46 Desa di DIY Rawan banjir, BPBD Minta Masyarakat Waspada

Ilustrasi banjir. - Bisnis Indonesia/Paulus Tandi Bone
07 Desember 2018 09:50 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY meminta kepada masyarakat untuk meningkatkan kesiagaan yang tinggal di 46 desa rawan banjir di wilayah DIY. Masyarakat diminta secara aktif melakukan pemantauan hingga kesiapan mengungsi jika terjadi curah hujan tinggi.

Kepala BPBD DIY Biwara Yuswantana menjelaskan berdasarkan pemetaan ada 46 desa di DIY yang masuk dalam kategori rawan banjir tinggi. Jumlah itu terdiri atas 21 desa pada tujuh kecamatan di Kulonprogo, 13 desa pada 10 kecamatan di Bantul, sembilan desa pada lima kecamatan di Sleman dan tiga kelurahan di dua kecamatan di Kota Jogja. "Desa-desa itu memiliki titik resiko banjir tinggi berdasarkan analisis resiko," terangnya, Kamis (6/12/2018).

Adapun desa rawan banjir tinggi di Kulonprogo terdiri atas, Wahyuharjo, Ngentakrejo, Jatirejo, Margosari, Wijiroto, Banyumulyo, Pandowan, Kranggan, Karangsewu, Depok, Garongan, Kulwaru, Kaligintung, Sindutan, Karangwuluh, Glagah, Kebonrejo, Temon Kulon, Demen, Ngestiharjo dan Triharjo.

Kemudian 13 desa di Bantul terdiri dari, Sumbermulyo, Banguntapan, Wirokerten, Palbapang, Wukirsari, Ngestiharjo, Triharjo, Caturharjo, Wonokromo, Srihardono, Panjangrejo, Timbulharjo dan Poncosari.

Sebanyak sembilan desa di Sleman antara lain Kalitirto, Tegaltirto, Purwomartani, Tirtomartani, Maguwoharjo, Sendangagung, Sendangarum, Sumberarum dan Sumber Rahayu. Kelurahan rawan banjir tinggi di Kota Jogja ada du tiga kelurahan yaitu Gedongkiwo, Pandeyan dan Warungboto.

Ia mengatakan penentuan 46 desa rawan banjir tinggi itu berdasarkan kajian potensi curah hujan di kawasan tersebut, termasuk peta kerentanan dan kapasitas. Jika hasil dari analisis itu rendah maka kawasan itu termasuk rendah resiko banjirnya. Sebaliknya 46 desa itu termasuk tinggi kerentanannya.

"Upaya penanggulangannya diarahkan ada zona-zona dengan resiko tinggi. Memang perlu adanya kapasitas masyarakat dan infrastruktur di zona tersebut," katanya.

Bewara menegaskan hasil analisis itu memang wilayah Gunungkidul tidak ada yang termasuk rawan banjir tinggi meski tahun 2017 lalu banjir sempat menggenangi SMK Tanjungsari. Alasannya banjir yang terjadi di SMK Tanjungsari, lebih karena dampak siklon cempaka yang membuat curah hujan ekstrim. Sehingga SMK Tanjungsari yang posisinya rendah terkena luapan air. Selain itu air banjir di kawasan itu juga berasal luapan dari sumber di bawah tanah.

"Tetapi untuk kesiapsiagaan dan untuk merespon jika terjadi banjir SMK Tanjungsari sudah dilaunching sebagai Sekolah Siaga Bencana. Begitu juga dengan Desa Kemadang, sudah menjadi Desa Tangguh Bencana," katanya.

Ia mengimbau kepada warga yang tinggal di kawasan rawan banjir untuk meningkatkan kewaspadaan. Tidak ada salahnya jika warga meletakkan barang berharga di tempat aman hingga menyiapkan setiap saat bisa dibawa mengungsi. Selain itu melakukan hal kecil seperti memantau dan membersihkan selokan atau aliran air di lingkungan sekitar tempat tinggal agar bisa mengalir lancar.

"Tak kalah pentingnya memantau prediksi cuaca, curah hujan yang terjadi di wilayahnya, sekarang bisa dipantau lewat medsos atau radio " ucapnya.