Ada Landasan Pacu, Perkembangan Terbaru Pembangunan Bandara Kulonprogo

Warga melintas di kawasan pembangunan NYIA di Kecamatan Temon, Kulonoprogo, beberapa waktu lalu. Harian Jogja/Beny Prasetya
23 September 2018 11:50 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO- Pembangunan bandara baru Kulonprogo hingga kini terus dikebut, untuk mencapai target beroperasi pada April tahun depan.

Manajer Operasional Pembangunan NYIA dari PT Pembangunan Perumahan (PP), Andek Prabowo mengungkapkan, saat ini pekerjaan yang dilakukan antara lain soil improvement dan land clearing yang sudah selesai lebih dari 98%. Pekerjaan tersebut menyisakan puluhan makam yang belum direlokasi.

Namun hal itu tidak menjadi alasan PP tidak melanjutkan pekerjaan, karena mereka mengerjakan sejumlah pekerjaan secara paralel. Selain itu, AP I sedang menyelesaikan urusan administrasi dan perizinan relokasi makam. Setelah ini selesai, maka tahapan persiapan selesai menjadi 100%.

Untuk bagian airside (sisi udara), PP mengerjakan landasan pacu, parallel taxiway dan sebagainya yang berupa pekerjaan timbunan biasa dan timbunan pilihan, untuk tahapan ini, progres diklaim mencapai 0,8%. Sedangkan landside (sisi udara) PP masih memproses detailed engineering design (DED) serta trial pondasi bore pile, yang secara fisik sudah berjalan 0,2%.

"Gabungan progres di sisi keduanya menjadi sekitar 0,5% persen. Pada akhir Desember, di internal kami menargetkan pekerjaan mencapai 30%, namun untuk ekternal kami bercita-cita menaikkan target menjadi 43%," ungkapnya, Sabtu (22/9/2018).

Sementara itu, pada akhir Oktober, DED landside secara parsial di bagian bangunan penunjang dan minimum operasional sudah selesai. Sehingga bisa secara frontal mengerjakan sisa proyek secara paralel, tidak seri.

"Sehingga tidak ada ketergantungan resources [sumber daya] satu sama lain," ujarnya.

Pimpinan Proyek NYIA Angkasa Pura I (AP I), Taochid Purnama Hadi mengungkapkan, di NYIA akan ada lima gate, yang nantinya akan dilengkapi dengan ornamen-ornamen yang khas. Nama desa-desa terdampak pembangunan NYIA yang akan menjadi nama gate-gate tersebut antara lain Glagah, Sindutan, Palihan, Kebonrejo, Jangkaran.

Arsitektur dan desain di dalam interior NYIA dibangun menggunakan konsep kearifan lokal, menargetkan gold category green building. Di dindingnya akan penuh dengan ornamen khas Jogja, bentuk bunga melati akan terlihat di area skylight, sehingga bila terkena cahaya matahari menimbulkan bayangan berbentuk bunga melati di lantai.

"Di bagian atap juga ada ornamen berbentuk kawung, bentuk desain kawung ini bukan hanya untuk dilihat dari atas [udara]. Melainkan ada juga bagian di bangunan bawah, bisa terlihat dari terminal," ungkapnya, akhir pekan.

Taochid memaparkan, pihak proyek NYIA optimistis bandara yang dibangun dalam tiga tahapan pembangunan ini bisa mulai beroperasional April 2019. Dalam rencana induk dipaparkan, pada tahap pertama (2018-2026), NYIA akan terbangun dengan landasan pacu sepanjang 3.250 meter, 180.000 meter persegi terminal, 23 stand parkir, mampu melayani 14 juta penumpang.

Pada tahap dua (2027-2036), penumpang yang bisa terlayani sebanyak 20 juta, terminal seluas 235.000 meter persegi dan sudah memiliki 31 stand parkir. Pada tahap ketiga (2037-2046), landasan pacu menjadi total 3.600 meter, terminal 290.000 meter persegi, 37 stand parkir, mampu melayani penumpang sebanyak 25 juta penumpang.

Salah satu pekerjaan yang juga dilakukan dalam membangun NYIA adalah timbunan cutter suction dredger, yaitu menggunakan timbunan Sungai Bogowonto dan Serang untuk mengambil sedimentasi (endapan) di dalam sungai, untuk kebutuhan pembangunan.

"Hal itu menguntungkan sungai, karena dengan mengambil sedimentasi itu maka mencegah pendangkalan. Sehingga sungai terjaga kedalamannya," kata dia.

Juru Bicara Proyek NYIA PT AP I, Kolonel Pnb.Agus Pandu Purnama mengungkapkan, saat ini di area Izin Penetapan Lokasi (IPL) sudah steril tidak ada aktivitas warga yang tidak termonitor oleh pihak proyek dan yang masuk tanpa izin.

"Terlebih saat ini peralatan berat yang bekerja juga semakin banyak," kata dia.

Ia menambahkan, beroperasionalnya NYIA pada April 2019 bukan berarti sudah selesai semua pembangunan di segala sisi. Melainkan, sudah ada pesawat yang bisa dilayani. Apalagi saat ini, pihak Bandar Udara Adisutjipto (ADS) juga sudah mulai menjalin komunikasi dengan maskapai asing. Pada April itu pula, sudah dilakukan pembagian tugas penerbangan antara ADS dan NYIA. Beberapa penerbangan yang sebelumnya dilakukan di ADS akan dipindahkan ke NYIA.