Aduh, Guru Bimbingan Konseling Masih Dianggap Keranjang Sampah

Ilustrasi Guru
12 Juli 2018 15:10 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Guru bimbingan konseling (BK) sering dianggap sebagai keranjang sampah yang bertugas hanya menangani siswa nakal dan menampung siswa bermasalah di sekolah. Padahal guru BK memiliki tugas penting dalam memantau dan mengembangkan perilaku anak demi terciptanya pembelajaran sukses.

Pemahaman konsep yang salah itu berupaya diluruskan Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKIN) dalam rakernas yang dihadiri para guru besar bimbingan konseling, guru dan dosen dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) se-Indonesia, di salah satu hotel di Sleman, Rabu (11/7/2018).

Ketua Dewan Pembina Pengurus Besar ABKIN Profesor Sunaryo Kartadinata menegaskan bimbingan konseling seharusnya tidak berorientasi pada menangani masalah tetapi sebaiknya mengembangkan perilaku siswa untuk jangka panjang.
Selama ini ada pemahaman yang salah, karena BK sering dianggap sebagai guru yang menangani siswa bermasalah.

"Kami berharap di lapangan tidak lagi terjadi miskonsepsi, guru BK adalah sekuriti sekolah yang mengawasi anak berperilaku nakal. Kalau ada anak tak bayar SPP lempar ke guru BK, pokoknya guru BK jadi keranjang sampah, tentu itu adalah konsep yang sangat keliru," jelasnya di sela-sela rakernas ABKIN, Rabu (11/7/2018).

Mantan Rektor UPI Bandung ini mengatakan dalam proses pembelajaran tertentu guru BK sering dianggap tidak mengerjakan sesuatu. Karena itu tugas dan fungsi guru BK harus dikembalikan dengan mengubah image tersebut. Karena itu pembelajaran BK harus terus ditekankan pada kemampuan guru BK memahami secara mendalam potensi dan perilaku anak.

Apalagi dengan pesatnya perkembangan teknologi maka butuh perlakuan atau metode yang berubah untuk menerapkan. Salah satu kesuksesan guru BK adalah mampu memahami kehidupan siswa dalam konteks nyata dan objektif.

"Maka perguruan tinggi yang menyiapkan calon guru BK harus membelajarkan sejak dini kepada mahasiswa bagaimana cara mengenal siswa. Sehingga calon guru BK memperoleh pemahaman sejak dini apa yang harus dilakukan," ujarnya.

Ia menegaskan guru BK termasuk guru profesional karena kerjanya menyangkut persoalan pemahaman dan intervensi perilaku, memberikan penguatan yang butuh kecakapan ilmu memadai.

Kesuksesan belajar siswa juga tak lain karena peran guru BK.
Plt Dirjen GTK Kemendikbud Hamid Muhammad menambahkan, pihaknya akan menggandeng ABKIN dalam melakukan penguatan guru BK di lapangan.

"Sehingga kesan guru BK tidak hanya menangani anak-anak bermasalah tetapi juga mengembangkan potensi anak secara optimal sehingga bisa berkembang sesuai potensinya dan bisa mandiri," kata dia.

Penguatan juga akan diberikan kepada guru BK yang bukan berasal dari keahlian konseling. Saat ini jumlah mencapai 40% dari total jumlah guru BK di Indonesia yang didominasi berada di sekolah swasta. Penguatan itu, kata Hamid, tak lain agar guru BK lebih terdepan dalam melakukan pencegahan, bukan semata menangani anak bermasalah setelah ada kasusnya.

"Salah satunya bagaimana guru BK bisa mengarahkan potensi, energi anak ke arah hal lebih baik, sebagai bentuk preventif daripada nanti muncul masalah baru ditangani," katanya.