DPRD Gunungkidul Segera Bahas 3 Raperda Baru, Ini Daftarnya
DPRD Gunungkidul segera membahas tiga Raperda baru tentang rokok, pariwisata, dan jaminan sosial ketenagakerjaan.
Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi (jongkok, dua dari kiri), melihat proses pemetikan lidah buaya di Desa Jeruklegi, Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, Kamis (19/9/2019)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Warga Dusun Jeruklegi, Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, diberikan cara mengolah olahan lidah buaya agar tidak cepat basi. Inovasi ini ditemukan berkat penelitian yang dilakukan Lembaga ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) selama beberapa tahun.
Pemilik kebun lidah buaya, Alan Effendi, mengatakan kebun lidah buaya yang dia kelola dikembangkan sejak 2014. Adapun hasilnya sudah diolah menjadi berbagai makanan seperti dodol dan kripik. Untuk minuman telah dikembangkan minuman kemasan dengan rasa lidah buaya.
Menurut dia, pengolahan khususnya makanan dan minuman sempat terkendala karena produk yang dihasilkan tidak mampu bertahan lama. Sebagai contoh, minuman kemasan lidah buaya hanya bertahan paling lama dua hari. Kondisi ini sangat merugikan karena barang harus laku kalau tidak ingin merugi.
Meski demikian, kata Alan, saat ini sudah ada solusi sehingga minuman yang diolah bisa awet dan tahan selama 30 hari. “Sekarang tidak perlu sehari habis karena minuman aloevera dapat bertahan selama 30 hari,” kata Alan kepada wartawan, Kamis (19/9/2019).
Dia menjelaskan pengembangan olahan lidah buaya agar tidak cepat basi tidak lepas dari penelitian yang dilakukan LIPI di Gunungkidul. Menurut dia, berkat penelitian yang dilakukan ada teknologi yang memungkinkan olahan bisa bertahan lebih lama. “Sekarang inovasi sudah diajarkan ke masyarakat dan mudah-mudahan bisa memberikan manfaat,” ungkapnya.
Untuk pemasaran produk hasil olahan ini sudah dipasarkan ke wilayah Gunungkidul dan Kota Jogja. “Kami bersyukur produk yang dihasilkan bisa diterima. Dengan teknologi agar olahan tidak cepat basi, maka memberikan harapan agar pangsa pasar bisa lebih luas lagi,” katanya.
Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi, yang meninjau lokasi budi daya lidah buaya di Jeruklegi menyatakan pengembangan tanaman ini sangat prospektif dan apabila dikelola dengan baik maka bisa menjadi kawasan agrowisata. “Kebun ini bisa menjadi daya tarik wisata meski basisnya bukan destinasi wisata alam,” katanya.
Immawan mengaku berterimakasih kepada LIPI karena membantu dalam upaya pengembangan UMKM di Gunungkidul, salah satunya produk olahan dari lidah buaya. Berkat penelitian yang dilakukan maka warga tidak khawatir karena olahan yang dihasilkan bisa tahan lebih lama. “Kalau lebih awet maka pemasaran akan optimal sehingga upaya meningkatkan kesejahteraan dapat diwujudkan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul segera membahas tiga Raperda baru tentang rokok, pariwisata, dan jaminan sosial ketenagakerjaan.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 7 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal tiap stasiun dan tarif KRL sebesar Rp8.000.
Pemkab Magelang menyiapkan 70 SPKL mobil dan 74 battery swap station untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik dan pariwisata.
PHRI Sleman dan DP3 membangun sistem informasi pemasaran untuk mempertemukan supplier produk lokal dengan pelaku usaha.
Guru di Magelang didorong meningkatkan kompetensi agar adaptif menghadapi generasi digital, AI, dan perubahan karakter peserta didik.
Iran memperingatkan AS-Israel soal serangan baru dan menyebut produksi senjata, pertahanan, serta amunisi naik 2,5 kali lipat.