Asyik, DIY Bakal Punya Museum Holorama Pertama di Indonesia

Ilustrasi Museum - Harian Jogja
11 Juli 2018 12:20 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Harianjogja.com, JOGJA--Sebuah museum diorama berteknologi holorama bakal hadir di DIY. Teknologi holorama yang memungkinkan pengunjung seakan-akan berada dalam sebuah peristiwa dengan secara nyata itu diklaim merupakan yang pertama di Indonesia.

Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY Monika Nur Lastiyani mengatakan periode sejarah yang akan ditampilkan dalam diorama tersebut membentang cukup panjang, yakni dari era Panembahan Senopati (1587-1601) hingga periode Keistimewan DIY yang ditandai dengan lahirnya UU No.13/2013. Panembahan Senopati adalah pendiri dari Kerajaan Mataram Islam, yang merupakan cikal bakal Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

"Jadi kurun waktu lebih dari 400 tahun itu harus kami rangkum dalam satu lantai dan disajikan dalam konsep diorama yang terdiri dari sekitar 18 spot yang masing-masing menunjukkan satu periode. Di situ harus ada edukasi yang menarik sehingga masyarakat yang berkunjung bisa tertarik," kata Monika seusau bertemu dengan Gubernur DIY Sri Sultan HB X di kompleks Kepatihan, Selasa (10/7/2018).

Berbeda dengan diorama pada umumnya, diorama ini, lanjut Monika akan dikembangkan jadi holorama yang sifatnya lebih dinamis. Dia menargetkan detail engineering design (DED) diorama itu rampung pada akhir September 2018.

Untuk mewujudkan rencana ini, BPAD DIY akan berkolaborasi dengan para ahli yang terdiri dari sejarawan, kurator seni rupa, ahli animasi, desain interior dan lain-lain. "Arahan Ngarso Dalem [Gubernur DIY Sri Sultan HB X] justru mengatakan apa yang akan kami buat itu harus dikembangkan lagi. Ini jadi tambah pusing. Tapi tidak masalah karena kami akan kolaborasi dengan para ahli."

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY Budi Wibowo mengungkapkan, diorama dengan teknologi holorama itu akan dibangun di lantai dua Kantor Arsip Daerah (KAD) DIY, yang berlokasi di belakang gedung Grhatama Pustaka.

Pembangunan, kata dia, ditargetkan bisa dimulai pada 2019 sehingga pada 2020 masyarakat sudah bisa menikmatinya. Diperkirakan pembangunan akan menghabiskan dana sebanyak Rp15 miliar.

Diorama dengan teknologi holorama, kata Budi, bisa membuat pengunjung seolah-olah berada dalam sebuah peristiwa sejarah. Misalnya, jika pengunjung memilih spot Serangan Umum Satu Maret, maka mereka benar-benar merasakan suasana peperangan. Jika spot yang dimasuki menceritakan rebutan apem, maka mereka seolah-seolah berada di tengah rebutan apem.

Budi mengklaim diorama dengan teknologi holorama belum ada di Indonesia. Kalau pun sudah ada yang memakai teknologi tersebut, skalanya masih terbatas. Diorama ini konsepnya tak jauh berbeda dengam holorama yang ada di Hiroshima dan Kobe, Jepang.

"Ketika melihat di Hiroshima, itu kayak benar-benar ada bom [atom]. Jadi dalam ruangan benar-benar histeris. Kalau di Kobe, benar-benar seperti ada gempa. Ini kan ada beberapa kejadian. Misalnya Sultan Agung saat ekspedisi ke Batavia. Kemudian Serangan Umum Satu Maret," kata dia.

Dengan adanya diorama ini,. masyarakat diharapkan bisa lebih mudah memahami sejarah DIY. Budi mengatakan, holorama akan  membuat sejarah jadi lebih mudah terserap di ingatan masyarakat. Selain itu, teknologi ini membuat diorama bisa lebih mudah diubah.

"Misalnya, saat ada temuan sejarah baru. Kayak di Monjali itu kan patung, jadi sulit diubah."

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia