Kisruh Suporter, Keluarga Korban Minta Polisi Usut Pentolan Penganiayaan

Anggota Karang Taruna Dusun Balong, Timbulharjo, Sewon siap mengantar almarhum M Iqbal Setyawan ke Makam Balongan, Jumat (27/7/2018). - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
10 Agustus 2018 14:10 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Keluarga korban bentrokan maut suporter mengapresiasi upaya polisi yang sudah menangkap enam tersangka dalam kasus tersebut. Namun pihak keluarga korban berharap polisi bisa mengusut sampai pentolannya yang diduga terlibat.

"Mestinya polisi bisa segera menangkap dalang sesungguhnya dengan cara identifikasi nama laskar kelompok suporter," kata Irwan Suryono, paman korban, saat dihubungi Jumat (10/8/2018).

Irwan adalah paman dari Muhamad Iqbal Setyawan, suporter yang meninggal dunia setelah dianiaya oleh kelompok suporter seusai pertandingan antara PSIM Jogja dan PSS Sleman di Stadion Sultan Agung Bantul, Kamis (26/7/2018) lalu. Iqbal bersama tiga temannya Angga, Edi Nugroho dan Ahmad Sidiq dianiaya karena dianggap suporter lawan dan berada di kerumunan kelompok suporter penganiaya.

Sebelum dianiaya korban dirampas telepon selularnya. Irwan mengatakan telepon selular milik korban diambil oleh salah satu dari enam tersangka. Ia menduga tersangka yang menyita telepon selular itu mengetahui semua yang yang menganiaya korban.

Menurut dia, untuk menangkap pentolan suporter penganiaya, penyidik bisa mengidentifikasi dari keenam tersangka dan nama laskarnya. "Polisi seharusnya mudah untuk menangkap semua pelaku yang terlibat," ujar Irwan.

Sampai saat ini polisi baru menangkap enam tersangka. Keenamnya yakni Wahyu Timur Pribadi (WTP), Lutfan Gian Firdaus (LGF), Muhammad Thoriq Suwandaru (MTS), Rizki Andrianto (RAY), Ferdiansyah Dwiki Kurniawan (FDK), dan Hawinta Akhsani Taqwim (HAT). Tiga dari enam tersangka berstatus mahasiswa, mereka adalah Lutfan Fian Firdaus, Ferdiansyah Dwiki Kurniawan, dan Hawinta Akhsani Taqwim.

Irwan mengaku pihak kelurga tidak ada yang mengenal satu pun dari enam tersangka yang ditangkap. Menurut dia, korban selama ini memang bukan bagian dari pendukung salah satu klub sepak bola baik PSIM maupun PSS. Korban menonton sepak bola karena hobi.

Kasat Reskrim Polres Bantul, AKP Rudy Prabowo mengatakan proses pemeriksaan keenam tersangka masih terus dilakukan. Pihaknya juga masih terus mengembangkan kasus tersebut dan tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka lainnya.

Ia tidak menampik saat ini tengah mendalami pentolan suporter yang diduga ikut terlibat sebagaimana yang terlihat di video yang beredar saat penganiayaan berlangsung, "Di video ada [petinggi pengurus suporter] berpangkat punggawa sedang kami dalami," ujar Rudy.

Pihaknya akan terus mengembangkan bukti. Ia juga meminta masyarakat yang memiliki informasi soal video dan saksi untuk menyampaikan kepada penyidik.

Sementra itu terkait tiga tersangka yang berstatus mahasiswa, Rudy menjelaskan ketiga mahasiswa itu semuanya berasal dari perguruan tinggi swasta (PTS). Sebelumnya Wakapolres Bantul, Kompol Mariska Fendi Susanto mengatakan motif penganiayaan hanya spontanitas tanpa perencanaan.

"Mengetahui korban ada indikasi bagian dari suporter lawan mereka langsung menganiaya. Pengeroyokan dilakukan pakai tangan kosong," ujar Mariska, saat jumpa pers di Markas Polres Bantul, Kamis (9/8/2018) lalu.