Peserta Kontes Robot Indonesia Diingatkan Soal Pendidikan Karakter

Ketua Tim Juri KRI Nasional 2018 Wahidin Wahab (paling kanan) saat memberikan keterangan pers bersama pimpinan UMY, Senin (9/7/2018). - Harian Jogja/Sunartono
13 Juli 2018 15:10 WIB Sunartono Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Peserta Kontes Robot Indonesia (KRI) Nasional 2018 diingatkan soal pentingnya karakter untuk mengimbangi kemajuan teknologi. Karena karakter mulia akan menjadi nakhoda dalam proses pembangunan bangsa.

Direktur Kemahasiswaan Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristekdikti Didin Wahidin meminta kepada para mahasiswa kontestan KRI tidak hanya menjadikan kegiatan itu sebagai pembelajaran pengembangan teknologi, namun juga pembentukan karakter. Mengingat karakter sangat penting untuk mengimbangi perkembangan teknologi yang sedang ditekuni mahasiswa.

Selain itu kompetisi tersebut menuntut para mahasiswa peserta mampu berkomunikasi, bekerja sama secara sportif baik di dalam tim maupun dengan tim lain.

"Mahasiswa harus memiliki karakter mulia sebagai pedoman. Karena di balik kemajuan teknologi dan kesuksesan lainnya harus ada karakter, berpekerti yang baik sebagai nakhoda. Sesuai dengan budaya dan identitas Indonesia untuk membentuk manusia paripurna berakhlak mulia," ucapnya dalam sambutan pembukaan KRI Nasional 2018 di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (12/7/2018).

Didin mengatakan karakter yang sesuai dengan identitas bangsa, akan membantu mahasiswa untuk memiliki kesadaran global. Modal itu sangat penting bagi para peserta KRI Nasional 2018 terutama tim terbaik yang akan menjadi wakil Indonesia dalam ajang kontes robot internasional.

Ia meyakini mahasiswa Indobesia mampu bersaing hingga memenangi kompetisi yang disuguhkan. "Dengan memahami mereka memiliki potensi dan tidak inferior dengan peserta dari negara lainnya," kata dia.

Asisten Bidang Keistimewaan Sekda DIY Didik Purwadi mewakili Gubernur DIY Sri Sultan HB X dalam sambutannya berharap KRI Nasional tidak hanya menjadi ajang mencapai kemenangan. Namun lebih dari itu harus memberikan sumbangsih positif secara luas untuk masyarakat Indonesia.

Ia turut mengingatkan aspek lain yang harus diperhatikan untuk mengimbangi kemajuan teknologi robotika. Antara lain aspek sosial ekonomi yang secara langsung masyarakat akan terkena dampaknya. Sehingga harus ada upaya memberikan pemahaman kepada masyarakat sebenarnya robot tidak akan menggusur kehidupan mereka namun justru akan menjadi peluang baru bagi masyarakat.

"Sesuai dengan peranan teknologi yang bertujuan untuk memberikan manfaat dan kebaikan bagi manusia," ujarnya.

Ia menegaskan selain kompetisi, KRI Nasional harus menjadi sarana pembelajaran bagi setiap orang yang terlibat untuk memajukan pendidikan dan teknologi di Indonesia. Apalagi seiring dengan arus modernisasi di berbagai lini kehidupan, perkembangan teknologi menuntut untuk adanya kemajuan kreatifitas, salah satunya adalah dalam bidang robotika.

"Proses pemikiran kreatif ini yang kemudian mendorong mahasiswa untuk berkompetisi di KRI 2018. Ini juga yang mendorong para ahli robotika untuk mengembangkan teknologi robot yang dapat mempermudah dan memajukan kehidupan manusia," kata dia.

KRI Nasional 2018 mempertandingkan 91 tim terbaik yang merupakan perwakilan dari empat regional seluruh Indonesia. Mereka bertanding untuk lima kategori robot, antara lain, Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI), Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI), Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Humanoid, KRSBI Beroda dan Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI).