Goyang Bareng Wolbachia Ajak Masyarakat Dukung Penelitian DBD

Direktur the Special Programme for Research and Training in Tropical Diseases World Health Organization (WHO/TDR), John C Reeder meneliti nyamuk berwolbachia. - Harian Jogja
16 September 2018 05:50 WIB I Ketut Sawitra Mustika Sleman Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Harianjogja.com, SLEMAN- World Mosquito Program (WMP) Jogja menggelar temu wicara dalam acara bernama Goyang Bareng Wolbachia (GBW) di Kafe IKM, UGM, Jumat (14/9). Peran serta masyarakat sangat penting dalam menyukseskan penelitian dan pengendalian demam berdarah dengue (DBD) menggunakan bakteri Wolbachia.

Peneliti utama WMP Jogja Profesor Adi Utarini pada temu wicara itu mengenalkan metode penelitian demam berdarah dengue menggunakan bakteri alami Wolbachia kepada audiens, yang didominasi mahasiswa Kedokteran. Adi Utarini menyampaikan tahapan penelitian yang telah dimulai sejak 2011 secara detail.

“Salah satu hal terpenting dalam penelitian ini adalah kesediaan masyarakat untuk menjadi orang tua asuh telur nyamuk,” jelasnya melalui rilis yang diterima Harianjogja.com, Sabtu (15/9/2018). Tanpa peran serta masyarakat menurutnya, penelitian yang didanai oleh Yayasana Tahija tersebut mustahil terlaksana.

Keterlibatan masyarakat dalam penelitian WMP Jogja bukan merupakan hal instan. WMP Jogja menyadari keberhasilan sebuah riset kesehatan hanya bisa diperoleh apabila penerimaan dan keterlibatan publik diupayakan. Oleh karena itu, berbagai strategi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat diterapkan.

WPM Jogja adalah kegiatan penelitian pengendalian DBD menggunakan bakteri alami Wolbachia yang dilakukan oleh Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMP) UGM. WMP Jogja, yang sebelumnya bernama EDP Jogja, meletakkan ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia di rumah-rumah warga terpilih di Kota Jogja pada periode 2016-2017. Saat ini WMP Jogja tengah memantau nyamuk ber-Wolbachia dan studi dampak aplikasi Wolbachia dalam mengeliminasi kasus DBD di Kota Pelajar.

Koordinator Pengelolaan Pengetahuan dan Penyertaan Masyarakat WMP Jogja Ranggoaini Jahja mengatakan strategi sosialisasi disesuaikan dengan target audiens yang ingin dijangkau. “Pendekatan kreatif dalam sosialisasi banyak kami gunakan saat beraktifitas di Kota Jogja,” jelas perempuan yang akrab disapa Nieke itu.

Penggunaan pendekatan kreatif tersebut ia tempuh untuk menyikapi tingginya populasi dan beragamnya audiens yang hendak dijangkau. Sosialisasi di Kota Jogja tidak akan cukup hanya dengan mengandalkan pertemuan tatap muka seperti yang dilakukan saat beraktivitas di wilayah terbatas di Kabupaten Sleman dan Bantul.

Di Kota Jogja, ia mulai intens memanfaatkan media sebagai penyambung lidah dalam bersosialisasi. Adapun segmen audiens lainnya, lanjut Nieke, dijangkau dengan pendekatan kreatif seperti bekerja sama dengan Pitpaganda, dan memanfaatkan event masyarakat seperti car free day untuk mendirikan laboratorium mini dengan tujuan akhir sama, sosialisasi.

Masyarakat juga diajak terlibat aktif dalam proses sosialisasi, seperti pada pembuatan mural bertema penelitian dan kesehatan. Goyang Bareng Wolbachia merupakan salah satu bentuk pendekatan kreatif yang tengah dijajaki saat ini.

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia