Petani Banaran Sebut 5 Ton Melon Gagal Panen, Dispertapang Beri Penjelasan

Khairul Ma\'arif
Khairul Ma\'arif Jum'at, 06 November 2026 21:17 WIB
Petani Banaran Sebut 5 Ton Melon Gagal Panen, Dispertapang Beri Penjelasan

Seorang petani nampak memantau lahan pertanian melon yang banyak tak layak panen di kawasan sekitar Pantai Trisik belum lama ini./Harian Jogja-Khairul Ma\'arif

Harianjogja.com, KULONPROGO—Tumpukan buah melon membusuk ditemukan di tepi jalan kawasan pesisir Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kulonprogo. Petani setempat memperkirakan sekitar lima ton melon tidak dapat dimanfaatkan akibat serangan lalat buah, tetapi Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapang) Kulonprogo menyebut buah yang tergeletak itu merupakan bagian dari proses seleksi dalam budidaya melon.

Berdasarkan pantauan Harian Jogja pada Jumat (6/11/2026), sejumlah melon membusuk terlihat menumpuk di pinggir jalan sekitar Pantai Trisik. Buah-buah berukuran kecil dan tidak layak konsumsi juga ditemukan teronggok di lahan bekas pertanian.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kalurahan Banaran, Sarwata, membenarkan bahwa melon yang terbuang tersebut merupakan hasil panen yang tidak dapat dimanfaatkan. Menurutnya, cukup banyak petani melon di Banaran mengalami kondisi serupa.

"Iya benar itu, sekarang banyak yang busuk karena diserang lalat buah yang ninggalin larva masuk ke melon saat proses mulai pembuahan," katanya saat dikonfirmasi, Jumat (6/11/2026).

Petani Perkirakan 5 Ton Melon Tidak Termanfaatkan

Sarwata memperkirakan jumlah melon yang tidak dapat dimanfaatkan akibat serangan hama mencapai sekitar lima ton. Mayoritas tanaman melon di Banaran berada di kawasan pesisir, termasuk sekitar Pantai Trisik.

Menurutnya, serangan hama tersebut ditemukan di sepanjang kawasan pesisir Banaran, mulai dari bagian timur hingga barat. Akibatnya, sejumlah buah membusuk dan tidak laku dijual sehingga dibiarkan tergeletak di sekitar lahan pertanian.

"Sekitar lima tonan yang tidak termanfaatkan karena serangan itu dan tidak laku terjual," lanjut Sarwata.

Dia mengatakan petani sebenarnya telah melakukan penanggulangan dengan menggunakan obat. Namun, karena perkembangan hama cukup banyak, masih ada buah yang akhirnya membusuk.

Meski demikian, Sarwata menyebut jumlah melon yang tidak termanfaatkan tersebut tidak terlalu besar dibandingkan hasil panen yang berhasil dijual petani. Total melon yang dapat dipasarkan mencapai sekitar 30 ton.

Dispertapang Sebut Buah Dipotong untuk Seleksi

Sementara itu, Kepala Bidang Produksi dan Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo, Wazan Mudzakir, memberikan penjelasan berbeda mengenai keberadaan buah melon yang tampak membusuk di lahan pertanian.

Wazan menegaskan fenomena tersebut bukan akibat serangan hama maupun kegagalan panen. Menurutnya, buah-buah yang tergeletak merupakan bagian dari mekanisme kurasi atau seleksi alami yang sengaja dilakukan petani untuk mendapatkan melon berkualitas.

Dia menjelaskan proses seleksi dimulai menjelang pembentukan jaring (net) pada buah melon. Ketika tanaman mulai memunculkan bakal buah, petani tidak membiarkan seluruh buah tumbuh.

"Misalnya ada empat buah dalam satu pohon, tentu yang diambil dan dipertahankan hanya yang terbaik (dua buah), sedangkan sisanya harus dikorbankan agar tidak merusak nutrisi keseluruhan," ujar Wazan.

Menurutnya, jika seluruh buah dibiarkan tumbuh tanpa seleksi atau mengalami overload, pemenuhan nutrisi dikhawatirkan tidak maksimal. Kondisi tersebut berpotensi membuat kualitas seluruh buah menurun atau bahkan gagal total.

Wazan menambahkan buah yang tidak terpilih memang sengaja dipotong batangnya dan dibiarkan di area penanaman. Langkah tersebut bukan karena tanaman terserang hama, melainkan bagian dari seleksi buatan yang terkontrol dalam manajemen budidaya melon modern.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online