdaya saing, dan sejahtera,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online