Santri Milenial dalam Bingkai Batik

Para pegawai Sogan Batik Jogja. - ist
10 Oktober 2018 17:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Pada perkembangan saat ini, batik dinilai berpotensi untuk naik ke level global. Sogan Batik berkomitmen tidak hanya menyuguhkan sebuah karya batik saja, tetapi juga menarasikan pesan sejarah Nusantara dan Islam dunia pada setiap koleksi di balik setiap motif batik.

Sebagai buktinya, pada perlehatan Jogja Internasional Batik Biennale 2018, Sogan Batik menampilkan sebuah fashion parade berjudul Sasra Sahasti (santri milenial). "Hal itu mengacu pada Trend Fashion 2018 yang lebih ke Singularity," kata Owner Sogan Batik Iffah M Dewi dalam siaran pers yang diterima Harianjogja.com, Rabu (10/10/2018).

Menurutnya, pesan sejarah Nusantara dan Islam dunia pada setiap koleksi Sogan Batik tersirat dalam setiap motif Batik. Nilai-nilai inilah yang dijadikan pakem utama dalam mengembangkan motif.

"Setiap proses produksi batik baik dari desain, pola, pembatikan, pewarnaan, penjahitan sampai dengan selesai selalu diiringi dengan dzikir. Kebiasaan ini dinamakan dengan Batik ber-dzikir," katanya.

Dalam ajang Jogja Internasional Batik Biennale (JIBB) pekan lalu, ia menampilkan karya yang bercerita tentang Sasra Sahastri, yang artinya santri milenial. Bagaimana menjadi seorang santri di tengah dunia yang saat ini menghadapi era disruption (disrupsi)?

Menurutnya, terjadi banyak perubahan fundamental akibat evolusi teknologi pada kehidupan manusia. Sasra Sahastri, kata Dewi sebuah ajakan agar manusia bijak menghadapi perubahan, bertaqwa, menjauhi laranganNya dan menjalankan perintahNya. "Manusia saat ini harus berkepribadian teguh di tengah pengaruh keterbukaan informasi yang tak berbatas. Menjadi agen perdamaian, menghomati orang lain (Hablum Minannas) apapun madzhab, golongan, agama, budayanya," katanya.

Batik sendiri merupakan tehnik menciptakan motif dengan canthing atau cap dan menggunakan malam (lilin), di mana motif tersebut menjadi media untuk menyampaikan pesan-pesan yang penuh hikmah, kearifan lokal yang menjadi identitas bangsa Indonesia, juga sebagai mensyiarkan Islam dengan cara yang ramah.

Menggunakan Batik tulis khas Jogja dengan warna hitam, merah bata, merah dan kuning. Sogan mengolah elemen-elemen santri milenial ini dalam simbol-simbol motif maupun desain busana. Motif batik yang digunakan adalah motif kreasi baru yang dibuat tahun 2018. Di antaranya, motif canthing aman berbentuk canthing dan kepala canthing yang berbentuk sayap.

Ada juga motif sipat atau sirih empat di mana daun sirih yang mempunyai banyak manfaat dijadikan simbol nasehat empat akhlaq seorang muslim yang harus dijaga. "Motif lainnya Nalain Shareef adalah motif yang terinspirasi dari sandal Nabi Muhammad SAW, terakhir motif Hanacaraka yang kental dengan budayanya," katanya.

Dengan berbagai motif santri milenial tersebut, dia berharap batik semakin disukai oleh masyarakat hingga di belahan dunia. Bagaimana pun prosesnya melibatkan sumber daya manusia lokal sehingga sangat baik untuk pondasi perekonomian lokal Indonesia. "Motif batik penuh dengan nilai-nilai universal sehingga bisa diterima masyarakat dunia," katanya.