Advertisement
Bagai Pisau Bermata Dua, Pembangunan Jadi Ancaman Warisan Cagar Budaya
Tugu Jogja. - Harian Jogja/Holy Kartika N.S
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA-Proses pembangunan yang tidak memperhatikan warisan cagar budaya bisa menjadi ancaman. Penataan ruang dan wilayah diharapkan benar-benar memperhatikan persoalan tersebut.
Kepala Sub Direktorat Warisan Budaya Benda Dunia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Yunus Arbi mengatakan, kerusakan cagar budaya tidak hanya terjadi akibat faktor alam seperti gempa, pelapukan, ataupun letusan gunung berapi. "Proses pembangunan yang tidak memerhatikan masalah warisan dan cagar budaya juga menjadi salah satu ancaman," kata Arbi, Minggu (9/9/2018).
Advertisement
Indonesia, kata Arbi, mengonvensi perlindungan warisan budaya yang diatur UNESCO dalam Konvensi tentang Perlindungan Budaya Dunia dan Warisan Alam (Convention Concerning the Protection of the World Cultural and Natural Heritage) pada 1972. UNESCO juga telah mengingatkan agar masyarakat di seluruh dunia memahami pentingnya warisan budaya dan menyadari kerentanannya.
Pemerintah telah berupaya melestarikan cagar budaya salah satunya dengan pendaftaran cagar budaya. Selain itu, pemerintah juga menetapkan sejumlah kawasan strategis di mana salah satu tujuannya melindungi warisan dan cagar budaya seperti kawasan strategis Candi Borobudur.
BACA JUGA
"Kalau yang ditetapkan sebagai warisan budaya itu sudah menjadi milik masyarakat dunia sehingga perlu dilestarikan bersama," kata Arbi.
Saat ini sudah ada 113 cagar budaya level nasional yang ditetapkan. Untuk melestarikannya, Kemendikbud mengajak generasi milenial dalam program World Heritage Camp Indonesia (WHCI). WHCI digelar sebagai salah satu program pendidikan bagi generasi muda untuk mengenal budaya. Pembelajaran tersebut sangat penting karena mereka merupakan generasi penerus yang akan menjadi bagian dari pengambil kebijakan.
“Kami berharap peserta WHCI bisa menularkan nilai-nilai kebudayaan kepada teman sebaya. Selain itu bisa mengembangkan komunitas-komunitas budaya," katanya.
Sabtu (8/9/2018) sebanyak 45 pelajar dan mahasiswa dari negara-negara anggota ASEAN belajar membuat wayang suket di Rumah Kecebong. Peserta juga didorong untuk memelihara kebudayaan bangsa secara holistik. "Soalnya sering terjadi kesenjangan antara generasi milenal dengan generasi-generasi sebelumnya dalam mempelajari atau memahami kebudayaan," kata Argo Twikromo, Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda Dirjen Kebudayaan Kemendikbud.
Oleh karenanya, lanjut Argo, butuh strategi yang tepat untuk mengajarkan kebudayaan secara holistik pada generasi milenial. Beragam makna kebudayaan perlu diajarkan secara kontekstual sesuai kondisi jaman.
“Warisan kebudayaan yang diajarkan kepada generasi muda bisa diterapkan sesuai perkembangan dan konteks kekinian agar tidak memunculkan kesenjangan,” usulnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Korea Selatan Perpanjang Bebas Biaya Visa hingga Juni 2026
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement




