Ada Retakan Tanah di Girimulyo, Warga Harus Mengungsi saat Hujan

Tanah longsor di Kulonprogo. - Harian Jogja/Uli Febriarni
04 April 2018 23:17 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :


Harianjogja.com, KULONPROGO- Tim Peneliti Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) meneliti tentang retakan tanah di Dusun Ngrancah, Desa Pendoworejo Girimulyo Kulonprogo.

Kepala Dusun Ngrancah, Arifin Nur Prabowo mengungkapkan pengecekan oleh Tim Peneliti Geologi UGM dilakukan di hampir seluruh wilayah yang terdampak retakan tanah.

Mulai dari rumah warga, tegalan, mata air hingga sungai. Retakan tanah juga telah menyebabkan tembok, lantai rumah warga retak ringan sampai berat.

Di kediamannya sendiri, terjadi retak yang cukup dalam di area perbatasan antara ruang utama dengan dapur. Kendati demikian, ia masih tinggal di rumah tersebut dan tim menyatakan rumahnya masih laik huni.

Ia membenarkan kondisi tanah yang mayoritas komposisinya tanah lempung, sangat memengaruhi munculnya retakan. Retakan di wilayahnya sesungguhnya sudah ada sejak lama, namun pergerakan makin parah dalam satu bulan belakangan, terutama di sejumlah rumah warga. Total ada 10 rumah retak parah, namun total ada 35 Kepala Keluarga yang terdampak.

"Kalau rumah saya masih aman, yang rusak itu di sebelah barat dan sudah saya kosongkan. Kalau sebelah timur alhamdulillah aman," katanya, Rabu (3/4/2018).

Arifin mengungkapkan, retakan yang ada di wilayahnya membentuk pola tertentu yang saling menyambung. Yaitu melengkung ke arah bawah dan tegalan menjadi puncak retakan.

Kalau turun hujan, ia menginstruksikan warga untuk pindah ke tempat yang lebih aman, terutama mereka yang tinggal di lereng gunung.

"Yang dikhawatirkan itu rumah yang berada di dekat tebing atau gunung, kemiringan sekitar 50 derajat, kalau hujan bisa terjadi luncuran material yang cepat. Ada juga batuan yang hampir jatuh, sebisa mungkin harus dieksekusi," lanjutnya.

Ia berharap, dari penelitian tersebut diketahui jelas penyebab terjadinya retakan. Warga juga meminta adanya sistem peringatan dini bencana dari pihak terkait, supaya bisa segera menyelamatkan diri apabila terjadi longsor.

Selama ini, ia memasang alat peringatan dini bencana sederhana di rumah, sebagai indikator untuk mengetahui pergerakan tanah. Namun alat tersebut belum dipasang di permukiman bagian lereng.

"Bila memungkinkan, kami meminta bantuan untuk rekonstruksi rumah yang terdampak retakan berat," harapnya.

Disinggung perihal drainase yang buruk, ia tidak menampiknya. Drainase sebelumnya ada namun tidak ada yang merawat, sehingga air tanah terjun dengan bebas dan meluber ke segala arah. Kini, warga melakukan pencegahan dengan cara menutup retakan tanah, mengamankan batu yang hampir jatuh, juga memperbaiki drainase.