Makanan Banyak Terbuang Percuma, UGM dan Pemerintah Kembangkan Ide Pengolahan Pangan

Fakultas Teknologi Pertanian UGM bersama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Pertanian menandatangani nota kesepahaman untuk mengembangkan usaha pengolahan pangan, Selasa (18/9/2018). - Harian Jogja/I Ketut Sawitra Mustika
18 September 2018 23:50 WIB I Ketut Sawitra Mustika Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Bahan pangan di Indonesia, seperti ikan, sayur dan buah banyak yang dibuang percuma karena membusuk. Hal ini terjadi karena belum berkembangnya usaha pengolahan pangan.

Terkait hal tersebut, Fakultas Teknologi Pertanian UGM bersama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Pertanian menandatangani nota kesepahaman untuk mengembangkan usaha pengolahan pangan.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi mengatakan, saat ini konsumsi ikan di Indonesia baru menyentuh angka 20 kilogram per kapita per tahun.

Sumber makanan utama orang Indonesia masih didominasi padi-padian. Konsumsi protein masih belum cukup baik. Sementara di sisi lain, Kementerian Kelautan dan Perikanan punya target produksi ikan sebanyak 50 kg per kapita per tahun.

"Kalau [Kementerian Kelautan dan Perikanan] bisa produksi 50 kg per kapita per tahun, yang 30 kg ke mana? Sebagian dibuang karena busuk. Karena itu perlu sentuhan teknologi," ujar Agung di acara Lustrum ke-11 Fakultas Teknologi Pertanian UGM di Graha Sabha Pramana, Selasa (18/9/2018).

Dalam acara itu, hadir pula Kepala Badan Riset dan SDM Kementerian Kelautan dan Perikanan Sjarief Widjaja, dan Dekan FTP UGM Profesor Eni Harmayani.

Agung melanjutkan, angka konsumsi buah dan sayuran di Indonesia ada di angka 43 kg per kapita per tahun. Sedangkan jumlah yang direkomendasikan adalah 75 kg per kapita per tahun. Padahal, produksi buah dan sayuran hampir dua kali lipat dari jumlah yang dikonsumsi.

Meskipun jumlah produksi buah dan sayur banyak, dan tingkat konsumsinya masih rendah, Agung mengatakan, ekspor dua komoditas itu masih terbilang sedikit.

"Sisanya kemudian kemana? Inilah [kenapa] perlu mengembangkan teknologi pangan sebagai masa depan pembangunan pertanian. Semoga kerja sama ini jadi momentum besar untuk membangun kedaulatan dan ketahanan pangan," jelasnya.

Sjarief Widjaja menjelaskan, persoalan kedaulatan laut kini sudah terealisasikan. Menurutnya laut Indonesia sudah menjadi milik rakyat Indonesia. Setelah kedaulatan laut dicapai, persoalan selanjutnya adalah mendistribusikan ikan, yang jumlahnya melimpah, kepada konsumen.

"Harus membangun sistem logistik perikanan yang lebih baik, ciptakan pengusaha yang berbisnis ikan, olahan ikan harus ditingkatkan. Setelah hulu dibereskan. Sekarang berbicara tentang hilir sehingga ujungnya konsumsi ikan pada masyarakat meningkat, dan ikan diperoleh dengan kualitas yang baik serta murah. Ini jadi tantangan bersama," jelas Sjarief.

Eni Harmayani mengatakan, FTP UGM berkomitmen dalam pembangunan lintas disiplin agroindustri, termasuk hasil kelautan dan perikanan. Hal ini dibuktikan dengan adanya kuliah umum, yang sedianya akan dihadiri oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (Susi batal memberikan kuliah karena sakit), dan pesta makan 1,3 ton ikan laut.

"Acara ini untuk memasyarakatkan makan ikan. Kecintaan akan makanan sehat dan bergizi perlu pembiasaan. Mudah-mudahan langkah ini bisa menjadikan laut sebagai sumber kesejahteraan di masa depan," ujar Eni.