Advertisement
Warga Sekitar TPAS Piyungan Sudah Gerah
Tumpukan sampah di TPAS Piyungan, Kamis (19/4/2018). Saat ini volume sampah yang dibuang ke TPAS tersebut sudah hampir 600 ton per hari. Meningkat dari tahun lalu yang berkisar 450-500 ton per hari. - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL -- Pemerintah Kabupaten Bantul dan Pemda DIY diminta serius mengelola tempat pembuangan akhir sampah atau TPAS Piyungan. Sebab sejak dibangun 1994 lalu hingga kini TPAS Piyungan yang menampung sampah dari Sleman, Bantul, dan Jogja masih menimbulkan persoalan pencemaran lingkungan.
Sudah bertahun-tahun warga sekitar mengaku mencium bau tak sedap dari tumpukan sampah. Belum lagi gangguan debu dari lalu lalang truk pengangkut sampah yang jumlahnya mencapai ratusan truk selama 24 jam. Sementara itu tidak ada kompensasi pemeriksaan kesehatan bagi warga sekitar.
"Kami merasa terganggu sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. Keluhan kami juga tidak didengar," ucap Parmin, 45, warga sekitar TPAS Piyungan, saat ditemui di rumahnya, Kamis (19/4/2018).
Parmin tinggal di Dusun Ngablak, Sitimulyo, Piyungan. Jaraknya kurang lebih satu kilometer dari TPS Piyungan. Ia sudah tinggal di dusun tersebut sejak 25 tahun lalu atau jauh sebelum TPAS Piyungan dibangun. Aroma bau busuk dari sampah cukup menyengat di rumahnya. Terutama saat malam hari, aroma tidak sedap kian menyengat.
Tiga tahun lalu, Parmin dan warga lainnya sempat protes terkait pengelolaan sampah tersebut ke Kantor Unit Pengelolaan Sampah yang tidak jauh dari TPAS Piyungan. Warga dijanjikan pengelola sampah tengah berupaya mencari metode pengolahan agar tidak menimbulkan bau. Namun sampai sekarang janji itu tidak ditepati.
Ada tiga dusun yang merasakan dampak langsung keberadaan TPAS Piyungan, yakni Dusun Ngablak, Bendo, dan Dusun Banyakan. Menurut Parmin, di Dusun Bendo, sempat terjadi pencemaran air sumur dan sudah teratasi.
Selama ini warga tidak pernah mendapat kompensasi pemeriksaan kesehatan secara berkala. "Kalau pemeriksaan kesehatan untuk pemulung di lokasi TPAS pernah ada. Tapi untuk warga setahu saya belum pernah ada," ucap Parmin.
Keluhan juga disampaikan Zaelani, warga Combongan, Jampidan. Meski lokasi rumahnya berada sekitar empat kilometer dari TPAS, tetapi ia mengeluhkan bau sampah yang dibawa truk setiap hari, siang dan malam.
Pantauan Harian Jogja.com, aroma bau tidak sedap mulai tercium dari Jalan Pleret. Sepanjang jalan dari Simpang Tiga Pleret sampai lokasi TPAS berserakan sampah. Kendaraan pengangkut sampah tidak semuanya dump truk, tetapi juga banyak kendaraan pikap yang mengangkut sampah. Beberapa truk yang mengangkut gunukan sampah berjatuhan di sepanjang jalan, bahkan air limbah sampah berceceran di jalan.Jalan menuju pintu masuk TPS juga becek.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) DIY Muhammad Mansyur mengakui pengelolaan sampah di TPAS Piyungan masih menjadi persoalan yang belum terpecahkan. Saat ini pengelolaan sampah di lokasi tersebut masih menggunakan metode open dumping atau controled landfill.
Metode tersebut, sampah dibiarkan dan beberapa hari kemudian ditimbun. Seharusnya, motedo pengolahan sampah sudah menggunakan sistem sanitary landfill atau sampah ditimbun setiap hari dengan tanah. Namun sistem tersebut diakui Mansyur tidak akan bertahan lama karena setiap hari sampah yang masuk hampir 600 ton, meningkat dari tahun lalu yang hanya sekitar 450-500 ton per hari.
Saat ini pihaknya baru menjajaki sistem pengolahan sampah dengan menggandeng pihak ketiga agar sampah bisa dikelola tidak hanya untuk pupuk kompos, tetapi juga penghasil listrik. "Tapi masih penjajakan kerja sama pemerintah dan badan usaha," kata Mansyur.
Advertisement
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Caroline Lang Mundur dari SPI Usai Namanya Muncul di Dokumen Epstein
Advertisement
Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun
Advertisement
Berita Populer
- Kuota Penonton PSIM Jogja vs Persis Solo Naik Jadi 9.000 Orang
- Pemkab Gunungkidul Targetkan 5.000 Alat Timbang Ditera Ulang di 2026
- Hujan Mereda, BPBD Kulonprogo Tetap Imbau Warga Siaga Bencana
- Gaji PPPK Paruh Waktu di Bantul Belum Cair, Ini Kata Bank dan Dinas
- Pembunuh Ibu Kandung Asal Ponorogo Masih Diburu di Gunungkidul
Advertisement
Advertisement



