Leptospirosis Masih Mengancam, 5 Warga Kulonprogo Tewas Sepanjang 2018

Ilustrasi leptospirosis, - JIBI
08 Januari 2019 10:50 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.comm KULONPROGO- Penyakit Leptospirosis masih menjadi momok bagi masyarakat Kulonprogo. Tercatat sepanjang 2018, dari 26 penderita, lima di antaranya meninggal dunia akibat penyakit tersebut. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kulonprogo, Baning Rahayujati bahkan menyebut jumlah kematian ini mengalami peningkatan dibanding 2017.

"Meski secara jumlah kasus sebenarnya menurun [perbandingan data penderita Leptospirosis di Kulonprogo 2017 dengan 2018] tapi kematian akibat penyakit ini justru meningkat," kata Baning kepada awak media di kantornya, Senin (7/12/2019)

Adapun pada 2017 jumlah penderita Leptospirosis yang terdata Dinas Kesehatan Kulonprogo sebanyak 77 kasus dan mengakibatkan sembilan orang meninggal dunia. Sementara pada 2018 jumlahnya menurun menjadi 26 kasus, akan tetapi meyebabkan kematian lima orang. "Sehingga kalau di kalkulasikan dengan perbandingan yang jumlah kasus dan meninggal, untuk tahun ini lebih banyak," kata Baning.

Baning menjelaskan sebaran penyakit ini berada di seluruh kecamatan di Kulonprogo dengan rentang usia penderita 15 tahun ke atas. Para penderita sebagian besar tertular bakteri Leptospira interrogans di lingkungan persawahan dan ladang. Interaksi langsung dengan hewan penular di lingkungan tersebut terutama tikus menjadi penyebabnya.

"Mayoritas penderita yang berhubungan dengan sawah atau para pencari rumput. Tapi ada juga kasus di daerah pegunungan seperti di Kecamatan Kokap, meski tidak ada sawah tapi juga tetap ditemukan karena berdasar riset, para penderita di daerah itu terkena kencing dari tikus hutan yang terdeteksi mengidap bakteri bakteri leptospira," jelasnya.

Leptospirosis sendiri adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans yang disebarkan melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri ini. Beberapa jenis hewan yang dapat menjadi pembawa penyakit ini adalah anjing, hewan pengerat seperti tikus, dan kelompok hewan ternak seperti sapi atau babi.

Sementara untuk kasus di Kulonprogo, Baning menyebut tikuslah yang menjadi faktor utama. Meski begitu, Baning tetap mengingatkan kepada masyarakat untuk selalu waspada tidak hanya terhadap hewan pengerat tersebut. "Sejauh ini kasus yang kami temukan masih dari penularan akibat kencing tikus. Untuk hewan ternak seperti sapi ataupun kambing belum ditemukan," ujarnya.

Kepada masyarakat, Baning mengimbau agar mengurangi kontak langsung antara kulit dengan barang-barang yang terindikasi terdapat urine tikus. Biasanya, lanjut Baning barang-barang tersebut kerap ditemui di area persawahan dimana habitat hewan pengerat itu tinggal.

"Sebisa bagaimana menghindari kontak langsung dengan tanah atau barang-barang yang terkena kencing tikus, kalau sudah terlanjur langsung membasuh kulit dengan sabun deterjen, atau mandi," jelasnya.

Dijelaskan Baning, orang yang terindikasi terkena penyakit ini di awali dengan demam dan nyeri betis. Jika terlambat diobati maka potensi kematian bagi para penderita sulit terhindarkan. Atas hal itu dia mengimbau kepada masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika mulai merasakan indikasi tersebut.

"Bisa langsung dibawa ke puskesmas untuk disuntik antibiotik, langkah ini masih manjur, tapi kalau sudah terlambat dikhawatirkan bisa gagal ginjal, dan harus menggunakan metode cuci darah. Biasanya ini berlangsung tiga sampai lima hari dari awal demam, jika tidak segera diobati maka penderita sulit tertolong," bebernya.

Sejauh ini upaya Dinas Kesehatan Kulonprogo dalam mengantisipasi penyakit Leptospirosis berupa penyuluhan kepada masyarakat yang dilakukan puskesmas. Selain itu jika terdapat temuan penyakit tersebut maka jaawatan ktu akan melakukan penyelidikan Epidemiologi.

"Karena penyakit ini termasuk potensial Kejadian Luar Biasa [KLB], kalau ada satu kasus ditemukan maka wajib dilakukan penyelidikan epidemiologi. Ini SOP untuk penyakit dalam permenkes. Selain penyakit ini SOP juga berlaku pada temuan DBD, Malaria, Anthrax, Mers, H5N1, H1N1 dan Rabies," jelasnya.

Sementara itu Kepala Dinkes Kulonprogo, dr Bambang Haryatno mengatakan untuk tetap menjaga agar kondisi tetap fit dan terhindar dari penyakit, dia mengimbau kepada masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Cara ini menurutnya ampuh sebagai upaya antisipasi terhadap penyakit.

"Misalnya ada gerakan jumat bersih, itu perlu digalakkan terus," kata Bambang.

Dia mengatakan kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit menular lain seperti DBD yang disebarkan nyamuk Aedes aegypti saat musim hujan seperti sekarang perlu ditingkatkan.

"Biasanya mulai banyak penyakit menular oleh vektor yakni nyamuk. Saya harap masyarakat lakukan antisipasi awal, jangan hanya andalkan Dinkes meski kami juga sudah melakukan upaya antisipasi dengan foging dan penyuluhan," ucapnya.